PIHAK KETIGA DIDUGA BERMAIN DIBALIK PERANG SUKU NDUGA

share on:
Logo Kabupaten Nduga (Ist)

Jayapura, 4/6 (Jubi)Pihak kepolisian dinilai terlena, tidak bertaring dalam perang suku di Kabupaten Nduga, Papua yang sudah berlangsung selama tiga bulan yakni sejak  Maret hingga  Mei.  Peristiwa ini menelan korban jiwa tapi juga kerugian  harta benda.

Sebagian warga harus jadi janda dan duda karena orang terkasih meninggal. Sebagian anak jadi yatim piatu karena kedua orang tuanya meninggal dalam peristiwa tersebut. Namun, terkesan polisi membiarkan masalah itu berlangsung. Korps seragam cokelat ini dinilai lebih berani menghadapi demonstrasi damai orang Papua menuntut keadilan dan kebenaran. Demontrans damai, polisi bisa saja cepat beraksi, menangkap dan menembak mati dengan alasan mengangu ketertiban dan kenyamanan dan tidak ada izin.

Tapi, kasus perang suku Nduga yang berpusat di Kabupaten Jawijaya, yang jelas-jelas mengangu kenyamanan masyarakat, korban jiwa berjatuhan, korban jiwa dan kerugian material, dibiarkan. “ Tujuh orang terpanah  mati, puluhan luka dan 20 rumah dibakar,” kata Ronald Lokbere, Sekretaris Jendral Ikatan Pelajar Mahasisiwa Kabupaten Nduga Se Indonesia (IPMNI) ke tabloidjubi.com, di Jayapura, Selasa  (4/6).

Kata dia, polisi tak menangkap satu pun pelaku atau saksi atau aktor intelektualnya. Mereka (Polisi) hanya menyita alat perang. Terkesan ada pembiaran dan pemeliharaan. Diduga, pembiaran itu terjadi karena perang suku itu dari satu lingkaran kejahatan  kepentingan yang melibatkan aktor lokal dan non lokal. “Aktor Lokal ini pasti Bupati dan Ketua DPRD yang diduga menjadi pemicu dibalik perang suku itu,” tuturnya.

“Aktor non lokal diduga dari BIN, Militer, Kepolisian dan Investor,” tutur Sekretaris Jendral Asosiasi Mahasiswa Pengunungan Tengah Papua Se Indonesia (AMPTPI), Markus Haluk. Lanjut dia, para aktor intelektual menjadikan warga masyarakat yang sedang konflik ini sebagai tamengnya. “Masyarakat ini menjadi tameng para aktor,”tuturnya lagi.  Masyarakat menjadi tameng guna mensukseskan kepentinganya di Nduga.

Pihak keamanan bisa saja bermain disana untuk kepentingan pos atau Kapolres, Koramil atau Kodim di Nduga. Atau investor demi mengincar lahan bisnisnya di kabupaten yang berada di kaki Gunung Kumul (Trikora) itu.  Menurut Markus, permainan aktor non lokal ini tidak disadari aktor lokal. Aktor lokal eksis mempertahankan egonya yang seolah-olah kehendaknya. Selagi belum ada kesadaran, menurut dia, konflik akan terus terjadi. “Konflik akan berakhir bila aktor lokal keluar dari lingkaran kepentingan aktor non lokal ini,” katanya.

Masih menurut Markus, jalan satu-satunya penyelesaian konflik adalah menyadari permainan dari aktor lokal dari pada  mengharapkan penegakan hukum. “Penegak hukum tidak bisa diharapkan. Apa yang mau ditegakkan? Dia sendiri melangar hukum,” kata Markus lagi.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol I Gede Sumerta Jaya, saat dikonfirmasi mengatakan, pihak kepolisian sama sekali tidak mempunyai kepentingan di balik konflik Nduga. Polisi hanya mengalami kesulitan menangkap aktor karena melibatkan masa. “Tidak ada kepentingan apapun,” ujarnya. Dia menambahkan, aparat kepolisian kesulitan menangkap pelakunya karena melibatkan masa.  “Lebih mudah menghadapi demontran Papua karena jelas penangungjawabnya. Kalau ada keributan, kita tinggal amankan penangungjawabnya,” ungkapnya. (Jubi/Mawel)

 

Tags:
Editor : MUSA ABUBAR
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  PIHAK KETIGA DIDUGA BERMAIN DIBALIK PERANG SUKU NDUGA