KANTOR LPMP PAPUA DI PALANG

share on:
Spanduk yang dipasang di depan Pintu Utama Kantor LPMP Papua (Jubi/Musa)

Jayapura, (19/7)Kantor Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Papua dan Papua Barat di Kotaraja, Abepura, Kota Jayapura, dipalang. Pemalangan sudah berlangsung selama tiga hari berturut-turut yakni sejak Rabu – Jumat (17-19/7).  

Pantauan tabloidjubi.com, Jumat(19/7) sore, ratusan pegawai Kantor LPMP memalang Kantornya dengan membentangkan spanduk kira-kira berukuran 2 x 2 meter persis didepan pintu masuk utama. Spanduk yang dibentang bertuliskan ‘kantor ini ditutup sampai ada kejelasan dari manajemen LPMP Papua.’ Tak hanya spanduk, pemalang juga memasang krans bunga bertuliskan ‘turut berduka cita atas matinya karier jabatan struktural dan manajemen LPMP Papua.’

Koordinator pemalangan, Samuel Selly mengatakan, aksi pemalangan tersebut merupakan sikap dari staf LPMP Papua terhadap hal-hal yang terjadi di lembaga ini. Aksi pemalangan sudah berlangsung sejak Rabu, 17 Juli 2013. “Pemalangan sudah berlangsung sejak 17 Juli lalu hingga saat ini,” kata Samuel saat ditemui tabloidjubi.com di Kotaraja, Abepura, Kota Jayapura, Jumat (19/7).

Pemalangan dipicu kebijakan oleh penerimaan dua pegawai yang dilantik menduduki jabatan esalon IV dilakukan pada beberapa waktu lalu. Padahal, ada enam orang pegawai yang diusulkan oleh LPMP Papua untuk mengikutites dan menduduki jabatan itu. Namun, hanya dua yang lulus dan dilantik.Sementara,empat lainnya tidak lulus. “Alasan kami untuk lakukan tindakan ini karena ada sejumlah kibajakan atau hal-hal yang diputuskan tidak sesuai dengan yang sebenarnya,” kata Samuel lagi.

Samuel menjelaskan, pada saat formasi eselon IV untuk di LPMP Papua dan Papua Barat diusulkan lewat kepala LPMP melalui suatu pertimbangan. “Saat formasi eselon IV untuk di LPMP Papua dan Papua Barat diusulkan lewat kepala LPMP melalui suatu pertimbangan. Kantor ini mengusulkan lewat kepala LPMP dengan pertimbangan kepala setempat karena disini juga kepala kantornya sebagai Baperjakat, dan mengusulkan enam orang yang mengikuti seleksi di Jakarta,” ujarnya.

Namun, lanjut dia, setelah ada dua nama yang sebenarnya tidak melalui kantor tapi diterima. “Kita katakan dua orang ini siluman. Dari segi kantor serta administrasi, tidak memenuhi syarat entah mereka lewat jalur mana? Mereka, berdua ini ikut terpilih dan dilantik, sementara dari teman kami yang enam orang itu,  hanya dua yang diterima dan dilantik pejabat esalon IV di LPMP Papua dan Papua Barat,” ujarnya lagi.

Sebagai rekan kerja di LPMP, kata dia, dua orang pegawai dari enam nama yang diusulkan dari Kantornya yang tembus lalu dilantik, disetujui oleh pegawai lainnya atau rekan-rekan kerja. “Kita sebagai teman di kantor, untuk dua orang dari enam nama yang diusulkan dan dilantik itu kita sangat setuju, tapi yang dua nama dari luar yang juga ikut dilantik, kami sangat tidak setuju karena tidak melalui prosedur. Dua orang inilah yang membuat kami tidak puas,” tuturnya.

Bertolak dari masalah tersebut, manajemen kantor dinilai sudah rusak. Penilaian lain, diduga ada sesuatu yang tidak beres. “Karena kami tahu bahwa ini kalau terjadi diluar, itu berarti ada sesuatu yang tidak beres,” tegasnya. Pemalangan akan berlangsung hingga kepala badan Jakarta turun. “Kami akan melakukan pemalangan ini sambil menunggu dari pusat atau kepala badan Jakarta, atau Kepala Badan SDMP dan PMP atau kepala LPMP Papua tiba dikantor. Mereka dari Jakarta harus tiba di Jayapura  dan memberikan penjelasan. Setelah mendengar penjelasan, baru kita bisa buka palang,” ungkapnya.

Para pegawai yang memalang sepakat akan tetap melakukan pemalangan selama pejabat LPMP belum ditemui. “Kami tetap bertahan di kantor ini sampai mereka (pejabat) harus ada di kantor ini dan memberikan penjelasan. Kepala LPMP  Papua harus menghubungi pejabat pusat yang di Jakarta atau terkait untuk turun jelaskan masalah ini,” tegasnya lagi.

Dia menambahkan, pemalangan yang dilakukan bukan bersifat anarkis namun merupakan bagian dari kekecawaan pegawai.  Aksi palang dilakukan oleh ratusan pegawai LPMP. Total pegawai yang bekerja di kantor tersebut sebanyak 115 orang. Akibat pemalangan, sejumlah program macet. Program yang macet diantaranya, kurikulum 2013 yang akan diterapkan di setiap sekolah tidak berjalan.

Sementara itu, kepala LPMP Papua, Saul Bleskadit saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (19/7) sore mengatakan, dalam agenda tersebut ada yangdiangkat dan ada yang tidak diangka. Bagi dia,  itu hal biasa. Menurutnya, pegawai yang tak diangkat itu tentu  merasa kecewa. “Itu kan diangkat menjadi pegawai negeri disetiap kultur dan ditempatkan dimana saja,”ujarnya. Perekerutan pejabat esalon IV tersebut terbuka. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) membukanya secara terbuka. Dari Papua mengusulkan enam orang pegawai. Tetapi, keenam pegawai yang diusulkan, ditambah lagi dari luar. Penambahan dua orang tersebut merupakan kebijakan dari pusat yakni Jakarta.

“Jadi, dua orang yang dibilang tidak sah itu kebijakan dari pusat ditambah dengan dua orang dari enam orang pegawai yang diusulkan dari Jayapura,” tuturnya. Lanjut dia, kedua orang yang diusulkan oleh pusat juga bersama-sama mengikuti tes bersama enam orang yang diusulkan dari LPMP Papua. Hasil tes ditentukan oleh LPMP Pusat. “Mereka yang menentukan mana yang berhak menenduduki jabatan,” tuturnya. Dia membantah tak memberikan rekomendasi bagi pegawai yang diusulkan untuk mengikuti tes. “Kebijakan itu ada di pusat. Saya tidak pernah memberikan rekomendasi,” ujarnya.

Dia mengaku, tuntutan pemalang untuk meminta menhadirkan pejabat esalon I di Jakarta yang menentukan hasil tersebut sepertinya agak susah. “Kebijakan sudah terlanjur di keluarkan,” ujarnya. Dia berencana mendatangi pegawainya untuk meminta mereka melepas palang pada Senin (21/7). Ia menambahkan, fasilitas yang dirusak oleh pemalang dinilai tindakan anarkis. Tindakan itu juga merupakan tindakan kekerasan. “Seharusnya tindakan kekerasan tidak boleh dilakukan. Mereka lakukan itu karena emosi dan marah dengan kebijakan yang ada,” ungkapnya. (Jubi/Musa)

 

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  KANTOR LPMP PAPUA DI PALANG