PERSIPURA Etalase Etnis : Sebuah Refleksi dan Prediksi

share on:
Benny Jensenem(Jubi/ist)

Oleh : Benny Yensenem

 

Jayapura, (7/6)–Deskripsi : Etalase adalah sarana yang digunakan untuk mengoleksi atau meletakkan barang yang ditawarkan kepada konsumen. Secara umum etalase berfungsi sebagai tempat mengenalkan dan menawarkan sesuatu produk. Produk atau barang apa saja yang ditawarkan  diharapkan bisa menarik bagi banyak orang dan layak untuk dijual.

Sejak tahun enampuluhan, ketika terjadi perobahan politik di Tanah Papua di mana banyak orang dibelahan bumi sebelah barat nusantara tidak mengetahui manusia Papua itu seperti apa, maka Persipuralah yang menjadi etalase untuk membawa, mengenalkan dan mengangkat harkat orang Papua kedunia sekuler.

Papua yang semula dianggap terbelakang, ternyata tidak seperti yang digambarkan, dia memiliki sumberdaya manusia yang mampu melabrak dunia international sekalipun masih disatu bidang saja. Dalam perkembangannya, perlahan bagai air yang mengalir turun dari perbukitan, Persipura tampil sebagai duta dan sebagai sebuah  komoditi yang layak diperhitungkan. Kemudian  orang mulai mengenal karakter dan potensi sumber daya manusia Papua yang mampu bersaing di berbagai bidang.

Didalam etalase Persipura, berbagai potensi yang semula tidak dikenal mulai dilirik dan bahkan dijadikan cover (pembungkus) untuk melariskan sebuah produk . Banyak kawan-kawan yang mengikuti kuliah atau sedang berada diluar tanah Papua dalam program dinas/instansi, juga mendapat berkat atau keuntungan lain  karena  berada dalam wadah etalase tersebut. Persipura sudah menjadi sebuah merk yang pasti melariskan produk apa saja atau barang yang akan di jual.

Pertanyaannya, bagaimana jikalau etalase ini buram dan atau pecah.

Mengerikan, jikalau etalase ini pecah…mudah-mudahan tak terjadi dan hanya pudar saja. Sebagai seorang mantan pemain, saya mencoba mengajak masyarakat pencinta khusus orang Papua untuk tidak hanya memberikan suport ketika menang tetapi berubah anarkhis ketika Persipura kalah. Bahwa membangun sebuah tim seraksasa Persipura, bukan hanya membutuhkan manajemen yang baik tetapi masyarakatnya juga harus baik, karena apa? Persipura ini akan dibawa keluar negeri, artinya, jikalau etalase ini ketika diletakkan sejajar dengan etalase bangsa lain, maka produk yang ada didalamnya juga harus produk yang bagus, laku dijual. Sebaliknya, kalau barangnya bagus tetapi etalasenya yang buram maka etalasenya perlu dibersihkan supaya tetap bersih dan mampu bersaing. Ingat, bahwa suatu ketika kita akan juga menjadi tuan rumah untuk suatu even international. Bagaimana jadinya kalau kita bertindak anarkhis kepada lawan yang baru datang untuk pertama kali di tanah Papua.

Sejarah pasionis Papua merupakan filosofi yang mengkristalisasikan semangat dan perjuangan setiap pemuda.

Jayapura merupakan ibukota provinsi Irian-Barat/Irian-Jaya, merupakan kota satelit di mana hampir semua anak papua yang cerdas berkumpul dari berbagai daerah untuk mengejar cita-citanya, karena hanya di Jayapura terdapat sekolah tinggi, kantor pusat (Gubernur) yang memutuskan berbagai hal untuk kemajuan tanah Papua. Jadi semua kekuatan bertumpu secara kolektif  di Jayapura, baik cabang olah-raga maupun kesenian dan kekuatan sosial lainnya. Rasanya ketinggalan jaman kalau tidak berada di Jayapura pada saat itu.

