Ini Kendala Sastra Tulisan di Papua

share on:
Komunitas Sastra Papua (Jubi/Alfian)

Jayapura (22/10)—Sastra lisan di Papua mendominasi sastra tulisan. Bahkan sastra tulisan masih jauh di bawah permukaan. Sastra tulisan baru muncul setelah tahun 2000, mengapa?

 

Dalam diskusi dan tukar-pendapat dengan Ko’Sapa (Komunitas Sastra Papua) di Padang Bulan, Kota Jayapura, Papua, Senin (22/10) sore menyebutkan, selain jauh dari penerbit, juga tidak ada motivasi untuk menulis.

Ummu Fatimah, salah seorang narasumber dari Kantor Balai Bahasa Provinsi Papua, yang hadir dalam tukar pendapat Ko’Sapa menyebutkan, mengubah budaya lisan ke budaya tulis di Papua, bukan pekerjaan mudah. Tetapi setidaknya, dimulai sekarang dan oleh orang Papua sendiri.

Menurut Ummu, kendala lain untuk memajukan sastra tulisan di Papua adalah tidak adanya aksara seperti di daerah lain di Indonesia seperti Makasar, dan aksara Melayu. “Kalau ada, mungkin terdokumentasi dengan baik. Kesulitan di Papua, tidak ada aksaranya. Syukur sekarang ada SMS to,” kata Ummu, Senin (22/10) sore.

Salah satu peserta Ubud Writers and Readers Festival 2012 di Bali, Aprilla R.A Wayar, yang hadir dalam diskusi tersebut mengatakan, perlu membuka jaringan dengan orang-orang ‘besar’. Menurut Aprilla, yang paling penting bagi penulis, selain rajin membaca, juga selalu menulis dan tidak putus asa.

“Saya mempunyai pengalaman dua kali ditolak oleh penerbit di Yogya. Saya tau mungkin novel itu dinilai ‘separatis’. Tetapi sebagai penulis, saya menulis sesuai dengan apa yang saya lihat, rasa, dan alami,” kata Aprilla, penulis novel Mawar Hitam Tanpa Akar ini.

Sebagai salah satu peserta Ubud Writers and Readers Festival pertama Papua yang menjadi pusat perhatian peserta lainnya di Bali belum lama ini, Aprilla berharap ada teman lain yang giat menggeluti bidang sastra.

Salah satu peserta yang hadir, Angel Flassy, yang juga Pemimpin Tabloid Suara Perempuan Papua, mengatakan, kelemahan utama sastra tulisan di Papua adalah kurangnya minat membaca. “Bagaimana menulis kalau tidak membaca? Kalau kita membaca, kita tahu dari mana kita menilai,” kata Angel.

Sehingga dalam diskusi yang dihadiri beberapa peminat sastra tersebut, Ko’Sapa bersepakat, untuk memajukan sastra tulisan di Papua.

Andy Takiuma, Kordinator Ko’Sapa prihatin dengan perkembangan sastra tulisan di Papua. Karena itu, pihaknya berupaya memajukan sastra tulisan Papua. (Jubi/Timo Marten)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Ini Kendala Sastra Tulisan di Papua