Perjuangan Emsyk Uni Papua Menuju Singapura

share on:
Siswa, Pelatih dan Jajaran Manajemen Emsyk Uni Papua. (Arjuna/Jubi)

Oleh: Petrus Benny Pepuho

Jayapura (30/10) — Sejarah pernah mencatat tim Persipura Jayapura mewakili 1977- 1978 mewakili Indonesia mengikuti kejuaraan di Vietnam Selatan, Saigon. Di sana Persipura meraih juara kedua setelah difinal kalah 2-1 melawan tim tuan rumah. Selanjutnya Persipura mewakili Indonesia di Kings Cup di Thailand.

Tim PON Irian Jaya pada tahun 1992 pernah juga melakukan uji coba internasionalnya ke Australia. Kali ini di akhir tahun 2012 tepatnya tanggal 12 dan 13 oktober 2012 tim Sekolah Sepak Bola (academy) Emsyk Uni Papua kembali mengukur sejarah dalam dunia sepak bola di Papua. Sekolah Sepakbola asal Papua mewakili Indonesia dan Papua melakukan pertandingan ujicoba International.

 

Hal ini berawal dari undangan Fandy Ahmad Akademi (FAA) datang pada bulan Februari tahun 2012, di mana FAA mengharapkan agar kehadiran Emsyk Uni Papua(EUP) di Singapura untuk  melakukan uji coba persahabatan. Pertandingan  dikenal sebagai friendly Match Internasional bertempat di lapangan stadion Safra Tampines Singapura.

 

Mencermati perlunya berbagai uji coba baik lokal maupun internasional bagi kemajuan EUP terlebih mengasah mental bertanding. Gayungpun bersambut, manajemen menerima undangan tersebut.  Berbagai persiapan pun dilakukan, mulai dari pengajuan proposal pendanaan, rekrutmen pemain yang  dilakukan internal EUP hingga penunjukan pelatih dan valuasi program. Semua ini merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi uji coba internasional ini.

 

Memulai kegiatan dengan persiapan tim dan pengajuan Proposal ke sejumlah Perusahaan seperti PT.Freeport Indonesia, Bank Papua, Gubernur Papua, Ketua DPRD Provinsi, Wali Kota Jayapura, Ketua DPRD Kota Jayapura, MRP dan sejumlah Kantor Dinas di lingkungan Provinsi Papua. Begitu pula dengan mengajukan proposal ke sejumlah Perusahaan di Kota Jayapura, mulai dari distributor mobil dan motor, perusahaan Asuransi, Perusahaan Telekomunikasi, sampai kepada media cetak dan media elektronik dilakukan.

 

Sementara itu para pelatih tetap tekun mempersiapkan pemain secara skill, fisik dan mental, berbagai uji coba dilakukan tanpa memilih lawan dengan harapan dapat membentuk karakter tim dan mengetahui kelemahan dan kekuatan diri sendiri.

 

Tidak terasa tanggal pertandingan persahabatan semakin dekat yaitu pada tanggal 11, 13 dan 15 Agustus 2012 semakin dekat. Proposal sudah lebih dari 100 exemplar terdistribusi ke seluruh komponen yang disebutkan di atas. Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Jawaban yang sama kami dapatkan dari satu kantor ke kantor lain dari satu bank ke bank lain, dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Bukan hanya waktu dan tenaga yang terkuras tapi juga uang yang hanya sedikit untuk keluarga juga terpakai untuk transportasi dan makan siang setiap hari.

 

Mengecek dan mengecek proposal yang sudah diajukan, jawaban selalu sama: ”maaf kami belum bisa membantu” dan “maaf tidak terprogram dalam DPA kami” Jawaban ini adalah jawaban yang paling sering kami terima. Hal ini semakin diperburuk saat terjadi kerusuhan tertembaknya aktivis Papua di Perumnas III Waena. Atas situasi yang berkembang maka manejemen memutuskan untuk menunda rencana Friendly Match Internasional tersebut sampai dengan bulan Oktober 2012. Dalam masa penantian itu beberapa pemain mengundurkan diri dengan berbagai macam alasan. Pendidikan, pekerjaan, masa depan, aturan yang terlalu keras dan sebagainya diajukan oleh pemain sehingga terjadi pengunduran diri hingga mencapai setengah dari 18 pemain yang telah dipersiapkan sejak bulan Februari. Bukan hanya pemain saja tetapi hal itu juga terjadi pada pelatih yang mengundurkan diri dengan alasan akan fokus kepada pekerjaan kantor.

