Ulat Sagu, Gurih dan Kaya Protein

share on:
Sate ulat sagu (indonesia-tourism.com)

Jayapura, (23/6)—Sulit membayangkan ulat sebagai makanan untuk dikonsumsi sehari-hari. Bukan tak mungkin  membayangkan hal ini akan mengganggu nafsu makan kita atau bahkan melenyapkan nafsu makan karena rasa jijik yang timbul. Namun ternyata, tidak semua ulat harus dibayangkan sebagai sesuatu yang menjijikan. Salah satunya adalah ulat sagu yang nama latinnya Rhynchophorus ferruginenus.

Ulat sagu adalah larva dari kumbang merah kelapa. Sebagai sumber protein ulat sagu bisa dijadikan bahan subsitusi pakan ternak atau juga lauk bergizi yang bebas kolesterol. Kandungan protein ulat sagu sekitar 9,34%, sedangkan  pakan berbahan utama ulat sagu sekitar 27,77%. Selain kandungan protein yang cukup tinggi, ulat sagu juga mengandung beberapa asam amino esensial, seperti asam aspartat (1,84%), asam glutamat (2,72%), tirosin (1,87%), lisin (1,97%), dan methionin (1,07%).

Mungkin telah ratusan tahun, sejak Orang Papua mendiami dataran yang bernama New Guinea ini, ulat sagu telah dikonsumsi oleh orang asli Papua. Tidak ada yang tahu pasti.

Di Papua, ulat sagu didapat dengan cara menebang pohon sagu (setelah dipangkur/diambil sarinya untuk sagu) kemudian batangnya dibiarkan membusuk. Dari batang pohon sagu yang membusuk itu akan muncul ulat. Pohon yang telah membusuk tersebut dibuka/dihancurkan Untuk mengambil ulat -ulat yang ada.

Dalam beberapa kelompok masyarakat di Papua, ulat sagu biasanya dimasukkan ke dalam sagu yang akan dibakar sebagai isinya, sebagaimana kacang hijau dalam Onde-Onde, abon dalam lemper atau gula merah dalam klepon. Selain rasanya yang lezat, diyakini juga ulat sagu bisa menjadi makanan suplemen untuk kesehatan. Proteinnya yang tinggi serta tidak mengandung kolesterol dan lemak dapat menjadi penambah tenaga.

Selain dimasukkan dalam sagu yang dibakar, ulat sagu juga dapat dibakar langsung untuk dikonsumsi. Biasanya, ulat sagu itu ditusuk seperti sate lalu dibakar (diasar/asap) hingga matang. Ulat sagu yang mengkerut setelah dibakar ini meninggalkan rasa gurih di lidah karena protein yang lumer dalam tubuh ulat tersebut setalah dibakar. Bagian kepalanya yang renyah mengingatkan kita pada rasa kulit ari jagung yang dibakar.

Pilihan lain selain dibakar, ulat sagu digoreng hingga gurih sebelum dikonsumsi. Juga nikmat dibuat sambal ulat sagu yang pedas dan asam menyegarkan. Bagi yang suka atau terbiasa, ulat sagu dapat dimakan mentah atau hidup-hidup.

Namun bagi orang yang biasa alergi dengan makanan yang tidak cocok dengan darahnya, ulat sagu mungkin tidak cocok juga untuk dikonsumsi karena akan menimbulkan alergi yang sama. (Jubi/Victor M)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Ulat Sagu, Gurih dan Kaya Protein