Tantangan Lahirnya Kampung Hebaeibulu – Yoka Diawal Tahun 1956

share on:
Masyarakat saat mengikuti kegiatan HUT ke – 57 tahun Kampung Yoka di halaman Obhe Ondofolo (Jubi/Eveerth)

Jayapura, (3/1) — Tanggal  2 Januari 1956, tercatat  132 jiwa manusia mengarungi Danau Sentani membentang layar meninggalkan kisah kenangan dan tangisan di kampung Ayapo menuju Yoka. Keberangkatan ini demi membangun Keondoafian sendiri dengan nama  ‘Hebeibulu Naungaei Wlanei, inilah awal terbentuknya kampung ini.

Hal ini terungkap dalam langen suara yang dibawakan oleh Sanggar Seni Khalodou di halaman Obhe Ondofolo, Kampung Yoka, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, saat perayaa HUT  ke – 57 tahun  Kampung Yoka, Rabu (2/1) kemarin.

Dalam langen suara yang menceritakan tentang sejarah Kampung Yoka menuturkan sebanyak 132 jiwa dengan perahu dayung meninggalkan Ayapo dibelakang dan menuju Yoka didepan. Hingga akhirnya, seiring mentari pagi bersinar diufuk timur labuhan sauh telah tiba di pantai harapan Raloiso 2 Januari 1956, maka berdirilah negeri Yoka Hebeibulu dengan dasar ‘Sampai disini Tuhan menyertai nenek moyang kami Asa dan Khalo dan dengan dasar yang sama Tuhan menyertai Thomas beserta kaum keturunannya’.

Salah satu Intelektual Muda Kampung Yoka, Andreas J. Deda, S.Pd, MA., mengatakan lembaran – lembaran sejarah yang diam membisu diaras pikir para tetua Sentani dengan jelas mengenal kisah perjalanan panjang itu merupakan juga bagian dari kisah Asa dan Khalo sebagai bagian dari manusia Sentani masa lampau yang keluar dari Nauka – Fonong yo waugwau yo.

“Kisah sejarah anak cucu Asa dan Khalo hari ini dikenal dengan nama Yoka – Hebeaibulu. Mereka berdiam di ujung timur Danau Sentani sebagai kampung yang diwarisi turun temurun,”katanya.

Seiring peperangan dan perebutan akan tanah leluhur, maka terjadilah pembantaian dan pembunuhan yang membabi buta terhadap kaum keturunan dari Yoka Hebaeibulu hingga mengungsilah sisa – sisa kaum keturunan Asa dan Khalo ke kampung Ayapo.

“Seiring moderenisme yang menguak tabir keaslian bangsa Papua, Agama Kristen menjadi pionir keselamatan untuk membaptis manusia dari keberadaannya yang tersembunyi. 3 April 1892 hadirnya Gottlif Lodwjk Bink diteluk Youtefa pulau Metu Debi. Kristen menjadi bagian dari kehidupan anak –anak ondofolo ditanah Tabi,” ujar Andreas Deda, di Kampung Yoka.

Lebih lanjut, ditambahkan dengan mengiring langkah Bink,Van Hazzelt Junior-pun mengumpulkan anak – anak negri Tabi dibawah sayap kasih Tuhan. Dengan menyebarkan Injil Kristus pendeta hadir ditengah masyarakat Ormu masa lampau untuk membuktikan; Yesus menyayangi manusia seperti kita. Filosofi, ideologi dan paradigma keondoafian dikawinkan dalam baptisan kudus Kristen sebagai bagian integral dari manusia Tabi sejak hadirnya, Bink, Van Hazzelt dan Famay.

Jauh dibelakang punggung Robonsolo berdiam suku bangsa Sentani, yang ketika mendengar Injil Kristus; bertanya dalam hati, menguji dalam keyakinan dan memutuskan dengan pasti. Yesus, nahale Ro khelufa, Ondofolo orona mena hele. Sorak sorai dengan kidung pujian yang berdentang mengiringi riak air danau dari gembiranya para pendayung yang menyebrangi danau ke tanah Grime dan Tabadi demi sang guru yang bisa mengajarkan Injil Kristus. Berawal dari langkah itulah maka berdatangan guru – guru jemaat pembawah suluh Krsitus,” paparnya.