 

Halangan dan ujian tersebut tidak mengendorkan semangat kami untuk terus berusaha mencapai mimpi dan merubah orientasi pengurus Sekolah Sepak Bola (SSB) yang hanya puas menjadi juara dan bertanding di dalam negeri saja. Justru tantangan, halangan dan ujian ini membuat kami manejemen semakin termotivasi untuk membuktikan bahwa kami bisa, Papua Pasti Bisa. Lalu diputuskan oleh manajemen setelah melakukan komunikasi ulang dengan pihak FAA di Singapura maka disepakati Friendly Match Internasional diadakan pada bulan Oktober tanggal 12 dan 13. Dengan gerak cepat pelatih, beberapa pemain diganti.

 

Manajemen melakukan rasionalisasi program disana sini termasuk melakukan evaluasi anggaran dan sponsorship. Sampai dengan awal bulan September 2012 seluruh atlet yang berjumlah 18 anak dilakukan penampungan atau Training terpusat yang bermarkas di Mess EUP yang letaknya di samping lapangan sepak Bola EUP di Obhokhouw.

 

Selama bulan September tersebut sejak tanggal 1 sampai dengan 30 manajemen EUP melakukan pergumulan dalam doa pagi dan malam secara sungguh-sungguh selama kurun waktu 30 hari.

 

Makan ala kadarnya, pakaian bekas dan program apa adanya. Yang terpenting seluruh pemain ada dalam satu sikap yaitu semangat untuk go to Singapore. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada tim manapun karena tim sekecil apapun di Kota Jayapura selalu dilengkapi dengan Jersey latihan komplit dan baru serta makanan bergizi tinggi yang akan dikonsumsi para atlit. Hal ini tidak ditemukan pada tim EUP yang dipersiapkan menuju Singapura. Tetapi apa mau dikata, layar telah terkembang pantang surut kembali. Tekad sudah dikumandangkan pantang berbalik.

 

Menuju Singapura

Tanggal 3 Oktober 2012 acara Pelepasan Tim EUP dilaksanakan. Kisah sedih masih mewarnai acara ini. Saat tiba di Singapura, kami disambut oleh duta besar berkuasa penuh untuk Republik Indonesia yang dipertuan agung Mr. Ambazador Andri Hady. Beliau menjemput dan menyediakan waktu khusus menerima kami. Namun ironisnya di tanah sendiri, Gubernur kami menganggap uji coba Internasional yang mempertemukan dua negara sebagai hal yang biasa-biasa saja dengan menunjuk Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Provinsi Papua.

 

Jika saja ada insiden yang memalukan bangsa dan Negara, tentunya Gubernur Papua yang akan ditanya kenapa, bagaimana dan siapa yang melepaskan anak-anak Papua ini keluar Negeri. Aspek ini saja tidak diperhatikan oleh tuan agung Gubernur Papua. Sekali lagi untung saja insiden pengibaran Bintang Kejora ketika Persipura bermain di Australia tidak terjadi, seandainya itu terjadi, siapa yang akan dipermalukan?

 

Syukur Tuhan maha Besar dan maha Penyayang. Dr. James Modouw, MM sebagai Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah raga yang pada saat melepaskan tim EUP memberikan wejangan dan juga arahan untuk mengharumkan nama Papua dan Indonesia serta mengingatkan bahwa EUP tidak mewakili namanya sendiri melainkan seluruh warga Papua. Sekaligus secara spontan memberikan dana bantuan kepada tim EUP guna mendukung terealisasinya program ini karena mendengar laporan manajemen EUP bahwa anak-anak ini mengalami kekurangan dana sebesar 156 juta rupiah  untuk tiket kembali. Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Papua mendonasikan dana Rp.50 juta dan juga Bank BNI Jakarta Rp. 50 juta serta Dikpora Provinsi Papua Rp.100 juta ini yang menjadi penopang terselenggaranya kegiatan internasional friendly match tanggal 12 dan 13 Oktober.

 

Tim EUP berjumlah 18 pemain dan 3 Officcial ( 1 manejer, 1 pelatih dan 1 pembantu umum) berangkat bersama-sama dengan menggunakan Merpati Airline menuju Jakarta pada hari sabtu tanggal 6 Oktober 2012. Sesampainya di Jakarta tim bergerak menuju penampungan yang terletak di Kebun jeruk Jakarta Barat di ruko-ruko pada kawasan/kompleks Intercon yang adalah sumbangan dari pengusaha Kristen asal Jakarta yaitu Pak Susanto yang peduli dengan EUP. Dalam kondisi yang cukup lelah karena perjalanan pesawat yang memakan waktu lebih kurang enam setengah jam Jayapura–Jakarta maka tim langsung istirahat.

