Diare, Cacing, Muntaber Mewabah Di Yiwika, Kurulu

share on:
Kondisi Perempuan dan anak-anak di Kurulu (AJI Papua)

AJI Papua

Tim Penulis : Cunding Levi, Nurmalina Umasugi dan Ayu Hamsina

Siang itu sebuah mobil carry warna putih memasuki sebuah gang yang tidak diberi nama jalannya oleh warga sekitar. Carry itu berhenti persis di depan Puskesmas Kurulu yang berjarak kurang lebih 200 meter dari jalan utama. Puskesmas Kurulu dibangunan diatas lahan seluas 100 meter persegi, 50 meter dari lokasi Puskesmas terdapat dua bangunan sekolah yakni SMP Yiwika dan SMA Yiwika yang 70 % bangunannya rusak.

Disebelah kiri Puskesmas melintang kebun milik warga sekitar. Di depan Puskesmas terdapat satu bangunan kantor Distrik Kurulu dan satu pos keamanan anggota TNI yang bertugas di Kurulu. Didepan bangunan Puskesmas, berdiri tegak plang bertuliskan Puskesmas Kurulu, tidak banyak warga yang melakukan pemeriksaan kesehatan atau berobat pada hari itu, hanya ada satu cleaning service yang tampak sedang mengepel lantai Puskesmas yang terbuat dari semen.

Di salah satu ruangan yang diberi nama ruang pemeriksa duduk seorang pria berpakaian serba putih. Usianya sekitar 30 tahun, dia adalah mantri yang diperbantukan di Puskesmas Kurulu. Diatas meja pria tersebut ada beberapa lembar kertas dan satu buku yang mirip buku tamu, tapi didalamnya berisi catatan pasien. Tidak ada pasien yang melakukan pemeriksaan kesehatan hari itu, hingga dia hanya duduk sambil membenahi tumpukan kertas yang bertengger di depan mejanya.

Dari catatan itulah, pria  yang diketahui bernama Daniel Hiluka memberitahu kami kalau jumlah tenaga medis yang tersedia di Distrik tersebut adalah sebanyak 22 orang tenaga medis dan 2 orang Dokter spesialis. Sedangkan masyarakat di Distrik Kurulu kebanyakan menderita penyakit diare, muntaber, cacingan, malaria, sakit tulang belakang, sakit perut dan beberapa penyakit lainnya.
Rata-rata warga sekitar mengalami sakit pada tulang bagian belakang akibat pekerjaan mereka yang sehari-harinya selalu mengangkut beban berat.
“Kita sudah peringati mereka untuk tidak lagi memikul beban berat agar sakit yang dialami berkurang tapi sama saja, mereka tidak menghiraukannya,” ujar Daniel Hiluka petugas media Puskesmas Kurulu.

Distrik Kurulu adalah salah satu Distrik yang terdapat di Kabupaten Jayawijaya, jarak Distrik ini dari Kota Wamena adalah kurang lebih 20 kilometer dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Letak topografi Provinsi Papua pada ketinggian berkisar antara 0 – 3.000 meter di atas permukaan laut. Kabupaten Puncak Jaya dengan ibu kota Mulia merupakan daerah tertinggi dengan ketinggian 2.980 meter di atas permukaan laut. Sedangkan Kota Jayapura merupakan daerah terendah dengan ketinggian 4 meter di atas permukaan laut.

Berdasarkan data BPS (Papua Dalam Angka Tahun 2010), Rata-ratacurah hujan di Papua antara 3.381 mm (Sarmi) – 4.014 mm (Nabire). Banyaknya hari hujan di Papua berkisar antara 160 hari (Merauke) – 281 hari (Mimika). Suhu udara rata-rata di Papua berkisar antara 14,80 C – 27,50 C. Suhuudara maksimum terjadi di stasiun Dok II Jayapura (31,90 C) sedangkan suhu udara minimun terjadi di stasiun Wamena (14,80 C) dengan kelembaban udara antara 76,7% (Jayawijaya) sampai dengan 85,3% (Biak). Sedangkan tekanan udara antara 834,9 – 1.011,2 mb.

Karena letak topografinya, masyarakat di kawasan Pegunungan Papua tak terkecuali di Distrik Kurulu sehari – hari berkerja sebagai petani di ladang dan bercocok tanam di hutan. Mereka juga menganut pola hidup konsumtif akibat hasil panen yang tidak dapat disebar luaskan ke daerah lain. Menurut Kepala Distrik Kurulu, Yuda Daby, S.Sos jumlah penduduk di Distrik tersebut sebanyak 24.816 jiwa, Kampung Yiwika sebagai ibukota Distrik memiliki penduduk sebanyak 3.071 jiwa, dengan rata – rata mata pencaharian sebagai petani dan pemburu. Pantauan kami, warga di Yiwika oleh Pemda Kabupaten Jayawijaya memberikan bibit padi agar masyarakat tidak lagi melakukan perjalanan jauh ke hutan hanya demi mencari makan dan sebagainya.

