80 PERSEN ANAK SEKOLAH DI PAPUA ALAMI HUKUMAN FISIK

share on:
Ilustrasi kekerasan guru terhadap anak didiknya (IST)

Jayapura, 21/11 (Jubi)Sebanyak 16 sekolah yang tersebar di tiga  kabupaten yakni Kabupaten Jayawijaya, Jayapura dan Keerom mulai menerapkan disiplin positif anti kekerasan untuk menuju sekolah yang aman dan ramah bagi siswa. Program disiplin positif anti kekerasan ini adalah tindak lanjut dari survey yang dilakukan Unicef tentang kekerasan di Papua.

Dari survey yang dilakukan, 80 persen anak-anak di Papua telah mengalami hukuman fisik.  Dari 30 persennya, anak-anak ini menerima hukuman fisik yang cukup berat. Hukuman itu didapat mulai dari lingkungan sekitarnya dan di lingkungan sekolah. Dalam program tersebut, para guru khususnya dididik untuk bagaimana menciptakan lingkungan pembelajaran yang bebas kekerasan fisik melalui pendekatan disiplin positif.

Tujuan disiplin positif diharapkan sekolah mampu menghadirkan situasi yang aman dan menyenangkan bagi siswa. Unicef juga mencatat, dampak kekerasan sangat buruk bagi pembelajaran, salah satunya anak dapat putus sekolah karena takut dipukuli oleh gurunya.

Pimpinan Unicef Papua dan Papua Barat, Margareth Sheehan mengatakan, program disiplin positif anti kekerasan telah dilakukan sejak akhir 2012 lalu atas kerjasama dengan Dinas Pendidikan setempat. “Program ini hanya kami berikan untuk Papua, tidak ada di provinsi lain. Program ini juga di dukung oleh UNFPA dan Un Women. Kami harap semua anak di Papua dan belahan dunia manapun memiliki hak untuk bebas dari kekerasan, baik fisik, emosional maupun seksual,” kata Margareth ke tabloidjubi.com,  Kamis (21/11).

Salah satu pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan Papua, Hans Hamadi mengatakan masih banyak hak anak untuk pendidikan di Papua belum terpenuhi. Dengan konsisi ini, anak yang telah mendapatkan haknya harus diperlakukan dengan sebaiknya. Salah satunya menghentikan  kekerasan pada anak. “Hukuman fisik disekolah perlu dihentikan. Guru perlu menjadi kreatif untuk menggantikan hukuman fisik,” ujarnya.

Kepala Sekolah SD Bonaventura Sentani, Kabupaten Jayapura, Theodorus Montolalu menuturkan sejak sekolahnya menerapkan disiplin positif anti kekerasan, situasi di sekolah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dulu, lanjut dia,  sebelum menerapkan disiplin positif ini, setiap meja guru yang terdapat di 12 kelas, selalu tersedia penggaris kayu panjang yang seharusnya di fungsinya sebagai alat ukur berubah menjadi alat  untuk memukul siswa. “Jika ada siswa nakal, pasti saja kena hukuman dari penggaris kayu itu. Entah itu siswa dipukul dikaki atau tangannya,” katanya.

Theodorus  menjelaskan, saat pertama kali sistem disiplin positif anti kekerasan diterapkan di lingkunagn sekolahnya, kebanyakan guru masih kaku. Masih ada guru yang melakukan tindakan kekersan. Beberapa kali dijumpai, para guru yang mengajar di kelas dengan memegang penggaris kayu untuk hukuman kepada siswa yang mengganggu dikelas. “Namun saat ini situasi disekolah maupun didalam kelas sangat berbeda. Lambat laun kami dapat menerapkan disiplin positif itu kepada siswa.

Menurut dia, Unicef memberikan 6 langkah positif untuk menghapus kekerasan fisik kepada anak. Saat ini, jangankan dipukul, anak diberi pengertian saja tentang tindakannya yang mengganggu siswa lain, sudah menangis. Dalam pendisiplinan ini, Komite sekolah dan orangtua siswa juga dilibatkan, agar dapat diterapkan juga ditempat lain dan dirumah,” urainya.

Sementara itu, salah satu siswa kelas VI SD Bonaventura, Ria Marcella Andriyani Fatah menuturkan, saat ini banyak terjadi perubahan disekolahnya.  Para guru tak lagi menyeramkan. Banyak diantaranya sudah mengumbar senyuman kepada siswa. “Setiap pagi bapak dan ibu guru berjejer menyambut kami saat tiba disekolah, satu per satu kami disalami. Ini sudah berlangsung sekitar 3 tahun lalu,” ucap dia.

Ria mengaku, jarang melihat ada kekerasana fisik yang dilakukan oleh para gurunya. Bapak dan Ibu guru disekolah sudah lebih mengajar dengan sopan tanpa kekerasan, disiplin dan harus bertanggung jawab atas tugas-tugas disekolah. “Saat ini lebih senang, tidak ada lagi yang dikasari. Dulu, saat melihat teman dipukul atau dijewer, saya agak tertekan dan takut. Tapi saat ini kekerasan fisik itu sudah jarang ditemukan disekolah. Palingan jika ada teman yang nakal dan tidak kerjakan tugas, pasti diberi hukuman dengan cara menulis di buku penghubung dan harus ditanda-tangani orang tua,” ungkapnya.  (Jubi/Musa)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  80  PERSEN ANAK SEKOLAH DI PAPUA ALAMI HUKUMAN FISIK