Mengenal Kisah Marion Dogopia Memajukan Distrik Bouwobado

share on:
Kadistrik Bouwobado, Marion Dogopia (Jubi/Eveerth)

Jayapura, (4/6)—Marion Dogopia adalah nama kepala Distrik pertama setelah Kabupaten Deiyai, Papua, menjadi Kabupaten sendiri dilantik pada 19 September 2009, bersama 200 orang dilingkungan Pemerintah Kabupaten Deiyai, di Aula Kingmi Waghete, kini dirinya bertekad membangun daerahnya.
Berbicara Kabupaten Deiyai memiliki keunikan dalam penempatan Distrik. Kabupaten ini dimekarkan  berdasarkan UU Nomor.55 tahun 2008. Ketikan itu pula terpisah dengan kabupaten Paniai sebagai kabupaten induk.

Kabupaten  Paniai telah mempersiapkan perangkat pemerintahan distrik sebelum dimekarkan, diantaranya Distrik Kapiraya, Distrik Bouwobado, Distrik Tigi Barat, Distrik Tigi dan Distrik Tigi Timur. Tepatnya tanggal 26 Mei 2008 sejak ditetapkan UU Nomor 55 Tahun 2009 saat itulah kelima Distrik itu menjadi wilayah Kabupaten Deiyai.

Distrik Bouwobado dimekarkan tahun 2003, bersama 9 Distrik yang lain. Kepala perwakilan pertama di Distrik itu ayahnya kandungnya yang  dikenal dengan nama Piet  Dogopia. Pemerintahan berjalan terus hingga dilantiknya Naftali Tobay, S.Sos (2005-2009). Sedangkanya Marion Dogopia adalah kepala Distrik pertama setelah Kabupaten Deiyai menjadi Kabupaten sendiri dilantik pada 19 September 2009, bersama 200 orang dilingkungan pemkab Deiyai di Aula Kingmi Waghete.

Berbicara Distrik yang satu ini menurut Marion sangat rumit. Soalnya gunung Kaitaka membatasi ruang gerak pemerintah Kabupaten Deiyai guna memajukan distrik tersebut. Gunung tersebut boleh dikata gunung yang memiliki nilai-nilai mitos oleh warga setempat dan ketinggiannya mencapai 25 ribu meter diatas permukaan air laut.

Marion Dogopia menceritakan sepak terjang perjalan menuju Bouwobado, kepala Distrik harus melewati kabupaten Mimika jika hendak bepergian ke tempat tugas.  Kondisi alam selalu melintasi dipandanganku. “tak bisa jalan kaki dari Timika ke Bouwobado,” paparnya.

Solusinya, kata pimpinan kepala wilayah itu adalah harus ditempuh melalui sejumlah kali. Dimana, Kali Iripau sebagai pelabuhan  menuju kampus biru kali Tapare (daka), Mimige, berakhir di dermaga Atapo (Kokonau) distrik Mimika Barat. Tidak hanya di kali itu namun masih ada perjalan menuju pusat pemerintahan yakni melalui kali Tapare dan Mimige, dalam bahasa Mee disebut kali Yewaa dan kali Dakaa. Lanjut perjalanan akan tembus di kali Yepo, Dogomo hingga di pusat ibukota Distrik Bouwobado.

Marion Dogopia yang mantan Sekretaris Pribadi Asisten I Kabupaten Paniai itu menguraikan lebih jauh,  perjalanan yang menghabiskan 4-5 jam itu 800 liter bensin campur. “Bisa tempat dalam sekian jam jika cuaca alam menjanjikan kalau tidak harus bermalam di Kokonau,” ungkapnya merenungkan pengalamannya.

Pemerintah kampung sebagai perpanjangan pemerintahan distrik disana terdapat 3 Kampung, Kampung Kopai I, Kampung Kopai II dan kampung Wogee.  Suku Mee dan Moni sebagai penghuni alam disana. Alam yang kaya dengan potensi bumi itu sesuai data BPS tahun 2011, 7.546. ribu jiwa manusia.

Penyelenggarahan penduduk tidak lepas dari sejumlah bidang pemerintahan lain.  Yakni bidang Pendidikan dan Kesehatan. Hingga saat ini belum ada gedung sekolah. Di tahun 2011 sudah ada rencana pembangunan  Sekolah Dasar (SD), namun belum berjalan dengan maksimal, dengan kata lain mubasir.  Bidang kesehatan sudah ada Puskesmas pembantu namun tidak berjalan dengan baik, sekalipun ada petugas namun mengingat medan para petugas  jarang ke tempat tugas.

Guna merobek kondisi wilayah kekuasaannya,  Marion Dogopia yang juga anak negeri Bouwobado kini tengah berupaya mendekatkan diri kepada para kepala pimpinan Satuan kerja Dinas (SKPD)  melalui program-program tahunan. “kalau di tahun 2010 saya ke tempat tugas mengunakan transportasi sewaan berupa speeadbooath,  di tahun 2011 saya bisa mengunakan speedboath plat merah(red.dinas),”terangnya mengisahkan masa lalu, seraya menambahkan program yang terus berjuang adalah pembukaan infrastruktur. (Jubi/Eveerth Joumilena)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Mengenal Kisah Marion Dogopia Memajukan Distrik Bouwobado