PENDERITA KUSTA DI MUMUGU TANPA PERHATIAN PEMERINTAH

share on:
Salah Satu Warga Mumugu yang menderita Kusata (Alfian Kartono/Kompas.com)

Jayapura, 4/7 (Jubi) – Puluhan warga Kampung Mumugu, Distrik Sawaerma, Kabupaten Asmat menderita penyakit kusta. Para penderita kusta ini tak mendapat perhatian serius dari pemerintah kecuali gereja Katolik melalui Sesi Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Agast dan WWF.

Pernyataan itu disampaikan kepala Kampung Mumugu, Dominikus Taim kepada trip jurnalis WWF beberapa waktu lalu. “Penyakit menular yang terus menyerang warga saya. Warga nyaris luput dari perhatian pemerintah daerah, apalagi pusat, dalam beberapa tahun terakhir,” katanya.

Menurut Dominikus, perhatian yang diterima dari gereja saja. “Perhatian hanya tim dari Keuskupan Agats lewat SKP yang dari dulu ada disini membantu kami. Keuskupan juga yang terus menolong kami sampai pernah membawa Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi di kampung kami ini. WWF juga sekarang sudah ada,” katanya.

Kata Dominikus, sejak kunjungan Menteri Kesehatan pada tahun 2013 ini, barulah tim kesehatan sering datang. “Sejak Januari 2013 sudah ada seorang mantri dan satu perawat yang ditugaskan menetap di sini. Sebelumnya, yang datang hanya dari Keuskupan. Pemerintah jarang, padahal masyarakat begitu merindukan pelayanan kesehatan,” katanya.

Kunjungan, penempatan tenaga medis dan pemberian obat kemungkinan tidak mebantu warga Kampung Mumugu keluar dari penderitaan. Warga yang menderita kusta tinggal serumah dengan yang sehat. “Para penderita penyakit menular ini tinggal bersama istri dan beberapa orang anaknya yang masih kecil dalam satu rumah yang sangat tidak layak. Rumahnya berdiding dan bertap daun sagu dan berlantai kulit kayu dibentangkan atas beberapa kayu rumah pangung,” tuturnya.

Salah satu penderita mengaku penyakit kusta di Kampung mumugu telah lama. Sebagian warganya telah meninggal dunia. “Saya sudah lama sakit begini. Awalnya tak pernah minum obat. Sekarang baru sudah dapat obat dari pemerintah. Sebelumnya juga banyak yang kena dan sudah meninggal juga. Kami dapat obat setelah ada ibu Menteri datang disini,” kata Agus Toirokop salah satu penderita Kusta yang ditemui.

Pria tua hanya duduk di tempat tidur dari kulit kayu yang tersusun di atas lantai rumah itu mengaku sudah banyak warga kampung Mumugu yang terserang kusta dan meninggal. Dirinya masih bertahan hidup karena sudah ada obat dari pemerintah yang diterima sejak awal tahun 2013.

Kondisi Agus Toirokop masih tergolong lebih baik jika dibandingkan dengan ibu Jemiap Safina yang juga menderita kusta. Kondisinya yang lemah terbaring di tempatnya beristirahat dari kulit kayu. Tubuh kurusnya berusaha bangkit dan duduk kala tim trip jurnalis WWF Indonesia memasuki gubuknya yang ditinggali bersama sang anak Hendrikus Taima, lelaki yang mulai beranjak pemuda namun tak pernah mengenyam bangku pendidikan.

“Ibu sudah sakit sejak lama. Sekarang sudah mulai minum obat sehingga badanya kelihatan baik. Biasanya badan ibu bengkak-bengkak,” kata Hendrikus ketika ditanya kondisi ibunya yang lebih memilih diam entah apa alasannya. Hendrikus juga mengakui jika sudah banyak korban meninggal akibat penyakit itu tanpa mendapat obat pemerintah.

Data yang diperoleh dari Puskesmas Pembantu Mumugu yang baru resmi ada sejak tanggal 21 Januari 2013 dimana hanya ada satu orang Mantri Kesehatan dan seorang perawat, mencatat jumlah warga kampung Mumugu bawah yang menderita kusta, saat ini mencapai 20 orang, dan beberapa orang lagi yang belum terdata baik ada di kampung Mumugu Atas alias daerah batas Batu dengan kabupaten Nduga yang didiami sang kepala Suku Benjamin Menja.

“Kami di sini sejak akhir bulan Januari 2013 lalu. Kami berdua adalah tenaga kontrak dari Dinas Kesehatan Asmat. Disini kami fokus untuk pelayana kesehatan pada warga Mumugu, terutama penderita Kusta,” kata sang Mantri Zainal Abidin didampingi perawatnya Fransina Gotonem.

Pria asal Bone Sulawesi Selatan yang sudah enam bulan terakhir mendedikasikan diri melayani warga Mumugu mengatakan, banyak suka duka yang dialaminya saat bertugas di Mumugu, beruntung ada sang perawat rekannya yang selalu saling member motivasi sehingga terus bertahan dan komitmen bekerja.

Menyinggung penanganan penderita kusta di Mumugu, menurut Zainal Abidin, dia dan Fransina Gotonem awalnya kesulitan memberikan obat pada para penderita yang selalu sulit untuk diajak mengkonsumsi obat dari pemerintah. Untuk obat kusta sendiri, dalam satu blister yang wajib dihabiskan berisi 28 tablet, dimana untuk hari pertama pasien wajib minum Enam butir dan selanjutnya satu butir per hari secara rutin. Tablet kusta sendiri digolongkan dua macam yakni untuk penderita kusta dewasa dan anak-anak.

“Awalnya mereka tak mau minum obat. Saat ini sudah ada yang dengan kesadaran yang datang sendiri, ada juga yang harus kami jemput bola dirumah, terutama para penderita orang tua,” jelas Zainal dan dengan setia didamping Fransina.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Asmat, Drs. Gregorius Tuantana mengatakan pemerintah mulai membangun 21 rumah untuk pemisahkan penderita kusta. “Kita telah membangun 21 rumah untuk kepentingan pegobatan warga,”tuturnya. (Jubi/Mawel)

Editor : CUNDING LEVI
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  PENDERITA KUSTA DI MUMUGU TANPA PERHATIAN PEMERINTAH