ADA APA DI TEROWONGAN BIG GOSSAN ?

share on:
Open Pit Mining di Grassberg berakhir 2015 dan under ground mining menjadi salah satu produksi tambang PT Freeport Ind. Big Gossan sebagai gambaran awal tragedi bawah tanah di perusahaan tambang emas, perak dan tembaga di Tanah Papua.(Jubi/ist)

Jayapura, 17/5 (Jubi)—Terowongan tambang Big Gossan sudah dimulai dengan pembuatan terowongan utamanya sejak 2006 dan sudah berproduksi pada 2009 lalu. Secara geologis, Big Gossan adalah bagian dari zona cebakan bijih yang disebut Distrik Gunung Bijih Timur yang punya kadar tembaga dan emas yang tinggi dan mengandung mineral logam ikutan lainnya.

Frank Nelson yang pertama kali menemukan blok penambangan baru, tubuh bijih Big Gossan pada 1976. Big Gossan setelah melalui beberapa studi kelayakan dan eksplorasi ternyata  punya potensi cadangan sebesar 55 juta ton dengan kadar tembaga(Cu) 2,3 persen dan emas(Au) 1, 1 gram per ton bijih.

Meskipun cadangan Big Gossan lebih kecil dari open pit mining Grasberg maupun tambang bawah tanah DOZ . Namun yang jelas Big Gossan dari kajian ekonomi menguntungkan untuk ditambang karena tingginya kadar tembaga(Cu) dan emas(Au). Apalagi Big Gossan ini akan menutupi penurunan produksi dari open pit mining Grassberg pada 2015 mendatang.

Melihat potensi Big Gossen yang tabloidjubi.com kutip dari buku berjudul Dari Grassberg Sampai Amamapare Proses Penambangan Tembaga dan Emas Mulai Hulu Hingga Hilir yang ditulis Armando Mahler dan Nurhadi Sabirin. Menunjukan kalau Big Gossen ini termasuk salah satu potensi tambang yang dimiliki PT Freeport untuk terus digali dan diproduksi.

Big Gossan termasuk salah satu lokasi tambang yang termasuk dalam perluasan areal Kontrak Karya II PT Freeport Ind. Adapun areal dengan kontrak karya kedua antara lain Deep Area, DOM dan Big Gossan. Sebelumnya areal Kucing Liar dan Intermediate Ore Zine (IOZ) masih terus beroperasi.

Big Gossan ini sangat penting karena pada saat yang bersamaan open pit mining di Grasberg sudah berkurang produksinya dan akhirnya akan ditutup pada 2015. Longsornya bawah tanah di area Big Gossan menyebabkan lima orang tewas dan puluhan karyawan terjebak dalam terowongan bawah tanah telah menunjukan tingkat produksi yang tinggi jelang open pit mining Grassberg ditutup.

Walau demikian menurut Presiden Direktur PTFreeport Indonesia Rozik B. Soetjipto runtuhnya sebagian terowongan di area fasilitas pelatihan Big Gossan terjadi di area yang letaknya jauh dari lokasi pertambangan aktif. Lebih lanjut urai Rozik  diperkirakan tidak akan memiliki dampak yang signifikan terhadap kegiatan operasional dan perkembangan.

Apakah ini karena gejala alam, faktor human error atau akibat kejar produksi jelang 2015 hingga mengabaikan faktor-faktor keselamatan? Bahkan Gubernur Enembe memperingatkan PT FI agar lebih memperhatikan keselamatan manusia khususnya karyawan yang bekerja di under ground mining. Sedangkan dugaan lain menyebutkan  faktor curah hujan yang tinggi di areal penambangan. Bahkan ada yang bilang insiden ini murni kecelakaan kerja dan bukan bencana alam di dalam terowongan bawah tanah Big Gossen.

Pakar geologi dan tambang menyebutkan kalau prinsip-prinsip  yang digunakan dalam melakukan tambang bawah tanah adalah selalu mengikuti jalur air tanah. Ini artinya setiap penggalian tambang selalu ada jalur air tanah untuk memudahkan penggalian tambang. Cilakanya kalau curah hujan yang tinggi di wilayah sekitar tambang akibatnya bisa runtuh dan memutuskan terowongan bawah tanah.

Yang jelas wajah Grasberg dan Ersberg sudah berlobang menyerupai danau diketinggian ribuan meter. Sedangkan areal bawah tanah atau under ground mining tampak berupa  jalur tikus yang mengikuti jalur air tanah.  Pasalnya seberapa jauh dampak yang akan terjadi pasca penambangan PT Freeport di daerah Bumi Amungsa.

Wajah gunung sudah berbopeng-bopeng  dan banyak jalur bawah tanah sedangkan daerah dataran rendah di Bumi Kamoro terus semakin dangkal akibat proses sedimentasi. Ironi memang daerah gunung berlobang sedangkan di daerah dataran rendah tertimbun tailing.

Andaikata PT Freeport pergi tahun 2041 tetapi dikabarkan akan menambah 30 tahun lagi sehingga tahun 2071 baru hengkang dari tanah Papua.  Bagi orang-orang pertambangan mengembalikan ke bentangan awal sudah tak mungkin lagi tapi bagi mereka adalah bagaimana memperbaikinya agar aman dan tak memberikan dampak negatif.

Walau PT FI telah menegaskan tak ada ghost town alias kota hantu pasca tambang dan semua itu dijamin. Paling tidak semua pihak berharap agar  masyarakat di Bumi Kamoro dan Amungsa  bisa mendapat setetes emas (Au), perak(Ag) dan tembaga (Cu) di tengah hijaunya hutan dan salju abadi pasca tambang di sana.(Jubi/Dominggus A Mampioper)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  ADA APA DI  TEROWONGAN BIG GOSSAN ?