GOBAI : “SAYA BICARA DEMI KEPENTINGAN MASYARAKAT DEGEUWO”

share on:
Ketua DAD Paniai, John NR Gobai. (Jubi/MY)

Nabire, 28/1 (Jubi) — Ketua Dewan Adat Daerah (DAD) Paniai, John N.R. Gobai membantah tudingan dari Thobias Bagubau, Ketua Lembaga Pengembangan Masyarakat Adat Suku Wolani, Mee dan Moni (LPMA SWAMEMO). Kata John, tidak ada kepentingan lain dengan wacana Degeuwo diperjuangkan sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR).

“Adik Thobias menuduh saya dengan hal yang tidak benar. Tanpa bukti lagi. Saya tidak punya kepentingan. Saya bicara untuk kepentingan masyarakat Degeuwo. Seharusnya tidak perlu salah persepsi. Adik dan saya punya tujuan yang sama, yaitu mendesak adanya perhatian dari pemerintah dengan regulasi yang jelas, untuk selesaikan masalah Degeuwo ini,” tuturnya saat menghubungi tabloidjubi.com, Senin (28/1) pagi.

Kata John, buku “Penambangan Tanpa Ijin (PETI) Menuju Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR)” yang diluncurkan beberapa hari lalu di Jayapura, sebenarnya bertujuan membuka mata semua pihak untuk melihat masalah pertambangan emas di sepanjang Kali Kemabu/Degeuwo. Wacana WPR diulas dalam bukunya setelah memaparkan terlebih dahulu fakta riil yang terjadi di kawasan pendulangan emas ilegal itu. “Jadi, saya paparkan faktanya supaya semua pihak tahu kondisi sebenarnya. Selama ini ada banyak kasus di Degeuwo yang tidak pernah ditangani, sedangkan emas terus diambil hingga hari ini,” ujarnya.

Persoalan di Degeuwo, kata dia, cukup rumit dan itu bukan rahasia lagi karena terus dipublikasikan di media massa. “Melihat semua permasalahan itu, saya berusaha mengangkatnya melalui buku ini supaya kasus Degeuwo bisa diketahui oleh publik bahwa sampai hari ini ada masalah-masalah yang tidak pernah ditangani, kesannya semua dibiarkan, dan itu satu potensi konflik,” tutur John.

Dalam buku yang baru saja dibedah, diulas kondisi riil di Degeuwo, kemudian usulan mengenai WPR. Di buku itu, sejarah pertambangan rakyat di Indonesia serta pengalaman pengembangan pertambangan rakyat di beberapa daerah ditampilkan sebagai gambaran bagi publik termasuk pengambil kebijakan. “Saya juga punya tanggungjawab moril terhadap masyarakat Papua di Degeuwo, makanya saya angkat persoalan melalui buku ini supaya bisa diketahui oleh publik. Selain itu, kita menganalisisnya sebagai satu kajian dan masukan bagi pihak-pihak terkait untuk cari solusi terbaik agar tidak terjadi lagi masalah-masalah di kawasan Degeuwo,” tandasnya.

Ia melihat pertambangan ibarat kebun bersama. Semua pihak mau “makan” dari situ. Karenanya, perlu diupayakan langkah-langkah terbaik. Tak terkecuali regulasi yang jelas, sebab sejauh ini masih tumpang tindih, bahkan banyak yang tak sesuai aturan perundang-undangan. “Kasus Degeuwo, selama ini pemerintah lepas tangan saja. Banyak masalah terjadi, tapi selalu dibiarkan. Ini sama saja dengan sengaja menyediakan lapangan konflik,” ujar John kesal. (Jubi/Markus You)

Editor : dominggus a mampioper
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  GOBAI : “SAYA BICARA DEMI KEPENTINGAN MASYARAKAT DEGEUWO”