PSPS KRISIS FINANSIAL, DERITA TIM DARI NEGERI MINYAK

share on:
Tiga Pemain PSPS Pekanbaru Mengawal Pergerakan Feri Pahabol. (Jubi/Arjuna)

Jayapura, 31/3 (Jubi) – Propinsi Riau adalah salah satu penyuplai minyak terbesar di Indonesia. Sayang tim asal Riau yang tampil di ISL, PSPS Pekanbaru harus menerima kenyataan dilanda krisis finansial.

Saat bertandang ke Jayapura menghadapi Persipura, tim ‘Laskar Bertuah’ datang dengan kondisi memprihatinkan. Menghadapi pimpinan klasemen sementara ISL, PSPS hanya memboyong 11 pemain alias tanpa pemain pengganti. Hasilnya sudah bisa ditebak, M.Isnaini dan kawan-kawan jadi bulan-bulanan pasukan Jacksen F Tiago.

Fance Haryanto harus merelakan gawangnya dibobol lima kali oleh Boaz Solossa dan kawan-kawan. Satu gol dari Ian Kabes menit ke 13, dua gol oleh Boaz Solossa menit ke 20 (P) dan menit ke 88, satu gol diceploskan Imanuel Wanggai pada menit ke 38 dan satu gol lagi dicetak pemain belakang Octavia Dutra pada meni ke 55.

Assiten pelatih PSPS, Afrizal tak mengelak atas kekalahan tersebut. Ia mengatakan, timnya datang ke Jayapura dalam keadaan memprihatinkan. Ini lantaran masalah internal atau krisis finansial yang mendera PSPS. Krisis finansial inilah yang membuat sejumlah pemain senior PSPS seperti Amrizal, M. Ilham hingga Rudi Widodo tidak mau melakoni laga tandang ke Papua melawan Persipura dan Persiwa.

“Bisa dikatakan kami babak belur di Mandala. Pemain-pemain senior kami tidak mau berangkat karena ada masalah internal. Tim kami dalam kesulitan finansial. Pemain hanya menuntut satu bulan gaji barulah mereka mau ke Papua, karena manajemen berjanji akan membereskan semua sebelum laga ke Papua,” kata Afrizal usai laga.

“Mungkin orang luar tidak percaya PSPS yang berasal dari daerah yang kayak minyak harus krisi finansial. Tapi inilah kenyataannya. Kami tak bisa mengelak. Apakah nantinya tim ini sampai pada putaran kedua saya belum bisa jamin,” kata dia lagi.

Menghadapi tim sekelas Persipura dengan kondisi tim yang tidak lengkap, Afrizal menyadari betapa sulitnya mendulang poin. Ia pun tak membebani anak asuhnya dengan target yang muluk-muluk. Baginya asal tidak kebobolan banyak gol dari Persipura itu sudah hal yang luar biasa.

“Kami sudah bermain maksimal, tapi kami tetap kebobolan lima gol. Kami hanya bermain di daerah dan mendelay lawan. Kami tidak banyak melakukan sprint. Tapi Persipura membaca itu dan kami kewalahan,” ujar Afrizal.

Pelatih Persipura, Jacksen F Tiago menilai PSPS masih beruntung. Sejumlah peluang berhasil diciptakan anak asuhnya, namun ‘Mutiara Hitam’ hanya berhasil menceploskan lima gol ke gawang lawan.

“Kondisi lawan memang sangat sulit karena datang hanya dengan 11 pemain. Pemain kami terus melakukan tekanan dan lawan mengalami kesulitan. Saya puas dengan laga babak kedua meski hanya cetak dua gol. Babak kedua kita bermain lebih bagus dan nasib PSPS sangat baik,” kata Jacksen F Tiago. (Jubi/Arjuna) 

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  PSPS KRISIS FINANSIAL, DERITA TIM DARI NEGERI MINYAK