HUTAN LINDUNG DIANGGAP HAMBAT PEMBANGUNAN DI ASMAT

share on:
Hutan Asmat (Ist)

Jayapura, 1/7 (Jubi) – Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kabupaten Asmat, Gregorius Tuantana menilai, SK Menteri Kehutanan 782 Tahun 2012 yang menetapkan 39 persen hutan wilayah Kabupaten Asmat sebagai kawasan lindung dan 12 persen kawasan konservasi, sangat menghambat pembangunan. “Kalau semua masuk hutan lindung, pembangunan akan stack,” tuturnya ke tim trip jurnalis WWF di Kabupaten Asmat, 22-26 Juni 2013.

Sehingga menurut Gregorius, perlindungan hutan Asmat itu tidak akan bisa berjalan mulus. Perlidungan hutan akan menjadi masalah karena kebutuhan kayu Kabupaten Asmat sangat tinggi. “Semua pembangunan menggunakan kayu. Dari bangunan jembatan, rumah dan perkantoran, menggunakan kayu,” tuturnya.

Namun bagi WWF, kebutuhan kayu yang tinggi itu bukan alasan untuk pemerintah tidak melindungi hutan Asmat. Pemerintah bisa meminimalisir penggunaan kayu dalam pembangunan dan membangun Asmat dengan pembangunan non kayu. “Kita mendorong peningkatan kesadaran pemerintah dan warga untuk memanfaatkan hasil hutan non kayu dan mendapatkan benefit,” tutur Wika Rumbiak, salah satu aktitivis WWF di Kabupaten Asmat. (Jubi/Mawel)

Editor : CUNDING LEVI
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  HUTAN LINDUNG DIANGGAP HAMBAT PEMBANGUNAN DI ASMAT