Monteiro Berharap Ada Konsolidasi Organisasi Perempuan Papua

share on:
CAROLINA MONTEIRO (WWW.FACEBOOK.COM)

Jakarta (26/11) —– Dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Internasional yang jatuh pada (25/11) lalu, Caroline Monteiro dari Peace Women Across the Globe Indonesia berharap ada konsolidasi organisasi perempuan di Papua. Hal ini disampaikan saat ditemui tabloidjubi.com hari ini, Selasa (27/11) di Jakarta.

“Sebenarnya yang paling susah dari Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan itu adalah bagaimana melibatkan lebih banyak orang untuk mengerti maksud hari tersebut. Apa sebenarnya kampanye 16 hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan itu? Karena kita yang selama ini terlibat sudah mengerti tetapi masyarakat secara luas belum benar-benar paham,” demikian kata Monteir0.

Monteir0 mengatakan, pihaknya saat ini sedang berbicara tentang bagaimana mengurangi angka kekerasan yang masih tinggi. Kalau membaca angka kekerasan dari Komnas Perempuan misalnya, angka kekerasan masih tinggi dan itu tidak dapat dipungkiri meskipun sudah cukup banyak undang-undang yang mendukung. Salah satunya adalah Undang-Undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) itu sudah ada tetapi sejauh mana itu diimplementasikan oleh pemerintah, baik itu Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah yang masih kita ragu-ragu. Infrastruktur yang mendukung korban juga belum terlalu banyak.

“Jadi, bagaimana kita melibatkan masyarakat supaya dapat mendukung isu itu adalah pekerjaan berat. Nah, sekarang yang paling gampang dilakukan adalah kampanye di sosial media seperti di facebook, twitter dan kita pakai itu. Itupun kita hanya bisa membangunkan masa ‘dunia maya’ walau mereka pun tidak akan melakukan sesuatu yang nyata tetapi paling tidak dapat membuat social awareness soal masih banyaknya kasus kekerasan dan bagaimana masyarakat bisa mendukung. Contohnya kalau ada tetangga yang dipukuli suaminya, sebenarnya masyarakat bisa mengadukan hal tersebut ke polisi kalau mereka mau mendukung tetapi kebanyakan orang masih takut. Nah, itu yang hendak kami dorong dengan menggunakan sosial media dengan maksimal walau banyak kekurangannya karena kontennya menjadi sangat lemah. Seperti, stop kekerasan saja seperti itu padahal ‘setiap hari gue digebukin ma laki gue’, itu susahnya seperti itu karena tidak bisa diukur keberhasilannya. Apakah masyarakat mengerti pesan kita walau kedalaman dari isi pesannya juga harus kita pikirkan,” kata salah satu penulis dalam buku 7 Perempuan Urban ini.

Hal yang harus dipikirkan adalah bagaimana kita membuat strategi-strategi baru seperti di Jakarta saat ini, kita memiliki Aliansi Laki-laki Baru (ALB) yaitu aliansi yang mengumpulkan laki-laki yang mendukung gerakan perempuan. Bagaimana secara optimal, kita bersosialisasi dan berdiskusi dengan laki-laki untuk mencari konsep-konsep baru bagaimana laki-laki bias berpartisipasi untuk mengurangi kekerasan. Dengan sudah melibatkan lebih banyak laki-laki, tokoh laki-laki untik mengerti isu jender. Apakah nanti ada workshop laki-laki atau mencari definisi maskulinitas yang baru, yang sesuai konteks saat ini atau seperti Papua mungkin ada seni atau kesenian atau budaya lokal yang kira-kira bagus, mungkin itu bisa dicari celahnya, mungkin bisa dimasukkan ke dalam.

“Kalau untuk Papua, harapan aku sendiri secara pribadi semoga di Papua lebih banyak konsolidasi diantara organisasi perempuan di sana karena isu yang kita hadapi selama dua puluh tahun terakhir masih sama, tidak terlalu banyak perubahan soal kekerasan terhadap perempuan seperti pemerkosaan, kekerasan domestik. Strategi seperti itu memang masih jarang dipakai oleh gerakan perempuandan media-media baru perlu mendukung kesetaraan jender dalam konteks lokal. (JUBI/Aprila Wayar)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Monteiro Berharap Ada Konsolidasi Organisasi Perempuan Papua