Lahan – lahan milik warga yang masih kosong dijadikan sebagai ladang, bibit – bibit padi di tanam disana, namun apa yang terjadi warga sama sekali tidak tahu bagaimana memanfaatkan bibit tersebut. Alhasil bibit bantuan tersebut mubaazir begitu saja. Padi – padi tersebut tumbuh berkembang tetapi akibat kurangnya perawatan padi – padi yang sebagian besar ditanam di depan jalan utama itu menguning. Parahnya lagi, kebiasaan warga yang tidak memberi kandang bagi hewan peliharaan mereka juga menjadi penyebab rusaknya tanaman padi.
“Padahal bibit yang diberikan itu bertujuan agar membantu perekonomian warga, supaya warga tidak lagi bergantung pada umbi – umbian tapi mereka malah malas tau dan tidak mau mengurus tanaman – tanaman tersebut,” ujar Yudha.

Bukan hanya babi yang mengobrak-abrik tanaman padi bantuan Pemerintah, tetapi tangan – tangan mungil anak usia 3 – 6 tahun juga turut berperan serta, seperti yang tampak siang itu oleh kami. Beberapa anak usia sekolah itu tidak mengikuti proses belajar mengajar, melainkan mereka bermain bersama babi piaraan mereka di ladang yang di tumbuhi padi menguning. Anak – anak itu bermain dengan asyiknya padahal matahari cukup menyengat siang itu.
“Dong tidak sekolah, nanti besar baru sekolah,” kata Helena warga Yiwika.

Tak hanya itu kebiasaan warga, dari jendela ruangan pemeriksaan yang ditempati Daniel, kami juga bisa melihat kondisi dan kebiasaan warga sekitar yang tinggal di dekat Puskesmas. Mereka kurang paham akan sanitasi dan manfaatnya. Ini terlihat dari kebiasaan warga yang langsung meminum air dari kran atau ledeng di depan Puskesmas. Warga juga membuang hajatnya di dalam semak – semak belakang rumah tanpa membilasnya dengan air bersih.
“Begitulah kebiasaan mereka, kita sudah sosialisasikan kepada mereka tentang masalah sanitasi dan membangun MCK untuk mereka, tapi MCK yang kami bangun dihancurkan oleh mereka, mereka tidak biasa untuk membuang air pada ruangan yang tertutup atau setengah tertutup. Mereka mau membuang air pada kali atau paling tidak di semak- semak seperti itu,” jelas Daniel.

Ironis memang, sebagai Kampung yang akan diajukan sebagai Ibukota Kabupaten, warga di kampung Kurulu khususnya masih minim akan masalah sanitasi dan penggunaan air bersih serta cara bercocok tanam. Mereka tidak menyadari jika membuang air tidak pada tempatnya akan menimbulkan berbagai penyakit, apalagi MCK dadakanversi warga di Yiwika itu berbatasan langsung dengan dapur mereka.

Petugas medis di Puskesmas Kurulu, kata Daniel, bukan tidak menyadari akan bahaya sanitasi dan kesehatan lainnya yang akan timbul akibat perilaku masyarakat itu, petugas medis bersama LSM dan instansi terkait juga telah melakukan penyuluhan namun warga menolak untuk dilakukan penyuluhan dengan alasan malas. Adapula yang menjawab, mereka harus bekerja.
“Padahal penyuluhan yang kami lakukan berkaitan dengan kesehatan mereka, tapi mereka selalu menolak. Kami juga terkadang kesulitan kalau masyarakat menolak untuk dilakukan penyuluhan dan sosialisasi kesehatan,” ungkap Daniel.

Akibat kebiasaan buruk warga tersebut, tim medis di Kampung Yiwika mencatat rata – rata warga Yiwika menderita sakit Diare, Muntaber, TBC, Malaria, Cacingan hingga sakit pada tulang bagian belakang.

Secara umum upaya kesehatan terdiri dari atas dua unsur utama, yaitu upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta untuk memelihara, dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat.

Upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. B erikut ini diuraikan upaya kesehatan yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir, khususnya untuk tahun 2010.

Dinas Kesehatan Provinsi Papua  mencatat berdasarkan diagnosis gejala maupun diagnosis tenaga kesehatan Provinsi Papua, kasus Filaria  menunjukkan prevalensi di bawah 1%, namun ditemukan kabupaten dengan prevalensi filariasi lebih tinggi dari rata provinsi yaitu di Kabupaten Jayawijaya. Jayawijaya menunjukkan angka di atas satu persen.

