Sagu Papua Terancam Punah

share on:
Lahan sagu di pinggiran jalan raya sentani (Jubi/Musa)

Jayapura (27/8) –Pohon sagu yang biasa ditokok (diolah secara tradisional) oleh warga Papua menjadi bahan makanan untuk dikonsumsi sejak dulu sampai saat ini,  kini, terancam punah. Pohon ini terus dibabat oleh pemerintah dan pengusaha untuk membuka pembangunan. Baik pembangunan jalan maupun rumah toko, mall dan pembangunan lainnya.

Masyarakat Papua mengenal sejumlah makanan lokal, seperti sagu, ubi jalar, keladi, singkong, dan pisang. Tetapi hanya dua jenis makanan yang begitu populer, yakni sagu bagi masyarakat pantai dan ubi jalar untuk masyarakat pedalaman. Papua adalah salah satu provinsi di Indonesia dengan potensi sagu terbesar, bahkan terluas di seluruh dunia. Luas lahan sagu 771.716 hektar atau sekitar 85 persen dari luas hutan sagu nasional. Wilayah sebarannya di Waropen Bawah, Sarmi, Asmat, Merauke, Sorong, Jayapura, Manokwari, Bintuni, Inawatan, dan daerah yang belum terinventarisasi. Namun, kini terus ditebang.

Di Jayapura, sagu mulai dibabat pemerintah sejak tahun 1995. Rio Sagisolo, warga perumnas II waena, Abepura, Jayapura, mengatakan sejak tahun 1960-an sampai 1995, kota Abepura penuh hutan sagu. “Ditahun 1995, saya masih kuliah. Saat itu banyak pohon sagu di Abepura,” kata Rio, Rabu (22/8) lalu.

Kala itu, sejak pulang kuliah, selalu mengikuti warga Waena ke hutan sagu untuk menebang dan meramunya menjadi tepung sagu. Warga masih bergantung pada sagu. Saban hari mereka terus ke hutan sagu. Selain meramu, mereka juga memburu burung mambruk dan rusa untuk dikonsumsi. “Pokoknya waktu itu masyarakat suka tokok sagu dan berburu. Tapi, sekarang sudah tidak ada lagi. Karena, lahan yang dulu penuh pohon sagu sudah dibabat habis.”

Kebanyakan pohon sagu dilokasi yang kini disebut daerah kotaraja. Warga sekitar Abepura, kampung Enggros, Tobati dan Nafri sering meramu sagu yang berada disekitar tempat itu. Mereka juga sering memburu burung mambruk dan rusa untuk dimakan. Kini, aktivitas itu sudah tak lagi dilakukan. Memasuki tahun 1995-an keatas, pemerintah mulai membuka lahan untuk pembangunan. Hutan sagu sekitar 500 hektar lebih di Abepura dibabat habis dan ditimbun untuk pembangunan.

Kawasan Waena, pemerintah mulai mengganti hutan sagu menjadi bangunan rumah toko dan rumah sakit. Tempat usaha lainnya juga ikut berdiri. Sementara daerah kotaraja, pemerintah menggantikan dusun sagu menjadi gedung perkantoran dan mall berkelas kakap. Bangunan kantor yang dibanguna dikawasan itu adalah kantor Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Kantor Brigadir Mobil (Brimob) dan kantor Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kota Jayapura serta Gedung Olahraga Kota Jayapura.

Mall kelas kakap juga ikut didirikan pemerintah dan pengusaha dilokasi Abepura hingga ke Kotaraja. Beberapa mall yang dibangun yaitu Saga Mall Abepura, Mega Supermarket Abepura, Regina Mall, Pitza Hut Abepura dan Ramayana Mall Abepura. “Dulu di daerah kantor DPR Kota Jayapura dan Mall Ramayana, banyak pohon sagu. Hutan sagu disekitar tempat itu,” kata Dave Doyapo, warga Abepura.

Dave mengatakan, hutan disekitar kawasan itu ditebang habis oleh pemerintah dan pengusaha. Kini sagu-sagu itu sudah tiada. Pohon sagu yang dulu menghijau dan mudah diperoleh warga kini berubah menjadi mall dan supermarket. Pemerintah tidak hanya membabat habis hutan sagu, kawasan endapan air dan pepohonan penyangga air juga ikut digarap. Sejak tahun 1995, sewaktu ia masih kuliah, saat pulang dari kampus, sering berjalan pepohan sagu. Hanya jalan setapak kala itu.

“Dulu, tempat berdirinya Saga Mall Abepura, banyak sagu dan pohon besar. Lokasi ini merupakan areal resapan air. Daerahnya berawa namun dipaksakan menjadi tanah kering untuk pembangunan,” kata Dave lagi. Sebenarnya, warga melarang pemerintah membuka lahan ini. Karena, tempat itu sebagai kawasan penampung air dan berbukit. Tetapi, pemerintah tetap bersikeras untuk menebang pohon dan sagu demi pembangunan.

