Tantangan Tim Sepakbola PON Papua Meraih Medali Emas

share on:
Yohanes Nabar (pemain PON) ketika menerima sepatu dari Manager PON XVIII, Mesak Manibor, disaksikan Pelatih Ferdinand Fairyo (Jubi/Eveerth)

Jayapura, (30/7) — Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII sudah di depan mata. Tapi  masalah demi masalah, silih berganti menerpa tim sepak bola. KONI Papua sebagai orang tua, terkesan acuh tak acuh. Kelihatannya kurang peduli dalam menopang kesiapan Yorgen Wayega dan kawan-kawan tampil di Riau. .

Agenda try out ke luar Papua terganjal. KONI Papua dibawah kendali Ketua Harian H.E Mackbon, kerjanya menghambat tidak dan pernah mau mendukung. Telinga tim pelatih maupun oficial tim sudah tebal, hanya untuk mendengar seribu satu alasan yang keluar dari mulut manis KONI.

Tim pelatih dibuat pusing tujuh keliling. Program try out yang sudah dirancang sejak jauh hari, akhirnya berantakan. Sejumlah agenda uji coba di dalam dan luar Papua tidak bisa dipenuhi. KONI berat hati membantu, terlebih soal pendanaan.

Tak hanya tim pelatih, official tim malah tambah bingung dan frustasi untuk memikirkan jalan keluar. Puncaknya pemain terlihat sudah sangat jenuh. Kondisi ini tergambar jelas, saat tim menjalani uji coba terakhir melawan tim KNPI Mimika.

Asisten manajer Nico Dimo angkat suara di depan wartawan, karena kesal dan jengkel melihat sikap KONI. Ia bilang para pemain sudah dihinggapi rasa bosan dan jenuh. Akibatnya melawan tim sekelas KNPI Mimika yang boleh dikata beda level, permainan tim tidak berkembang justru hilang arah.

“Pemain sudah dalam taraf kejenuhan yang sangat tinggi setelah melewati 19 pertandingan uji coba lokal. KONI seharusnya buka mata melihat kondisi ini serta bergerak cepat mendukung kelancaran program uji coba ke luar Papua, bukan malah sebaliknya mengulur-ulur waktu,” beber Nico dengan muka serius, belum lama ini di Jayapura.

Omongan Nico memang benar. Soalnya penggemar berat tim Sepakbola PON Papua yang hadir di Stadion Mandala saat melawan KNPI Mimika juga merasakan hal yang sama. Semua pemain dari hati yang dalam jujur akui mereka jenuh dan bosan. Wartawan yang setiap hari tinggal bersama tim juga sependapat, sama saja.

“Bagaimana pemain tidak jenuh dan bosan?. Enam bulan tim dikurung di Hotel Mahkota, tanpa ganti suasana. Disaat cabang-cabang lain sudah try out ke luar Papua, nasib sepak bola malah tidak menentu. Bagaimana mau berharap medali emas, kalau persiapan saja kacau balau. Ingat! PON tinggal menghitung hari,” ucap Reis, wartawan yang selalu makan tidur bersama tim.

Trio pelatih asal Biak yang melatih tim ini belum mendapat lawan yang sepadan. Dari 19 pertandingan uji coba, tim tidak pernah terkalahkan dengan hasil 17 kali menang dan 2 kali draw. Produktifitas mencetak 109 gol serta kebobolan 9 gol.

Pelatih taktik dan strategi Ferdinand Fairyo mengatakan, saat ini tim butuh enam partai uji coba di luar Papua. Alasannya jelas, guna mematangkan kesiapan tim secara menyeluruh sebelum menuju arena perang di Pekan Baru, Riau.

“Hal paling penting saat ini adalah 6 partai uji coba di pulau Jawa dan Sumatera, untuk mematangkan tim sekaligus adaptasi secara menyeluruh,” kata Nando, kepada Tabloidjubi.com, di Jayapura, Senin (30/7).

Dukungan penuh dari KONI sangat dibutuhkan demi merealisasi target medali emas. Kenyataannya, KONI malah tidak pro aktif . Sepak bola sudah menandatangani kontrak medali emas sekaligus siap menutup wajah kontingen Papua yang anjlok prestasi dan turun pada PON empat tahun lalu di Kalimantan Timur.

“Sangat disayangkan belum komunikatif dari ketua harian terhadap kondisi tim sepakbola PON Papua. Sekarang yang dibutuhkan adalah dukungan penuh dari KONI Papua untuk menyelamatkan wajah KONI di PON nanti lewat emas cabor sepakbola. Tapi apa mau dikata, saya tidak tau isi kepala dari KONI sekarang sangat membingungkan dan penuh ketidak-pastian,” demikian Nando merangkum keluh kesah tim.

Sementara itu, sebagai tambahan informasi, Pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari rencana semula tanggal 9 September menjadi 11 September membuat sebagian besar jadwal pertandingan bergeser. Penundaan ini, ada yang maju sebelum tanggal 11 ada pula yang mundur setelah tanggal 11.

“Pada saat pembukaan 11 September tidak ada cabang olahraga yang menggelar pertandingan. Untuk itu, kita berkoordinasi dengan masing-masing cabang apakah mereka akan memajukan jadwal atau memundurkan. Yang jelas, bagi cabang yang finalnya tanggal 20 September jelas tidak bisa mundur melainkan mereka harus maju,” kata Wakil Ketua I PB PON Ahmad Syahrofi, yang dikutip dari Suara Karya usai rapat dengan sejumlah cabang olahraga di KONI Pusat, Jakarta, Rabu (25/7) lalu.

Menurut dia, pembukaan PON harus bergeser karena pada tanggal 9 September Presiden SBY sedang berada di luar negeri. Untuk itu, PB PON harus menyesuaikan dengan menggeser semua jadwal pertandingan yang harus main 11 September menjadi sebelum atau sesudah pembukaan.

Semoga Tim Sepakbola PON Papua bisa menjadi yang terbaik dengan dukungan yang lebih baik dari KONI dan semua masyarakat di Tanah Papua, terutama dalam memperoleh emas dalam cabang olahraga ini, sebagaimana sepakbola telah menjadi handalan tim Papua dalam mendapatkan emas, yang juga menjadi harapan dan kebanggaan masyarakat Papua. (Jubi/Eveerth Joumilena)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Tantangan Tim Sepakbola PON Papua Meraih Medali Emas