SDJ (kasus tanpa gejala) pada beberapa kampung yang berbeda di Provinsi Papua pada penduduk ditemukan anak cacing filaria dalam darahnya). Dimana angka mikrofilaria dari terendah 0,4 % sampai dengan yang tertinggi 12,8 %. Jika suatu kampung hasil mikrofilaria ratenya menunjukkan angka e” 1%, untuk memutuskan mata rantai penularan filaria di kampung tersebut wajib dilakukan pengobatan massal filaria pada semua penduduk yang berumur 2 tahun ke atas.

Selain itu, untuk Demam Berdarah Dengue (DBD), profil Kesehatan Provinsi Papua mencatat prevalensi DBD di Provinsi Papua berdasarkan diagnosis gejala sebesar 1,1%, sementara berdasarkan diagnosa tenaga kesehatan rata-rata Provinsi Papua lebih rendah, yaitu 0,1%. Tertinggi ditemukan di Kabupaten Boven Digoel yaitu 4,3% dan Jayawijaya 3,4%.

Timbul pula berbagai penyakit baru. Dinas Kesehatan Provinsi Papua sendiri telah melakukan program pencegahan dan pemberantasan penyakit yang bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan dari penyakit menular dan mencegah penyebaran serta mengurangi dampak sosial akibat penyakit sehingga tidak terjadi masalah kesehatan.

Pemberantasan penyakit menular lebih ditekankan pada pelaksanaan surveilans epidemiologi dengan upaya penemuan penderita secara dini yang ditindaklanjuti dengan penanganan secara cepat melalui pengobatan penderita.
“Di samping itu pelayanan lain yang diberikan adalah upaya pencegahan dengan pemberian imunisasi, upaya pengurangan faktor resiko melalui kegiatan untuk peningkatan kualitas lingkungan serta peningkatan peran serta masyarakat dalam upaya pemberantasan penyakitmenular yang dilaksanakan melalui berbagai kegiatan.” Ujar Josef Rinta, Kepala Dinas Kesehatan Papua.

Menurut dia, penegakan diagnosa penderita secara cepat dan pengobatan yang cepat dan tepat merupakan salah satu upaya penting dalam rangka pemberantasan penyakit malaria disamping pengendalian vektor potensial.
Untuk wilayah pemberantasan malaria, kata dia dilakukan dengan model pasif case deteksi atau menunggu pasien datang ke fasilitaspelayanan kesehatan.
“Karena masyarakat jarang di rumah, mereka lebih banyak di hutan dan kebun sehingga diterapkan model pasif case deteksi untuk wilayah Kurulu,” ujar Daniel Hiluka, petugas medis Puskesmas Kurulu.

Sedangkan untuk penyakit, Diare, data riset menunjukkan bahwa prevalensinya sebesar 10,8%berdasarkan diagnosis gejala dan 7,8% berdasarkan diagnosis tenagakesehatan. Prevalensi diare tertinggi di Kabupaten PegununganBintang sebesar 32,5%.

Untuk kasus HIV/AIDS, hasil Surveilans Terpadu HIV dan Perilaku (STHP) di TanahPapua tahun 2006 dengan mengambil sampel di 10 Kabupaten/Kota menunjukkan Prevalensi HIV pada pendudukTanah Papua sebesar 2.4 persen lebih tinggi dibandingkan pada penduduk wilayah lain di Indonesia, serta dampaknya meluas ke semua wilayah Papua. Prevalensi penduduk laki-laki jauh lebih tinggi (2,9 persen) dibandingkanpenduduk perempuan (1,9 persen). Prevalensi pada kelompok umur40 – 49 tahun paling tinggi dengan 3,4 persen, diikuti oleh kelompok15-24 tahun dengan 3,0 persen. Data riset juga menunjukkan bahwa prevalensi ISPA tertinggi berdasarkan diagnosis gejala ditemukan di Kabupaten Puncak Jayasebesar 54,7%, Pegunungan Bintang sebesar 59,3% dan terendah dikabupaten Jayapura sebesar 12,5%, sementara berdasarkandiagnosis tenaga kesehatan prevalensi ISPA tertinggi di KabupatenJayawijaya sebesar 36,5% dan terendah di Kabupaten KepulauanYapen sebesar 5,5%.

Untuk kasus penyakit Pneumonia, data riset menunjukkan prevalensi pnemonia berdasarkan diagnosis gejala tertinggi ditemukan di Kabupaten PegununganBintang sebesar 17,3% dan terendah di Kabupaten Jayapura sebesar0,9%. Prevalensi pnemonia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan tertinggi ditemukan di kabupaten Jayawijaya sebesar 11,1% dan terendah di Kabupaten Paniai sebesar 0,4%.

