“Saya Takut Kopassus!”

share on:
Para pengungsi di tempat pengungsian mereka (Elsham Papua)

Jayapura, (17/11)—Para pengungsi dari 3 kampung di Keerom ini tak berani kembali ke kampungnya, karena trauma dengan pasukan keamanan yang datang dan menembaki kampung mereka. Mereka juga kecewa dengan pemerintah kabupaten Keerom karena tak mampu menjamin keselamatan warganya. Hingga kini, mereka masih berada di hutan tanpa makanan yang layak dan obat-obatan yang memadai.

“Saya takut Kopassus (Komando Pasukan Khusus)! Saya melihat mereka datang dengan senjata mereka, masuk ke PIR III dan mulai menembak. Jadi saya takut pergi ke sekolah,” kata CK (17) yang melarikan diri dan terpaksa tidak bersekolah karena dia tidak merasa aman lagi akibat tindakan intimidasi oleh pasukan keamanan yang terjadi di kampungnya. Pengakuan CK ini diungkapkannya pada Elsham Papua, sebagaimana diberitakan oleh Elsham News Service, 16/11.

Sedangkan NY (8 thn), mengungkapkan ketakutan yang sama seperti CK. Ia mengatakan dengan suara ketakutan, jika dirinya sangat takut saat melihat helikopter tentara terbang di atas kampung mereka. Pihak TNI sendiri pernah membantah jika penyisiran yang dilakukan menggunakan helikopter. Menurut TNI, helikopter yang lalu lalang di Keerom adalah dalam rangka droping logistik. TNI, melalui Dandim 1701 Jayapura yang saat itu dijabat oleh Letkol. Inf. Rano Tilaar, juga membantah adanya penyisiran yang dilakukan TNI. “Dalam melakukan pengejaran terhadap Kelompok Lamberth Pekikir pihak TNI tidak melaksanakan kegiatan penyisiran dan sweeping apalagi razia-razia dari rumah kerumah.” ujar Dandim saat itu kepada wartawan.

Salah satu warga dewasa yang mengungsi, MT (38) kepada Elsham Papua, enyatakan kekecewaannya terhadap pemerintah daerah Kabupaten Keerom yang tidak mampu untuk menjamin keselamatan dan keamanan bagi penduduk asli Papua di Keerom.
“Saya marah karena pejabat tinggi, pejabat pemerintah daerah, bupati, ulama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama, tidak peduli dengan kami di hutan ini. Saya takut ketika saya melihat petugas polisi, mereka pergi ke desa-desa dan mereka hanya mulai menembak. Saya takut jadi saya harus lari ke hutan.”katanya sambil menangis.

Para pengungsi berharap ELSHAM Papua bisa membawa mereka kembali ke kampung mereka masing-masing. “Natal sudah dekat, kami tidak mampu mengumpulkan uang untuk perayaan. Anak-anak tidak bersekolah selama lima bulan. Jadi kita benar-benar berharap bahwa ELSHAM dapat membantu kami sehingga kami bisa kembali ke desa kami,” ujar FK (50).

Sebagaimana pemberitaan sebelumnya, 38 penduduk dari 3 kampung di Keerom telah mengungsi karena mereka takut operasi sweeping yang terus menerus dilakukan oleh militer Indonesia dan pasukan gabungan polisi di Keerom, paska penembakan Yohanes Yanuprom, kepala desa Sawyatami pada 1 Juli 2012. (Jubi/Victor Mambor)

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  “Saya Takut Kopassus!”