Frengki Numberi dari Badan Lingkungan Hidup kota Jayapura mengaku, bangunan saga mall dan sejumlah bangunan rumah dan toko yang dibangun disekitar kawasan itu sudah tepat dan sesuai dengan tata ruang kota. Pembangunan itu sudah memenuhi syarakat yang sudah ditentukan pemerintah. “Bangunan yang ada disekitar tempat itu sudah tepat. Sudah sesuai aturan yang ada. Pohon sagu dan pohon lainnya ditebang demi pembangunan bagi masyarakat,” kata Frengki.

George Awi, ketua Lembaga Masyarakat Adat Port Numbay mengatakan, pembabatan sagu di Abepura, mulai marak dilakukan sejak 1980-an. Sagu yang dulunya diramu oleh warga Nafri, Enggros dan Tobati di kotaraja di sekitar kawasan Kotaraja, kini berubah menjadi bangunan dan pasar. Masyarakat dibeberapa kampung ini sudah tak lagi meramu sagu. Mereka akhirnya beralih profesi menjadi nelayan tak lagi menjadi peramu sagu seperti dulu. “Masyarakat sudah tidak tokok sagu lagi. Karena, sagu-sagu itu sudah habis ditebang,” ujar George.

Pohon sagu masih terus menjadi korban pembangunan sejak tahun 1995 hingga 2012 ini. Di Sentani, Kabupaten Jayapura, saat ini, lahan sagu sekitar satu hektar digusur eksavator milik pengusaha untuk pelebaran jalan. Sejumlah pepohanan sagu disekitar bibir jalan raya disekitar kawasan itu, tumbang kiri-kanan. Sisahanya, menjadi sasaran penimbunan dari alat berat untuk memadatkan tanah. Sebagian diantaranya dibuang ke dalam danau Sentani. Lainnya lagi, dibawa lalu dibuang ke hutan. Pengusaha melakukan pengusuran sagu atas perintah pemerintah guna pelebaran jalan.

Riziard Asaribab, warga Sentani mengatakan, pemerintah melakukan tindakan atas ijin warga. Namun, sebagian warga setuju. Lainnya lagi, tak setuju. “Tapi, menurut saya, tidak papa, karena hanya sedikit. Tetapi, disatu sisi, kedepan sagu ini akan hilang,” kata Riziard.

Data dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Jayapura, luas lahan sagu di Jayapura 38.670 ha, terdiri dari 14.000 ha areal budidaya dan sisanya areal hutan sagu alam. Dari areal ini diperoleh tepung sagu sebanyak 6.546 ton, sebanyak 62,98 persen di antaranya dijadikan stok pangan penduduk kabupaten Jayapura, sisanya untuk bahan makanan penduduk kota Jayapura. Produksi sagu di Papua diperkirakan 1,2 juta ton setiap tahun.

Sementara itu, sekitar 4,8 juta ton sagu terbuang cuma-cuma karena tidak difungsikan. Pokok sagu dibiarkan sampai tua karena pengetahuan mengenai pengelolaan sagu masih terbatas, proses mengambil sari sagu butuh waktu lama dan butuh tenaga yang kuat. Padahal, sagu tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat, tetapi juga digunakan untuk produk industri modern, seperti proses pembuatan kayu lapis, sohun, kerupuk, kue kering, jeli.

Pembabatan sagu tak hanya marak di Jayapura. Tindakan serupa juga berlangsung di Manokwari, Papua Barat. Warga kabupaten Teluk Wondama, Manokwari, selalu menjadi korban kekerasan dari aparat keamanan. Mereka sering dipukuli hingga dibawa ke kantor kepolisian sektor (Polres) Manokwari, untuk diproses lantaran melarang pemerintah menebang pohon sagu guna membuka jalan dan pembangunan lainnya.  Demikian disampaikan Polly Sawaki, Wondama.

Pembangunan di kawasan itu sering mengorbankan pohon sagu. Setiap pembangunan disana sering merusak dusun sagu. Hal ini mengakibatkan warga terus beredebat dan mengamuk dengan aparat keamanan serta pemerintah. Masyarakat selalu menjadi korban kekerasan aparat keamanan.  Selain dipolisi, masalah sagu juga sering dibawa ke Pemerintah Provinsi Papua Barat. Namun, tindak lanjutnya tak jelas.

“Kadang para kepala-kepala desa dan tokoh adat, tokoh pemuda dan agama bawa masalah ini ke pemerintah. Tapi, tindak lanjutnya tidak jelas.” Persoalan ini masih terus berlangsung sampai saat ini.  Tahun 2012 ini, pemerintah menambah pelebaran jalan dan pembangunan perumahan. Kedua pembangunan ini merusak hutan sagu. Dikhawatirkan, beberapa tahun mendatang, sagu di Papua akan punah karena terus ditebang. (Jubi/Abubar)

Tags:
Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Sagu Papua Terancam Punah