Dengan demikian maka hampir semua putra Papua berpotensi baik Olahraga, musik maupun pendidikan semua bermuara di Jayapura dan semua output dari Jayapura menjadi pemimpin diberbagai bidang, baik Institusi Formal maupun non Formal. Berbagai potensi lokaal baik Olahraga, Kesenian maupun budaya papua lainnya dibangun dan dibentuk di Jayapura.   Kita ingat ada  Group musik traditional Man-nyouri , Mambesak, Group Band musik modern The Black Brothers dan Cabang Olahraga yang menelorkan atlit-atlit luarbiasa lempar, tolak-lari dilintasan track, panggung-panggung tinju, Olahraga bela diri seperti judo, karate, dayung, panahan sampai angkat berat dan bina raga dll. Semua anak papua yang terpilih untuk bertarung mewakili rakyat tanah papua hanya memiliki satu cita-cita yaitu Menyumbangkan sebuah kemenangan sebagai kompensasi atas hak politik bangsanya yang terpasung. Peristiwa Pepera sangat menorehkan rasa duka berkepanjangan karena cita-cita etnis bangsa  Papua terpasung,  Peristiwa tersebut membakar dan penderitaannya yang diexpresikan lewat perjuangan mengalahkan lawan tandingnya. Sebagaimana perasaan itu diungkapkanBob Marley yang berteriak lewat syair-syair lagu berirama Ragea untuk menyatakan kepada dunia luar betapa menderitanya mereka.

Kesimpulan : Persipura menjadi sangat luar-biasa karena dulu dia merupakan sebuah kekuatan kolektif atau  bersama. Persipura adalah sebuah etalasi berjalan, di mana nama Orang Papua diusung mengelilingi Indonesia sehingga setiap pemain yang terpilih tidak mempunyai alasan lain, kecuali bertanding habis-habisan.

Sekarang ini Jayapura sudah bukan menjadi satelitnya orang Papua, sudah ada ibukota provinsi Papua Barat, dan di sana sudah ada beberapa institusi baik formal maupun non formal sebagai wadah di mana anak daerah di kepala burung dapat berkolaborasi tanpa harus jauh-jauh mencari lagi keJayapura alias, kekuatan primordial sudah terbagi-bagi. Banyak calon-calon pemain/ atlit muda yang berpotensi memilih keluar Papua dari pada tidak mendapat tempat di tanah Papua. Secara singkat saya mengurutkan beberapa nama pemain yang berasal dari daerah kepala burung yang telah memperkuat/menjayakan  Persipura, antara lain, Dominggus-Naay, Jacob-Egana, Benny Jensenem, Jacobus-Mobilala, , Johanes-Aury, Marthen Jopary, Decky- Kewoy, Metu-Dwaramury, Yotam-Fonataba, Izaak-Fatary, Ronny-Wabia, Ortisan-Solosa, Eduard-Isir, Boas-Solosa dll. belum termasuk yang berasal dari Kabupaten Teluk Cendrawasih dan beberapa dari Selatan tanah Papua yang menyatu di Jayapura.

Semua pemain ini mengalami masa kompetisi lokal yang sangat panjang dengan benturan-benturan fisik alamiah membuat mereka ketika teripilih menjadi pemain Persipura, sudah matang dan siap dengan koleksi jam terbang yang banyak.

Kini kita memasuki satu era yang akan sangat berat bagi Persipura, dalam hal pencarian pemain berpotensi untuk meneruskan kejayaan kita, antara lain disebabkan karena bebarapa faktor, yaitu :

– Banyak calon pemain potensi sudah tidak fokus ke Jayapura, kita tidak membangun institusi permanent untuk melakukan seleksi alamiah secara kontinue lewat kompetisi sehingga menghindari pemain karbitan, Setiap Kabupaten  membentuk tim/keseblasan untuk membela daerahnya, kita tidak punya kriteria dan SOP/Standart Operasion Prosedure untuk menetapkan seorang pemain dapat terpilih, halmana akan mengakibatkan ‘’Banyak bibit tetapi tidak memiliki kwalifikasi sebagai pemain yang siap berperang’’. Kalaupun kita berupaya untuk mengkandangkan pemain terseleksi lewat kompetisi singkat, akan menjadi pertanyaan :’’Mampukah kita meng-upgrade para pemain muda dalam waktu singkat untuk disiapkan berperang’’ dan akhirnya akan sampai pada satu pertanyaan besar ‘’Apakah benar Papua merupakan gudang pemain yang tidak ada habisnya dan mampukah Persipura tetap menjadi etalase orang Papua di mata bangsa indonesia………………Qua vadis?

(Penulis adalah mantan pemain Persipura dan Ketua Asosiasi Mantan Pemain Persipura/AMPP).

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  PERSIPURA Etalase Etnis : Sebuah Refleksi dan Prediksi