 

Keesokan harinya pukul 10.00 WIB tim mengikuti ibadah di gereja berbahasa inggris di Karawaci Universitas Pelita Harapan. Jamuan makan siang dan aktifitas lain –lain bersama masyarakat Kristen di gereja tersebut maka anak-anak diajak menonton film pada Studio 21 Mall Puri Indah, diakhiri dengan makan malam dan anak-anak kembali ke Intercon kompleks penampungan dan beristirahat sampai dengan senin tanggal 8 Oktober 2012. Pada hari senin agenda tim adalah melakukan silaturahmi dan sekaligus permohonan ijin dengan Ketua UmumPSSI Prof. Arifin Djohar. Dalam sambutan dan arahannya Ketum PSSI mengharapkan tim EUP tidak menganggap sepele dengan Friendly Match Internasional ini sebab EUP tidak hanya membawa nama SSB/Akademi saja tetapi juga membawa nama Papua, Indonesia dan PSSI ke laga Internasional.

 

Ketum PSSI juga berharap anak-anak EUP untuk tetap bersemangat dan berdisiplin tinggi dan harus bisa menjaga etika di negara orang sehingga tujuan Friendly Match Internasional ini bukan hanya hasil bagus yang diperoleh tetapi mendapat kesan mendalam berupa simpati masyarakat Singapura secara khusus Mauoun Internasional secara umum. Acara di lanjuntukan dengan foto bersama serta kunjungan dan sosialisasi ke ruangan-ruangan kantor PSSI dan di perkenalkan kepada seluruh jajaran pengurus PSSI kepemimpinan Prof.Arifin Djohar tersebut.

 

Selasa (9/10) tim berangkat menuju ke Singapura dengan menggunakan 2 pesawat yaitu Air Asia dan Tiger Airline. Tepat jam 11 siang waktu Singapura tim tiba di Hostel Ferntloft di jalan Besar kawasan Litle India. Setelah menurunkan barang bawaan tim mencari makan siang sambil berkeliling Kota Singapura sampai dengan malam hari. Tim masih melakukan berbagai kegiatan rekreasi seperti mengunjungi Marina Bay tempat wisata lainnya.

 

Pada hari rabu 10 Oktober 2012 tim masih melanjutukan acara wisata dengan menuju Pulau Buatan Sentosa Island. Hal yang mengejutukan dalam kunjungan ini adalah kenyataan bahwa seluruh jenis tanaman hutan buatan di pulau buatan ini adalah hutan Asli dari tanah Papua. Apabila kita perhatikan lebih jauh maka kita akan melihat hutan ini persis hutan-hutan di sekitar kaki gunung Syklop mulai dari daerah Renawen/Robhong/Bumi Perkemahan Jayapura sampai dengan daerah Kampwolker pada tahun 1980an, hal ini menjadi jelas ketika ada penjelasan dari salah satu Chief Senior pada tim EUP yang tertarik dengan kunjungan tim dalam jumlah besar dan terdiri dari orang- orang keriting dan berkulit hitam.

 

Beliau dengan bahasa Inggris dan sedikit bahasa melayu terbata- bata memperkenalkan diri dan bertanya asal dari mana rombongan ini, yang kemudian di jawab Indonesia from Papua oleh anggota tim. Dengan antusias beliau menjelaskan bahwa hutan buatan ini adalah hasil Budidaya hutan Asli Papua yang sampelnya diambil dari Kaki Gunung Syklop dan Arfak. Maka terkuak jelas teka-teki tentang asal-usul hutan buatan yang mengusik hati kami seluruh tim karena sangat familier dengan hutan yang terlihat sepanjang perjalanan di pulau buatan di Singapura ini.

 

Berbagai fasilitas rekerasi seperti Tower menara, trem, under water dan Lumba-lumba serta anjing laut menjadi menu wisata bagi tim EUP selama berkunjung ke Sentosa Island sambil menikmati makanan kecil dan foto bersama di tugu/patung simbol Negara Singapura yaitu Singa Raksasa atau yang dikenal dengan Merlion.

 

Hari kamis tanggal 11 Oktober 2012 tim melakukan Latihan pagi mulai jam 07.00 sampai dengan jam 09.00 bertempat di lapangan sekolah sport yang bermarkas di Wenfrieds Street, dilanjuntukan dengan makan siang di kedutaan besar Republik Indonesia sekaligus dengan Media Konfrensi dengan media Nasional Singapura. Tim EUP diberi istirahat sampai jam 3 sore waktu Singapura dan menuju stadion sepak bola Serangon untuk melakukan latihan pada sore harinya.

