Sepakbola Papua Butuh Investor Bukan Pemimpin Politik

share on:
Richard Fere, saatnya klub-klub sepakbola di Papua lepas dari pengaruh politik(Jubi/dam)

Jayapura,(29/12)- Mantan striker Persipura era 1980 an Ricard Fere mengingatkan agar klub sepak bola di Papua sudah harus mencari investor dan jangan tergantung kepada pimpinan politik yang memegang jabatan di Kabupaten maupun Kota.

“ Kondisi ini yang memprihatinkan sehingga sepakbola masuk ke dalam ranah politik mengakibatkan adanya dualisme dalam sepakbola di Indonesia,”kata Richard Fere kepada tabloijdubi.com Sabtu(29/12).

Dia menambahkan klub-klub sepakbola di Papua sudah seharusnya mencari investor agar  bisa terhindar dari  atau dikuasai oleh Pemda terutama orang nomor satu dalam kabupaten atau kota.

“Klub akan sulit dalam mencari sumber keuangan lain, sebagai misal Persidafon sulit mencari investor baru karena terjebak dalam politik karena Ketuanya juga seorang Pemimpin Partai Politik di Papua,”katanya.

Dia menambahkan kondisi inilah yang membuat klub-klub tak bisa terlepas dari pengaruh partai politik. Meskipun tak kelihatan kata dia tetapi persaingan antara Parpol berwarna biru dan berwarna kuning ikut bermain dalam sepakbola di Indonesia.

“ Jangan terlalu terjebak dan harus  murni dari  investor, lihat saja Persidafon mengalami kesulitan keuangan tetap mau bertahan demi politik. Ya mereka tidak ada solusi dan terikat dengan Grup Bakrie,”kata Richard Fere.

Sementara itu Dekan Fakultas Ekonomi, Universitas Ottow dan Geisler, Calvin Mansnembra menilai klub-klub sepakbola di Papua belum bisa seratus persen terlepas dari peran Pemerintah sehingga sulit melepaskan diri dari kekuatan dana APBD.”Saya menilai masih membutuhkan dana dari APBD namun ke depan perlu dicari solusi yang terbaik,”katanya.

Kondisi ini jelas tak menguntungkan bagi perkembangan sepakbola di Papua, catatan tabloidjubi.com saat ini terdapat tiga klub asal Papua masuk dalam kasta tertinggi ISL masing-masing Persipura Jayapura, Persidafon, Persiwa dan Persiram Raja Ampat. Sedangkan klub-klub divisi Utama masing-masing, PSBS Biak, Perseru Serui dan pendatang baru Persekam Kaimana. Sementara Perseman Manokwari musim depan masuk ke dalam kasta tertinggi  Liga Premire Indonesia(IPL)  bersama klub-klub di bawah PSSI pimpinan Djohar Arifin.

Sebagai gambaran pengeluaran yang pernah dilakukan Persipura pada musim 2008-2009 terhadap pemain lokal sebesar Rp 8.432.000.000,- atau delapan milyar lebih untuk mengontrak pemain lokal sedangkan pemain asing sebesar Rp 5.050.000.000,- atau sebesar lima milyar rupiah. Musim 2009-2010 klub Persipura membayar pemain lokal sebanyak  Rp 11.010.000.000,- atau sebelas milyar rupiah sedangkan untuk pemain asing sebesar Rp 5.340.000.000,- atau lima milyar lebih.( Hinca Pandjaitan, Kedaulatan Negara vs Kedaulatan FIFA).

Persipura sendiri pada musim lalu mendapat sponsor dari Bank Papua, Telkomsel, Semen Bosowa dan PT Freeport Indonesia.  Perusahaan tambang di Timika ini memiliki supporter terbesar untuk Persipura sebanyak 15.000 karyawan tergabung dalam The Karaka’s Persipuramania. Apalagi Persipuramania PT Freeport sendiri punya dukungan sangat besar dan memberikan suport  bagi Persipura.

Kondisi ini agak berbeda dengan klub-klub Papua lainnya karena Persipura memiliki banyak fans hampir seluruh tanah Papua dan Indonesia, tiga kali juara ISL dan lolos delapan besar AFC sehingga pantas menggaet sponsor dan juga punya nilai jual yang lebih. Sayangnya kata Richard Fere Persipura sendiri tak punya peluang untuk bertanding mewakili Indonesia keluar negeri baik di AFC maupun LCA karena dualisme PSSI. Mestinya kemelut di dua kubu PSSI harus diselesaikan agar tidak mengorbankan klub-klub di Indonesia termasuk Persipura.(Jubi/Dominggus A Mampioper)

Editor : dominggus a mampioper
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Sepakbola Papua Butuh Investor Bukan  Pemimpin Politik