APARAT HARUS UNGKAP PERISTIWA PUNCAK

share on:
Sekertaris Komisi A DPR Papua, Yulius Miagoni. (Jubi/Arjuna)

Jayapura, 21/2 (Jubi)—Sekertaris Komisi A DPR Papua, Yulius Miagoni meminta aparat keamanan mengungkap pelaku dan motif penyerangan pos TNI di Tinggi Nambut, Kabupaten Puncak Jaya yang menyebabkan satu anggota TNI terluka dan satu meninggal dunia, serta penghadangan dan penyerangan anggota TNI di Sinak, Kabupaten Puncak, Papua yang menyebabkan tewasnya tujuh anggota TNI, Kamis (21/2).

“Motif dan pelaku baru bisa terungkap setelah dilakukan penyelidikan dan olah TKP. Kami pesan agar aparat polisi bekerja keras mengungkap kasus ini. Tapi yang jelas kami sebagai manusia prihatin dengan kejadian itu, terutama kepada keluarga korban karena pasti mereka sangat merasa kehilangan dan duka cita yang mendalam,” kata Yulius Miagoni, Kamis (21/2).

Hanya saja menurutnya, yang menjadi pertanyaan kenapa senjata dan amunisi begitu banyak beredar di masyarakat. Apakah ada pemasok atau jaringan dari luar negeri ke Papua atau kah memang di Papua ada tempat tertentu membuat senjata.

“Atau memang ada pihak aparat sendiri yang sengaja memperjual belikan senjata dan amunisi. Ini masalah yang sangat misterius hingga hari ini. Dari mana pelaku mendapat senjata. Kalau memang ada jaringan tertentu ke Papua pasti bisa ketahui dari amunisnya. Bisa dilihat apakah produksi Indonesia atau dari luar. Kan pasti ada kodenya,” ujarnya.

Dikatakan, hingga saat ini Polisi tidak bisa mengungkapnya asal senjata dan amunis yang digunakan pelaku penembakan selama ini. hal ini membuat pihak gereja, LSM, Komnas HAM, masyakat, tokoh masyarakat selalu mempertanyakan asal senjata dan amunisi tersebut.

“Harus tuntas penyelidikannya. Harus diketahui buatan mana? Apakah dari luar atau buatan dalam negeri. Selama ini bagian ini yang tidak pernah diungkap. Akibatnya ada Ibu yang harus jadi janda, anak jadi yatim atau piatu dan orang tua kehilangan anaknya. Ini menjadi masalah sosial.”

“Kami harap, jika aparat melakukan penyisiran tidak mengorbankan masyarakat yang tidak tahu masalah. Memang harus kita juga harus dipahami, pihak aparat kadang susah membedakan masyakat sipil dan kelompok bersenjata. Tapi bukan berarti mereka harus semene-mene. Paling tidak aparat yang bertugas disana bisa mengetahui ciri-ciri para pelaku dan bisa membedakannya dengan masyarakat biasa yang ada di sekitar karena mereka bertugas ditempat itu. Tapi selama ini selalu ada penyisiran tidak pernah ada hasilnya sehingga saya menilai itu tidak efektif dan justru lebih berbahaya karena bisa mengorbankan masyarakat sipil yang tidak tahu menahu,” katanya. (Jubi/Arjuna)

Editor : Cunding Levi
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  APARAT HARUS UNGKAP PERISTIWA PUNCAK