 

Hari Jumat tanggal 12 Oktober 2012 tim melakukan uji coba lapangan di stadium Safra Tampines sekaligus melakukan Ikrar untuk mengharumkan nama Indonesia yang kesemua kegiatan itu di lakukan dokumentasi dalam shooting video oleh Production House (PH) Andi Bahtir Yusuf, setelah melakukan latihan tim bersiap menuju kembali ke kedutaan besar RI untuk jamuan makan siang bersama Duta Besar Berkuasa Penuh untuk Singapura oleh Yang di pertuan Agung Mr.Ambazi Andri Hady beliau dengan antusias menerima dan memberikan wejangan kepada seluruh tim dan Official bahwa EUP telah menjadi Duta Baru bidang olah raga sepak bola yang harus menjaga nama baik dan menjunjung tinggi nilai sportivitas karena masyarakat Singapura adalah masyarakat dengan karakter dan disiplin tinggi serta sangat menjujung tinggi sportivitas maka sangat di harapkan tim EUP pun dapat melakukan hal yang sama sehingga akan mampu merebut simpati dari masyarakat Singapura agar nantinya kedepan kerja sama ini akan terus terjalin karena nilai sportivitas dan beretika yang telah di tunjukan oleh tim, beliau juga secara langsung melepaskan tim untuk dapat berlaga pada malam hari di stadium Bukit Timah.

 

Uji Coba Yang Berbuah Manis

Malam hari jam 07.30 waktu Singapura tim EUP dan Dare To Dream (D2D) yang adalah salah satu tim senior peserta dari Nasional Football League Singapore. Klub ini sering mencetak para pemain Nasional. Saat melawan EUP klub ini diperkuat oleh 2 pemain timnas Singapura, 2 pemain asal Brazil dan 2 Pemain asal Jepang. Pada laga ini tim EUP sedikit gugup pada 20 menit pertama.

 

Namun setelah terbiasa dengan cahaya lampu dan rumput sintetik maka ritme permainan mulai berbalik dari yang awalnya ditekan lawan maka selanjutnya tim EUP berhasil mengendalikan jalannya pertandingan. menit ke 35 babak pertama dengan umpan pendek satu dua sentuhan dari kaki ke kaki akhirnya tim EUP berhasil membobol gawang tim lawan melalui serangan cepat dari sayap kanan dimana sebuah umpan trupass dari Rafel Ohee kepada Nathan Kepno di luar kotak finalti dengan kecepatan tinggi.

 

Nathan Menggiring bola masuk ke sisi kiri gawang serta melakukan shootingan keras dan gol. Bola tidak dapat diantisipasi oleh penjaga gawang asal Brasil skor berubah menjadi 0-1 untuk EUP. Memasuki menit ke 39 kembali jala gawang D2D bergetar kembali, Nathan Kepno menjadi mimpi buruk bagi tim lawan dimana shooting-an keras dari Yance Matindas dari sisi kanan gawang berhasil ditepis oleh penjaga gawang D2D tapi sayang bola mental (rebound) kembali disambar oleh Nathan Kepno dan merubah kedudukan menjadi 0-2 untuk EUP. Skor 0-2 bertahan hingga babak II berakhir dengan kemengan buat EUP.

 

Pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2012 pada pagi hari jam 07.00 waktu Singapura, tim EUP melakukan latihan ringan masih ditempat yang semalam di lakukan partai perdana yaitu stadium Bukit Timah untuk persiapan malam hari bertanding di stadium Safra Tampines. Pada jam 09.00 tim kembali ke Hostel dan beristirsahat serta makan siang sambil menunggu waktu jemputan. Tepat jam 17.00 tim berangkat menuju Satdium Safra Tampines, disana telah berkumpul mahasiswa dan pelajar asal Indonesia, supporter Persib Bandung Bobotoh, warga Indonesia yang bekerja di Singapura dan juga tokoh asal Papua bapak Freddy Numberi (mantan Menteri Perhubungan RI) dan juga saat yang bersamaan sejumlah tokoh-tokoh asal Indonesia seperti Penasehat EUP Bapak E.E . Mangindaan (Menteri Perhubungan RI), Bpk. Andry Hadi (Duta Besar RI) beserta staf, bapak Albert Inkiriwang ( Pelindung EUP) dan petinggi Federasi Assosiasi of Singapura Football (FAS) yang turut hadir pada laga malam itu.

 

Pertandingan di mulai jam 19.30 waktu Singapura, anak-anak Papua terlihat kelelahan akibat waktu recoveri yang sangat singkat, terlihat jelas dari passing-passing dan umpan-umpan yang sering salah, namun memasuki pertengahan babak I arus bola mulai mengalir secara teratur serangan silih berganti dari masing-masing tim dan kedua tim mampu memberikan tekanan yang berarti sehingga pertandingan babak I berjalan dalam ritme dan gaya yang enak di tonton, namun sampai dengan babak I berakhir skor kacamata 0-0.

