MASYARAKAT MINTA JAMINAN KEAMANAN, AKTIVITAS PEREKONOMIAN WAMENA SEMPAT LUMPUH

share on:
Sejumlah pertokoan di Kota Wamena ketika menutup usahanya pada Kamis (26/9). (JUBI/ISLAMI)

Wamena, 26/9 (Jubi)Ribuan masyarakat yang tergabung dalam berbagai paguyuban dan ikatan yang berada di Kabupaten Jayawijaya meminta kepada pihak Kepolisian tentang jaminan keamanan, setelah adanya beberapa rentetan kejadian yang dialami masyarakat non pribumi di Jayawijaya.

Hal itu diungkapkan berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam berbagai paguyuban di Jayawijaya, saat melakukan tatap muka dengan Kapolres Jayawijaya dan para forum koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda) Jayawijaya, tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan dan kepala suku se-Jayawijaya di Gedung Ukumearek Asso, Kamis (26/9) dalam menciptakan situasi Kamtibmas di wilayah hukum Polres Jayawijaya.

Sebelum diadakan pertemuan, dari pantauan tabloidjubi.com seluruh toko-toko di Kota Wamena, para tukang ojek dan pelaku bisnis lainya seluruhnya serempak melakukan mogok beraktivitas, sehingga perekonomian jual beli masyarakat sempat lumpuh.

Dalam pertemuan tersebut, masyarakat dari berbagai paguyuban meminta jaminan keamanan setelah banyaknya kasus pemerasan, pemalakan, penganiayaan bahkan hingga tindakan pembunuhan terhadap warga yang terjadi akhir-akhir ini, membuat para pedagang di Kabupaten Jayawijaya menggelar aksi mogok masal.

Aksi mogok masal ini merupakan ekpresi kekecewaan yang dilakukan oleh warga non pribumi terhadap akumulasi persoalan yang selama ini dialami, di mana dalam aksi tersebut seluruh pelaku usaha sepakat menutup toko mereka dan melakukan long march dan pawai kendaraan mengelilingi Kota Wamena sebelum berkumpul di Gedung Ukumearek Asso.

Setelah pertemuan sekitar pukul 14.00 WIT, dari pantauan ada beberapa toko mulai membuka usahanya, meskipun sebagian besar masih menutup rapat-rapat usaha mereka, dimana dalam kesepakatan maupun himbauan bahwa akan menutup usaha mereka hingga satu minggu lamanya.

“Dengan persoalan-persoalan yang timbul itulah yang membuat kami mencari keadilan,” ucap koordinator aksi Iswardi C.B Parany mewakili seluruh paguyuban yang ada di Jayawijaya pada saat tatap muka.

Iswardi menjelaskan, mogok penggiat usaha tersebut dilakukan berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan, setelah maraknya pemerasan yang dilakukan oleh orang mabuk di tempat-tempat usaha mereka, sehingga berakibat pada pengeroyokan, pembakaran hingga pembunuhan.

“Pengeroyokan terhadap sopir di Terminal Jibama, pembunuhan terhadap penjaga kios di Jalan Sulawesi, pembunuhan tukang ojek sejak tahun 2008, pengerusakan dan pembakaran mobil di Wouma kami mengutuk keras tindakan yang tidak berperikemanusiaan itu,” tegasnya.

Atas dasar itulah seluruh paguyuban meminta kepastian hukum dan keamanan terhadap para penggiat usaha, maupun seluruh masyarakat di Kabupaten Jayawijaya. Bukan hanya itu,  melalui pernyataan sikap yang dilakukan oleh seluruh paguyuban nusantara, mereka meminta agar para pelaku kekerasan tersebut ditindak seadil-adilnya.

“Kami mohon agar aparat keamanan lebih responsif dan lebih giat melakuan razia teruama warga yang memegang senjata tajam dan orang mabuk,” pintanya.  Menanggapi berbagai masukan yang dilontarkan kepada pihak Kepolisian, Kapolres Jayawijaya AKBP Johnny Eddizon Isir menegaskan, masukan maupun koreski yang disampaikan melalui pernyataan sikap seluruh paguyuban akan ditampung untuk ditindaklanjuti. Namun, dia menggaris bawahi agar persoalan yang terjadi harus dilihat oleh seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Jayawijaya.

Johnny mengaku, pekerjaan utama dan harus dilihat adalah terkait peredaraan minuman keras (Miras) maupun minuman lokal (Milo) yang kian hari marak dijual. Dia menilai, inti persoalan utama segala tindak kejahatan adalah miras, di mana  miras menjadi pemicu utama terjadinya kasus-kasus kekerasan seperti halnya pemerasan, pengrusakan, pengeroyokan hingga pada pembunuhan.

“Peredaran miras di Wamena ini seperti akar tunggal yang memang tak bisa dicabut. Hampir sebagian masyarakat sudah bisa membuatnya, lantas pembuatan milo maupun balo yang kian hari membuat resah warga itu apakah merupakan budaya orang Wamena? Nah, sepengetahuan saya untuk warga asli sini sejak nenek moyangnya, tak ada yang namanya milo itu. Kita pu warga dari luar yang membawanya, sehingga implikasinya banyak sentra-sentra pembuatan miras lokal di Wamena,” tegas Kapolres.

Maka dari itu, Kapolres Jayawijaya meminta kepada seluruh masyarakat untuk bergandengtangan mencabut akar permasalahan tersebut. Diakui pula, anggota Polres Jayawijaya juga dengan keterbatasan personil hanya sekitar 45 persen memberikan jaminan kepada warga Wamena untuk tetap meningkatkan kemanan, namun Kapolres berharap warga juga bisa menjadi polisi di kalangan masyarakatnya sendiri.

“Pada intinya kami tidak akan pernah tinggal diam, mari kita sama-sama bergandengan tangan untuk menjaga keamanan ini, jika memang mendapati orang mabuk dan segala tindakan kejahatan lainya dapat melaporkan ke Kepolisian,” kata Kapolres.

Disisi lain Sekda Kabupaten Jayawijaya, Yohanes Walilo yang mewakili Bupati Jayawijaya menambahkan, pemerintah tetap mengutuk keras adanya kejadian-kejadian kekerasan terutama kejadian pelemparan yang menyebabkan kematian terhadap pedagang di Jalan Sulawesi beberapa waktu lalu.
“Pemerintah mengutuk keras pembunuhan itu. Tidak ada agama di dunia ini mengajarkan untuk membunuh,” tandasnya sembari meminta agar para pelaku usaha untuk kembali membuka aktifitas usahanya. (JUBI/ISLAMI)

Editor : MUSA ABUBAR
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  MASYARAKAT MINTA JAMINAN KEAMANAN, AKTIVITAS PEREKONOMIAN WAMENA SEMPAT LUMPUH