Dikatakan, hadirnya Daud Pakade didanau Sentani yang kemudian di ikuti oleh Derek Samalo ke kampung Ayapo, akhirrnya mengajarkan kepada kaum keturunan Melamensa bahwa hidup harus diatur dalam tatanan tiga tungku dengan adat sebagai Yo Nakhe miye, namun terang Kristus adalah suluh abadi yang menyelamatkan jiwa dan roh.

“Dari perjalanan panjang inilah, Dominggus Olua dan Yan Wamblolo pada 1 Januri 1956, mengatakan: Jika Samuel mendirikan Ebenhazer diatas batu bagi Isarel, maka Hebaeibulu yoni – yoni naei yo yam nenei enaibende nenei enainyekhende eru meja rangne rasikate ‘Ebenhaeserye’ rogokhate.

Tanggal 2 Januari 1956, inilah tercatat sejarah 132 jiwa manusia mengarungi danau membentang layar meninggalkan kisah kenangan dan tangisan di kampung Ayapo menuju Yoka demi membangun Keondoafian sendiri dengan nama ‘Hebeibulu Naungaei Wlanei’ ,” demikian ungkapnya.

Andreas Deda yang juga Kepala Pusat Penelitian Bahasa dan Budaya Universitas Negeri Papua (Unipa) ini mencerikan, ketika melabuhkan sauh di dipantai Raloiso,dalam ibadah syukur pertama, Thomas berkata;  Hebaeibulu meja oro kheleremo nekhemale. Yang menandakan bahwa dengan Rahmat dan kasih Tuhan kita tiba di dusun Yoka Hebeibulu.

“Yoka, negeri kecil sarat ideologi sejak Gustaf Adolof Scneider 1932, Jendral Douglas Mc. Arthur 1943, Isak Samuel Kijne 1946, Nelson Nicholas Van Derstoup 1949, Yoka telah menjadi negri peradaban bagi tanah Papua,” akunya.

Mengenang pergulatan manusia suku dan adat yang keluar dari tindihan dan penjajahan demi menikmati kehidupan bebas ditanah leluhurnya Yoka Hebaeibulu. Ds. Isak Samule Kijne mengatakan: “Karena Mebri bri Iman, maka Allah berkenaan mengembalikan mereka  pada tanah leluhurnya.

“Hari ini kita ada diatas sejarah itu untuk merayakan ulang tahun kita kembali, dimana setiap tahun dirayakan dan sebagai hari kebebasan dan kemerdekaan bagi masyarakat Kampung Yoka,” katanya.

Rentetan peristiwa sejarah yang membisu, katanya, mengajarkan bahwa generasi yang hari ini ada karena mereka generasi masa lalu yang memulai, dan tanpa masa lalu tidak mungkin akan ada masa kini. Masa lalu adalah pengalaman dan sejarah yang mengajarkan kehidupan masa kini sebagai jalan menuju hari depan.

“Berawal dari 2 Januari 1956 sebagai tonggak sejarah untuk mengenal jati diri diatas tanah leluhur kita Hebaeibulu – Yoka yang dulu sebagai Yo nime ya nimekarena orang-orangnya mampu dalam segala hal. Maka hari ini kita berdiri disini dengan ucapan syukur,” ucapnya.

Dirinya berharap generasi muda dan penerus pembangunan tidak melupakan sejarahnya dari mana dirinya berasal, termasuk generasi muda di Kampung Yoka.

“Mari kita bergandeng tangan dan bergerak maju membangun kampung serta tidak melupakan budaya dan sejarah ini,” tandasnya.

Kampung Yoka sendiri secara umum, bila dilihat dari sisi Pemerintahan dan Pendidikan, Kampung Yoka dulunya dikenal sebagai Pusat Pendidikan orang Papua dan Pusat Penyemaian bagi para pejabat pemerintah di seluruh Tanah Papua dan Indonesia secara umum, yaitu dengan hadirnya Jongens Ver Volks School (JVVS), OSIBA (Sekolah Bistir bagi kaum pribumi di Papua)  dan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN), di mana sudah banyak pamong dan pejabat tersebar di Tanah Papua berasal dari pendidikan di Yoka. (Jubi/Eveerth Joumilena)

Editor : dominggus a mampioper
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Tantangan Lahirnya Kampung Hebaeibulu – Yoka Diawal Tahun 1956