KABUPATEN MERAUKE BAKAL ALAMI KRISIS PETANI

share on:
Para petani di Distrik Tanah Miring, Merauke. (Levi/Jubi)

Merauke, 4/12 (Jubi) – Sebagai daerah penghasil beras di wilayah tanah Papua, Kabupaten Merauke diprediksi di tahun 2020 mendatang bakal krisis petani. Sebab menurut salah satu petani asal Kabupaten Merauke bernama Sarno (63 tahun), rata-rata petani yang ada di Kabupaten Merauke, terutama di wilayah pemukiman transmigrasi telah berusia lanjut, yakni di atas 50 tahun. “Sementara anak-anak kami tak ada yang mau jadi petani,” katanya, Rabu (4/12).

Menurut Sarno, usia produktif petani biasanya di atas 20 tahunan, sementara rata-rata usia petani, seperti yang ada di Distrik Tanah Miring, Merauke yang terdiri sembilan kampung dengan jumlah sekitar 380 kepala keluarga, rata-rata sudah berusia di atas 50-an tahun atau generasi pertama warga transmigrasi di Merauke. “Jadi bisa saja nanti, 10 atau 20 tahun mendatang, wilayah Merauke akan mengalami krisis petani,” kata warga Kampung Waninggapsai, SP IV, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke ini.

Krisis petani yang dimaksudkan Sarno, karena rata-rata anak mereka, maupun generasi kedua dari para petani di wilayah transmigrasi di Kabupaten Merauke tak mau lagi bekerja sebagai petani. “Misalnya saja, tiga anak saya semuanya tak mau jadi petani. Anak pertama sudah selesai kuliah, yang kedua sedang kuliah di Jawa dan terakhir masih sekolah. Tapi mereka semua tak ingin ikut jejak saya sebagai petani,” katanya.

Menurut Sarno, kemungkinan faktor penyebab utama anak-anaknya tak ingin jadi petani karena bidang pertanian dianggap tak bisa manjadi jaminan hidup di masa yang akan datang. “Bisa dibayangkan, saat ini harga beras per kilo sama dengan harga air mineral per botol yang seharga Rp6000. Sementara harga bahan pokok dan harga  barang kebutuhan lainnya lebih mahal. Sehingga jika hanya mengandalkan hidup sebagai petani, jelas tak mungkin,” katanya.

“Satu hektar sawah dengan modal Rp4 juta bisa menghasilkan 1 ton beras atau kalau di uangkan sama dengan Rp7 juta. Saat ini saya miliki dua hektar sawah, dalam setahun bisa dua- tiga kali panen. Jika setahun dua kali panen, dikalikan dua hektar berarti bisa hasilkan empat ton beras atau sama dengan Rp28 juta. Hasil ini pun masih keuntungan kotor, sebab belum dihitung modal. Belum lagi jika ada gagal panen atau masalah lain,” kata Sarno, yang mengaku mulai menjadi petani sebagai warga transmigrasi di Kabupaten Merauke sejak tahun 1985.

Anggota Komisi I DPR-RI asal pemilihan Papua, Yorrys Raweyai saat berada di  Merauke mengatakan, persoalan krisis petani yang terajdi selama ini bukan masalah di Merauke saja, tapi hampir di semua tempat di Indonesia. “Tak hanya di bidang pertanian, di bidang perikanan dan perkebunan juga punya masalah yang sama persis,” katanya, saat ditemui di Merauke, Rabu (4/12).

Menurut Yorrys, sebenarnya untuk mengatasi persoalan krisis petani bisa diganti menggunakan alat atau mesin. “Modernisasi dengan teknologi ini, pemerintah sudah harus pikirkan. Pemerintah harus menyiapkan bagaimana memberikan stimulan, motivasi, dan sarana-sarana pendukung. Sehingga generasi baru harus bisa jadi petani juga. Sesuai perkembangan dengan teknologi yang ada,” katanya.

Berdasarkan angka sementara hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2013 oleh Badan Pusat Statistik, jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Merauke sebanyak 21,6 ribu rumah tangga, jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum sebanyak delapan perusahaan, dan jumlah perusahaan tak berbadan hukum atau bukan rumah tangga usaha pertanian sebanyak delapan unit. (Jubi/Levi)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  KABUPATEN MERAUKE BAKAL ALAMI KRISIS PETANI