BANJIR HANCURKAN JEMBATAN DAN TEMBOK DI SENTANI

share on:
Salah Satu Jembatan di Kab. Sentani Rubuh. (Ist.Google. lickr.com)

Sentani, 4/3 (Jubi)Hujan deras yang mengujur Kabupaten Jayapura dan sekitarnya, Jumat malah (1/3) mengakibatkan sejumlah jembatan, tembok pagar dan bangunan rusak parah.

“Hujan hari jumat kemarin merusak jembatan-jembatan sepanjang jalan Raya Sentani Depapre, Sentani Sarmi,”kata Albert Pu’u, aktivis (SKP-KPKC) Farnsiskan Papua kepada tabloidjubi.com, Senin (4/3) di Sentani, Kab. Jayapura, Papua.

Menurut dia, peristiwa hujan semalam ini menyebabkan  jembatan di Nimbontong hancur dan rusak parah. Bahkan ada kendaraan yang melintasi jembatan itu terseret air. “Ada dua mobil, empat truk terseret arus saat melintas,”kata alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur ini.

Dalam pantauan tabloidjubi.com di lapangan, Senin (4/4), jembatan gunung merah,  Kali Wambar, Kali Ular jalan raya Sentani-Depapre terputus. Rumah-rumah yang ada pinggiran kali terseret air.

Bukan hanya jembatan, sejumlah tembok pagar pun menjadi amukan air. Tembok pagar setinggi satu meter di depan Kantor KPKC sekitar sepuluh meter lebih roboh, tembok ujung lapangan Adven, Doyo juga terseret air sungai.

Menurut direktur KPKC, Bruder Eddy, tembok pagar kantornya menjadi korban luapan air yang kedua. “Pertama akhir November tahu lalu, sekarang roboh ,”katanya seraya menambahkan ini semua terjadi karena korban kebijakan tata ruang kabupaten Jayapura yang tidak jelas pertimbangan bencana alam ini.  ” Ini jelas  tata kota yang tidak baik,”katanya.

Penataan kota yang tidak mempertimbangakan ruang jalan air dan ruang yang ada pun sangat sempit menyebabkan air terkesan merusak.  “Hujan deras yang cukup  lama menyebabkan  volume air meningkat. Akibatnya air mencari tempat dan tidak dapat menyerapkan ke dalam tanah dan aliran air menghantam (merusak) rumah, tembok dan jembatan,”katanya.

Bangaimana tidak, menurut Eddy, sejumlah bangunan kios, ruko, dan tokoh tidak menyediakan jalan air. “Kita lihat sejumlah tokoh di depannya tidak ada jalan air. Kalau hujan,air naik badan jalan dan merembes ke mana-mana,”ujarnya seraya mengatakan jalan raya berubah menjadi aliran sungai.

Kerusakan ini hampir terjadi setiap kali ada hujan yang cukup deras, dari waktu ke waktu terkesan tidak ada solusi yang diambil. Karena itu, Eddy bertanya siapa yang mesti mempertangungjawabkan dan menghindari bencana-bencana ini  ke depan. “Kalau ini terus terjadi, siapa yang bertanggungjawab ini?”tanya Eddy.

Karena itu, Eddy mengharapkan kepada semua pihak, entah itu pemerintah, masyarakat  maupun bisnis harus mempertimbangkan ruang air sebelum membangun bangunan. “Menata saluran-saluran air, perhitungkan saluran air kalau ada pembangunan, tertibkan pemberian izin untuk mendirikan bangunan.”

Banjir di kaki Gunung Cykloop sebenarnya bukan sebuah peristiwa baru, pada Maret 2007  juga pernah banjir. Waktu itu hujan mengguyur Kota Sentani hanya beberapa hari saja, akibatnya tiga jembatan putus dan rumah rumah di tepi sungai ikut terbawa arus dari kaki Gunung Cykloop.

Mantan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah Papua I, Benny Saroy mengatakan  kawasan cagar alam Cykloop tinggal 60 persen yang masih bagus selebihnya sudah beralih fungsi akibat aktivitas pembangunan dan masyarakat.

Kawasan Cykloop sendiri sejak jaman Pemerintahan Belanda sudah ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung. Mulai 1974 pemerintah Indonesia menetapkannya menjadi kawasan Cagar Alam Cykloop. Kebijakan ini lalu ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.56/Kpts/Um/101/1978 tanggal 26 januari 1978. Luas areal dalam kawasan Cagar Alam yang telah ditetapkan seluas 22.520 Ha.(Jubi/Mawel)

 

 

Editor : dominggus a mampioper
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  BANJIR HANCURKAN JEMBATAN DAN TEMBOK DI SENTANI