SUARA ANAK KEEROM

share on:
BUKU SUARA ANAK KEEROM (JUBI/MAWEL)

Sentani,12/4 (Jubi) Kini anak asal Kabupaten Keerom, Papua, mulai bersuara dan menangis. Mereka menangisi  pengrusakan dan penghabisan hutan alam miliknya. Alamnya rusak. Kayunya habis dibabat dan dicuri pengusaha gelap. Pencurian lainya diduga dilakukan perusahaan perkebunan kelapa Sawit yang beroperasi di kawasan itu.

Suara tangisan anak Keerom ini terkuak dalam buku berjudul “Suara Anak Keerom,” yang  diterbitkan oleh Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Fransiskan Papua di Jayapura.

Bagian bawa judul buku itu tertera tulisan yang mengisahkan tentang gambaran alam Keerom di masa lalu, kini dan masa mendatang.  Satu gambaran menarik lainnya tertuang dalam  buku berjudul “Tangisan anak Papua,” karya Rosita Nagur, salah satu anak asli Keerom juga dimuat dalam buku Suara Anak Keerom. Kisah Rovita dalam tulisannya menarik.

Dihalaman pertama, dalam buku Rosita tertera tulisan ; “Duhai sahabatku dengarkan aku. Aku anak asli Papua  mencurahkan isi hatiku,” tulis Rosita. Rosita mengambarkan situasi alamnya dimasa lalu. Dalam tulisan dia, dimasa lalu alamnya masih utuh. “Sekian tahun lamanya hutanku Papua aman. Sekian tahun lamanya bencana tak pernah menimpaku,” tulis Novita.

Kemudian, alam yang utuh itu berubah menjadi hutan tandus. Kejadian yang sangat luar biasa. Kejadian di luar dugaan. “Tak ku sangka kini telah berubah. Penebang kayu mulai merusak hutanku,”keluh Rosita dalam tulisannya. Tak hanya pohon-pohon yang ditebang, hewan yang menjadi buruan warga pun di dihabisi. “Pohon-pohon habis ditebang, hewan habis diburu,” ujarnya.

Menurut Rosita, pengrusakan dan pengabisan itu terjadi akibat napsu kosumerisme yang berlebihan. Nafsu ingin menikmati sendiri tanpa memperdulikan sesama yang lain. “Semuanya dilakukan demi  kepentingan  pribadi,” tegas Rosita dalam bukunya.

Sebagai genarasi yang menjadi ahli waris tanah adat Wilayah Keerom, Rosita  sedih melihat kondisi itu. Ia sedih  lantaran melihat sisa-sisah manusia, burung yang ada kehilangan tempat berlindung serta sumber makanannya.

“Betapa sedinya hatiku melihat burung yang terbang dan tidak pernah berhenti,” ujarnya.  Rosita tidak hanya sedih karena kehilangan sumber makana, ia juga sedih karena bencana alam yang datang silih berganti.

“Betapa sedihnya hatiku melihat desaku dilanda banjir. Wahai sahabatku inilah tangisanku anak Papua,” kisahnya. Sambil meratapi kerusakan alam, anak Keerom harus bertanya kepada ibunda yang tidak pernah tahu menahu perizianan kepada si pencuri yang  rakus merusak alamam. “Mama sa pu masa depan bagaimana?,” tanyanya.

Apa jawab seorang ibunda, pasti tangisan dan air mata menetes di wajah sembari menjawab, masa depan anaknya suram. Anak menjadi korban egoisme penguasa untuk menguasai dan menguras hak milik. Pertanyaan itu lebih layak diajukan kepada bapak yang melepasakan alam negeri ini. Ayah melepaskan kekayaan alam, ratusan hektar hutan, ribuan hektar lahan demi sebatang rokok.

Harga sebatang rokok tak sebading harga satu pohon dan ribuan lahan kelapa sawit. “Bapa ondo tidak pikir kami generasi sekarang, dia hanya pikir  uang untuk beli Rokok satu batang, kopi gula dan minuman,” kesal Rosita dalam tulisannya. (Jubi/Mawel)

Tags:
Editor : MUSA ABUBAR
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  SUARA ANAK KEEROM