WASPADAI KENAIKAN HARGA

share on:
suasana coffe morning antara wartawan dan pimpinan Bank Indonesia (Jubi/Roberth Wanggai)

Jayapura, (11/2) – Memasuki bulan Februari 2013, Bank Indonesia (BI) memandang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap tekanan kenaikan harga.

BI Papua dalam siaran persnya mengungkapkan inflasi pada bulan Januari 2013 masih tergolong tinggi yang tercatat 4,87% (yoy) dan 0,40% (mtm). Sementara bulan Desember 2012 inflasi tercatat 4,53% (yoy) dan 2,57% (mtm). Tingginya laju inflasi pada kedua periode tersebut, terutama disebabkan oleh keterbatasan pasokan seiring dengan cuaca ekstrim dengan cuaca hujan yang sangat tinggi yang pada akirnya menyebabkan naiknya harga komoditas ikan, serta terganggunya produksi palawija.

Siaran pers yang dikeluarkan BI Papua ini menyebutkan pada bulan Februari 2013, kondisi cuaca ekstrim diperkirakan belum akan reda sehingga dikuatirkan inflasi Februari 2013 juga masih cukup tinggi.

Hasil survey pemantauan harga yang dilakukan oleh kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua dan Papua Barat menunjukkan adanya kecenderungan akan naiknya harga beberapa komoditas ikan dan palawija yang persisten dan cukup tinggi pada kisaran 4-15% (mtm).

Hasil survey konsumen (SK) BI pada bulan Januari 2013 juga menunjukkan tendensi kuatnya kenaikan harga dari sisi permintaan. Hal ini tercermin dari meningkatnya ekspektasi konsumen baik terhadap harga maupun terhadap kondisi ekonomi sebesar 19.23%.

Sehubungan tingginya tekanan akan kenaikan tersebut, diperlukan langkah antisipasi antara lain dengan meningkatkan produksi lokal untuk memenuhi kebutuhan Papua seperti daging, ikan budidaya, telur dan lain-lain.

“Upaya meningkatkan produksi lokal dapat dilakukan dengan memberikan insentif kepada petani /atau peternak dan nelayan,” bilang Deputi Kepala Perwakilan BI Papua dan Papua Barat, Aslan Lubis di lantai 3 BI Jayapura-Papua pada acara cofe morning bersama wartawan.

Langkah antisipasi lainnya adalah meningkatkan kelancaran arus distribusi barang atau jasa ke seluruh pelosok Papua dan memperbaiki struktur pasar komoditas penting dan strategis tidak dikuasi secara monopoli atau oligopoly yang mengarah pada kartel.

Selain itu langkah yang perlu diambil adalah mengupayakan kebijakan percepatan pengembangan infrastruktur perhubungan, baik jalan darat, kondisi pelabuhan dan moda transportasi darat, laut dan udara.

“Mempercepat antrian pembokaran muatan, khususnya bahan-bahan pokok di pelabuhan serta memperbaiki mekanisme penyerahan bantuan langsung tunai (BLT) kepada masyarakat,” ujar Aslan Lubis. (Jubi/Roberth Wanggai)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  WASPADAI KENAIKAN HARGA