DEKAN FKIP SESALI GURU KONTRAK LUAR PAPUA

share on:
Dekan FKIP Uncen, Nomensen Mambraku (Jubi/Musa)

Jayapura, 14/11 (Jubi)Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Nomensen Mambraku menyesali tindakan Pemerintah Kabupaten dan Provinsi Papua yang mengontrak sejumlah guru ke sejumlah daerah-daerah pemekaran di Papua pada beberapa waktu lalu. Padahal, pihaknya baru saja meluluskan 700 guru dalam wisuda yang berlangsung Maret lalu.

Keterangan tersebut disampaikan kepada wartawan usai lounching buku Pendidikan dan Peradaban Papua di Aula FKIP Uncen Abepura, Kota Jayapura, Kamis (14/11). Menurut dia, perlu ada semacam kesepakatan-kesepakatan kerja yang profesional, artinya  FKIP sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi (LPT) yang menyiapkan guru. Guru yang disiapkan profesional karena didik seusuai dengan keprofesional mereka hingga bidang-bidang keahlian mereka.

Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum  nasional dan kurikulum lokal. Kurikulum tersebut dipakai agar setiap lulusan dari Uncen bisa beradabtasi  dengan lingkungan alam, budaya dan lingkungan sosial. Setiap tahun, FKIP meluluskan guru terbanyak. Seperti tahun 2013 ini, FKIP meluluskan 700 guru.

Jika tak diangkat, kata dia, lulusan guru dikemanakan lalu ada kebijakan dari pemerintah terutama kabupaten-kabupaten pemekaran mendatangkan guru dari luar Papua dengan istilah guru kontrak, dan guru pinjaman. “Setelah dicek, kebanyakan guru-guru itu dilatih selama tiga bulan, dan dua minggu kemudian diangkat menjadi guru dan ditempatkan di daerah pedalaman terutama kabupaten pemekaran untuk memenuhi kebutuhannya. Sementara yang di didik bertahun-tahun, tidak di manfaatkan,” ujarnya.

“Menurut saya, ini mesti harus ada koordinasi dari Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan kota serta pihak FKIP melalui Rektor,” tuturnya. Kedepan, kata dia, setiap lulusan guru nanti, dirinya akan menyurati rektor dan dilanjutkan ke Gubernur agar guru yang diluluskan dapat ditempatkan diseluruh wilayah yang ada di Papua baik di Papua maupun di Papua Barat.

Maximina Laian, mahasiswi program studi bimbingan dan koseling FKIP Uncen menilai, kemungkinan pemerintah daerah dan kabupaten pemekaran di Papua memilih mendatangkan guru kontrak dari luar Papua karena kebanyakan guru sudah selesai di didik tidak merasa terpanggil sebagai seorang guru. Lantaran demikian, banyak guru  terpaksa ‘banting stir’ yakni mengabdi dan bekerja di instansi lain.  “Banyak kaka-kaka senior saya yang sudah selesai tapi tidak merasa terpanggil sebagai seorang guru. Sehingga ia tidak siap untuk ditempatkan dimana saja,” ujarnya.

Lanjut dia, kinerja dari mereka juga hampir tak sesuai dengan bidang yang ditekuni semasa duduk dibangku kuliah. “Mungkin akibat dari itu yang dilihat oleh Pemda, sehingga memilih guru kontrak dari luar Papua,” ujar Maximina lagi. Selain itu, kebanyakan putra asli daerah, terutama mereka yang dari daerah pegunungan, setelah menyelesaikan kuliah di FKIP lalu diminta kembali mengabdi di daerahnya namun tidak mau. Banyak diantaranya memilih mengabdi di kota.

Hal berikut adalah, menurut Maximina, guru tak beta di daerah kampung atau daerah yang jauh dari kota karena sewaktu kuliah, kurikulum muatan lokal dan kreatifitas lokal tak diajarkan. “Karena tidak diajarkan, akhirnya guru yang ditempatkan di daerah yang jauh dari kota, tidak betah,” tuturnya.

Asisten II sekda Provinsi Papua, Elia Loupaty  menilai,  ini merupakan informasi yang penting dan harus diberikan kepada pemerintah daerah. Sebaiknya dekan melaporkan kepada rektor dan rektor menyurat ke gubernur Papua dan Papua Barat serta walikota dan bupati se-tanah Papua bahwa gudang guru ada di Uncen yang siap menghasilkan guru untuk ditempatkan dimana saja. “Saya rasa kalau memang ada surat, kan guru-guru yang dicetak disini pasti mengerti tentang sosial budaya yang ada di Papua, mereka pasti akan ditempatkan dimana saja,” katanya.

Dia berharap, para guru yang baru ditamatkan oleh FKIP, lebih banyak memahami budaya dan keadaan di daerah-daerah yang jauh dari kota agar ketika ditempatkan disana, ia lebih mengerti dan memahami tentang budaya-budaya dan kehidupan masyarakat. (Jubi/Musa)

Tags:
Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  DEKAN FKIP SESALI GURU KONTRAK LUAR PAPUA