Selain itu, ada pula penyakit TB Paru, yang mana angka Insidens TB Paru tahun 2010 di Provinsi Papua sebesar82 per 100.000 penduduk, sedangkan angka prevalensi TB parusebesar 89 per 100.000 penduduk. (Menggambar Data TB di 16Kabupaten/Kota sedangkan pembaginya semua penduduk papua 2010 ). Prevalensi penyakit tuberkulosis tertinggi ditemukan berdasarkan diagnosis gejala diKabupaten Pegunungan Bintang sebesar 7,0% dan terendah diKabupaten Waropen (0%), sedang berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan tertinggi ditemukan di Kabupaten Tolikara sebesar 4,7% dan Mappi sebesar 2,1%.

Untuk penyakit Campak, prevalensinya menurut data riset, berdasarkan gejala klinis di beberapa kabupaten masih cukup tinggi, Kabupaten Boven Digoel sebesar 6,4%, Pegunungan Bintang sebesar 4,3%, Jayawijaya sebesar 4,0% dan Mappi sebesar 3,9%. Sedangkan menurut diagnosa tenaga kesehatan tertinggi ditemukan di KotaJayapura sebesar 12%, kemudian Kabupaten Boven Digoel sebesar5,7% dan Jayawijaya sebesar 2,8%. Kabupaten Boven Digoel memiliki prevalensi penyakit campak cukup tinggi baik menurut gejala kilinis maupun diagnosis tenaga kesehatan disamping Kota Jayapura.

Penyakit Kusta, prevalensinya di Papua meningkat dari 4,4 per 10.000 penduduk tahun 2009 menjadi 5,4 per 10.000 penduduk tahun 2010, demikian juga halnya angka penemuan kasus baru kusta atau Case Detection Rate (CDR) kusta meningkat dari 41,9 per100.000 penduduk, menjadi 43,1 per 100.000 penduduk.
Berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan atau gejala yang menyerupai stroke, prevalensi stroke di Papua adalah 4 per 1000 penduduk. Menurut kabupaten/kota, prevalensi stroke berkisar antara 0% – 12%, dan Kabupaten Boven Digoel mempunyai prevalensi lebih dibandingkan wilayah lainnya baik berdasarkan diagnosis maupun gejala.Secara umum di Provinsi Papua prevalensi penyakit asma sebesar3,6%. Angka tertinggi di Kabupaten Mappi sebesar 9,1% dan terendah di Yahukimo sebesar 0,2%.

Untuk status gizi berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) tahun 2008 prevalensi status gizi balita (BB/U) di Provinsi Papua adalah gizi buruk 7,1% dan gizi kurang 14,5%. Sebanyak 10 kabupaten masih memiliki prevalensi gizi buruk di atas prevalensi gizi buruk di atas prevalensi provinsi dan 8 kabupaten lainnya sudah berada di bawah prevalensi provinsi, yaituKabupaten Jayapura, Nabire, Kepulauan Yapen, Biak Numfor, Mappi,Tolikara, Keerom dan Kota Jayapura. Terdapat 4 kabupaten dengan prevalensi melebihi angka provinsi, yaitu Kabupaten Jayawijaya, Yahukimo, Sarmi, dan Waropen. Sedangkan prevalensi status gizi balita (BB/U) di Provinsi Papua berdasarkan riskesdas 2010 sebanyak 6,3% gizi buruk dan 10,0% gizi kurang.

Meski dikatakan Daniel, penyakit Malaria adalah salah satu penyakit terbesar bagi masyarakat Yiwika, sebab malaria sebagai salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat terutama di Papua, berdampak kepada penurunan kualitas sumberdaya manusia yang dapat menimbulkan berbagai masalah sosial, ekonomi, bahkan berpengaruh kepada stabilitas keamanan. Penegakan diagnose penderita secara cepat dan pengobatan yang tepat merupakan salah satu upaya penting dalam rangka pemberantasan penyakit malaria disamping pengendalian vektor potensial.

Dinas Kesehatan Provinsi Papua mengklaim, Kampung Yiwika Distrik Kurulu bukan Kampung yang memiliki kasus malaria tertinggi di Papua  atau masuk dalam kategori kasus yang besar. Angka kesakitan malaria yang dinilai menggunakan AP Parasite Incidence) per 1.000 penduduk di Provinsi Papua tahun 2010 sebesar 64, API tertinggi terdapat di Kabupaten Keerom yaitu 279 dan terendah di Kabupaten Sarmi 10. Sedangkan 15 Kabupaten lainnya 0 (nol).

Angka Incidence per 1.000 penduduk di Provinsi Papua tahun 2010 adalah sebesar164, tertinggi Kabupaten Mimika 753 dan terendah Kabupaten Sarmi sedangkan 15 Kabupaten lainnya 0 (nol) karena tidak ada laporan.*

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Diare, Cacing, Muntaber Mewabah Di Yiwika, Kurulu