 

Memasuki babak II beberapa pemain EUP yang sudah terlihat sangat kelelahan dilakukan pergantian oleh pelatih, Yance Rumbino. Serangan mulai menjadi hidup tekanan demi tekanan datang silih berganti, namun belum juga tercipta gol sampai dengan menit ke 86 babak ke II. Tim H20 melalui gelandangnya berhasil memanfaatkan bola rebound yang dengan sekali tendangan keras walaupun sudah ditepis oleh penjaga gawang EUP Enneko Bahabol namun bola meluncur masuk ke dalam gawang dan merubah skor menjadi 1-0 buat H20. Ketegangan mulai meliputi seluruh penonton asal Indonesia tidak terkecuali, teriakan-teriakan yang memberi dukungan tidak datang dari masyarakat Indonesia saja tetapi juga datang dari supporter asal Singapura.

 

Memasuki menit 89 melalui suatu proses yang sama berawal dari sepak pojok di sisi kiri gawang H20 Singapura, bola melambung menuju daerah gawang dan disundul keluar garis kotak 16 tanpa melakukan kontrol lagi (first time) Marshel Kambu melakukan shooting keras ke gawang lawan dan bola sekalipun ditepis tetap saja masuk ke arah pojok kiri gawang H20 dan skor berubah menjadi 1-1. Sampai dengan pluit babak ke II berbunyi, skor tetap 1-1. Berhubung karena pihak panitia telah menyediakan Trophy Juara dan Medali Emas serta Perak bagi laga Friendly Match ini maka partai uji coba ini dilanjuntukan dengan adu finalti. Pada adu finalti ini tim EUP berhasil berturut-turut meciptakan 3 gol. Penendang pertama masing-masing Calus Pepuho, Agung DwiIrianto dan Arnold Patiran, sementara penendang ke 4 Anis Almung gagal mengeksekusi.

 

Sementara dari 4 penendang H20 hanya satu pemain yang berhasil menyarangkan bola ke gawang Enneko Bahabol sementara 2 bola berhasil di tepis dan satu bola melenceng di atas mistar gawang. Dengan demikian skor akhir 2-4 bagi kemenangan EUP dan dilakukan penyerahan Piala dan Medali serta dilakukan tukar menukar cindera mata, dimana EUP memyerahkan Bendera EUP dan Tifa dengan tulisan Academy Emsyk Uni Papua bagi panitia pelaksana Friendly Match Internasional ini. Dengan demikian kembali sejarah baru mencatat bahwa salah satu sekolah Sepak Bola/Akademy Emsyk Uni Papua mampu menunjukan kualitas pembinaan secara berjenjang baik di dalam negeri maupun sampai ke tingkat Asia atau ke luar Negeri.

 

Maka terkuak jelas teka-teki tentang asal-usul hutan buatan yang mengusik hati kami seluruh tim karena sangat familier dengan hutan yang terlihat sepanjang perjalanan di pulau buatan di Singapura ini.

 

Kembali Ke Papua Dengan Kepala Tegak

Minggu (14/10) jam 17.00 waktu Singapura tim EUP meninggalkan Bandara Internasional Changi Di Singapura dan menuju Jakarta. Keesokan harinya senin 15 Oktober 2012 kembali tim melaporkan hasil Friendly Match Internasional ini ke PSSI yang di terima oleh Wakil Sekjen bapak Andriansah sekaligus tim EUP pamitan untuk kembali keesokan harinya ke Papua.

Bersamaan dengan keberhasilan tim EUP melakukan Friendly Match Internasional dengan hasil yang memuaskan ini maka dampak yang muncul adalah :

1. Adanya undangan Negara seperti Portugal, Australia dan Singapura sendiri;

2. Undangan Mewakili Indonesia pada ajang internasional yang mempertemukan Malaysia, Thailand, Singapura dan Indonesia dengan kelompok usia 13, 15 dan 18 tahun;

3. Permintaan pemain antara 5-7 pemain untuk bergabung dengan klub di S-liga. Demikian laporan pandangan mata Tour EUP ke Singapura dari tanggal 6 – 17 Oktober 2012, sekaligus Hadiah hari jadi istimewa yang ke-9 bagi EUP tanggal 17 Oktober 2012.

 

(Penulis Adalalah Direktur Emsyk Uni Papua)

 

 

 

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Perjuangan Emsyk Uni Papua Menuju Singapura