RATUSAN MAHASISWA TUNTUT PERDA MIRAS

share on:
Mahasiswa Saat Berada di Halaman Kantor DPR Papua. (Jubi/Arjuna)

Jayapura, 25/4 (Jubi) – Ratusan mahasiswa dari beberapa universitas yang ada di Jayapura yakni Uncen, Umel Mandiri Stikom dan USTJ mendatangi kantor DPR Papua, Kamis (25/4).

Kedatangan mahasiswa yang koordinir Tanius Gomba itu menuntut legislatif segera mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) tentang pelarangan minuman keras (miras) di Papua.

Dalam orasinya Tanius Gomba mengklaim jika miras bukan budaya orang Papua sehingga DPR Papua perlu membuat Perda miras dan tidak mendengar intervensi dari pihak manapun.

“Sudah banyak masyarakat Papua yang korban karena miras. Tidak ada untungnya miras beredar karena banyak menimbulkan dampak negatif,” kata Tanius Gomba.

Hal nyaris senada dikatakan Ketua BEmM Fisip Uncen, Zet Wenda dalam orasinya. Menurutnya miras tidak hanya menjadi penyebab kriminal, kecelakaan lalu lintas, namun juga Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

“Banyak dampak negatif dari miras. Untuk itu kami minta dangan tegas kapada DPR Papua agar segera mmbuat Perda miras di Papua sebelum miras terus mengorbankan generasi muda Papua. Segera tutup toko dan kios yang menjual miras,” kata Zet Wenda.

Perwakilan BEM Stikom, Hendrikus Yeimo. Menurutnya, semua pihak harus bersama-sama dan saling mendukung agar Perdas miras segera diterbitkan. “Sudah banyak yang jadi korban miras di Papua. Mulai dari anak kecil, remaja hingga ibu-ibu rumah tangga,” ujar Hendrikus Yeimo.

Massa lalu membacakan dan menyerahkan statemen kepada DPR Papua  yang diwakili oleh Ketua Baleg DPR Papua, Max Mirino, Anggota Baleg, Yulius Rumbairusi dan Carles Simare-mare. Adapun statemen massa diantaranya mendesak agar segera diterbitkan Perda miras, segera tutup toko yang menjadi distributor miras serta segera sosialisasikan Perda miras ke semua kabupaten/kota agar ditindak lanjuti oleh DPRD setempat.

Menanggapi tuntutan tersebut Yulius Rumbairusi yang juga Ketua Komisi B DPR Papua mengatakan, beberapa waktu lalu DPR Papua nyaris mengesahkan Perda. Saat itu ada dukungan dari masyarakat termasuk pemuda dan gereja agar miras bukan dibatasi, tapi ditutup.

“Kami sudah buat drafnya, dan bukan lagi membatasi tapi melarang. Gubernur yang baru juga mendukung itu dan kami meras diatas angin karena mahasiswa juga mendukung. PAD dari miras tidak berpengaruh. Kita tidak butuh miras untuk PAD kita. Kekayaan alam Papua sudah cukup bagi PAD,” kata Yulius Rumbairusi.

Sementara itu ketua Baleg DPR Papua, Max Mirino mengungkapkan, satu bulan dari sekarang pihaknya akan mengesahkan Raperdasi tentang miras.

“Ini gayung bersambut kami sudah berjuang sekian tahun untuk itu dan beberapa hari lalu gubernur baru menyentil miras. Sekarang mahasiswa dan kalian datang pada waktu yang pas. Kita harap Raperdasi itu bisa segera kita sahkan,” kata Max Mirino.

Menurutnya, semua pihak harus sepakat menjadikan miras musuh bersama. Begitu Raperdasi disahkan bukan berarti perjuangan sudah berakhir. Tapi baru dimulai. Perda bukan senjata ajaib yang bisa merubah segala-galanya.

“Kita harus tetap berjuang untuk konsisten dangan itu. Saya tidak mau setelah ini ada mahasiswa yang mabuk di jalan,” tegas Max Mirino. (Jubi/Arjuna)

Editor : dominggus a mampioper
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  RATUSAN MAHASISWA TUNTUT PERDA MIRAS