TIGA JAM BERSAMA PENDETA NAOMI SELAN

share on:
Pendeta Naomi Selan bersama putrinya, Kesya Sogalrey. (JUBI/Aprila)

Memaknai Hidup Bersama KAUM MISKIN Kota Jayapura

Jayapura, 04/12 (Jubi) – Mendampingi anak-anak jalanan di Kota Jayapura, Papua bukanlah pilihan hidup Pendeta Naomi Selan. Tapi panggilan Tuhan yang harus dipenuhi untuk memenuhi pelayanan dan proses aktualisasi fungsi gereja yang sebenarnya.

Setelah berkomuni kasi sebe­lumnya dengan Pendeta Naomi begitu dia sering disapa, Majalah Jubi akhirnya mendapat kesempatan bertemu dan ikut beraktivitas dengan pendeta perempuan asal Timor ini. Pertemuan dengan pendeta yang lebih banyak menghabiskan waktunya melayani kaum miskin di jantung Kota Jayapura ini terjadi tepat di hari kasih sayang atau Valentine Day, 14 Februari 2013. Siang itu, wajahnya dipenuhi senyum menyambut kedatangan Jubi. “Akhirnya kita bisa bertemu lagi dik,” sapanya ramah.

Bersama anak bungsunya, Kesya Sogalrey (10 tahun), Pendeta Naomi menyambut Jubi di halaman rumah singgah yang dibangun diprakarsai bersama suaminya, Pendeta Dominggus Sogalrey.
“Kami melayani dengan Gereja Gerakan Pentakosta, lalu akhirnya membuka jemaat sendiri. Saya de­ngan Bapak (suami-red) bergumul untuk mulai di jantung Kota Jayapura. Kami punya beban visi sendiri untuk Kota Jayapura dan Tuhan kasih beban atau visi untuk orang-orang yang terpinggir,” kata Pendeta Naomi memulai ceritanya.
Perempuan Timor beranak dua yang menikah di Dobo, tahun 1997 itu melihat kaum miskin kota di jantung Kota Jayapura bersama kebutuhan mereka. Bera­wal saat suaminya mulai dengan melayani mama-mama pedagang pinang, membangun komsel dan pendidikan Alkitab di tahun 2003. Merekalah yang kemudian menjadi cikal bakal jemaatnya.
“Dari situ suami saya mulai temani anak-anak di Ampera, Kota Jayapura. Berusaha kenal dan mendekati mereka walaupun ada LSM, gereja yang mengaku melayani mereka. Tapi kami coba kenal dunia mereka, karena mereka juga memiliki kelompok atau komunitas sendiri,” katanya.

Dari mereka ini, menurut Pendeta Naomi, dirinya bersama suami akhirnya tahu ada sekelompok anak-anak di kolong Jembatan Overtoom. “Ini tiga tahun lalu. Jadi, karena ada pengakuan bahwa ada gereja, ada LSM yang memperhatikan anak-anak di Ampera jadi coba kita lihat satu titik di mana kita bisa ada dengan anak-anak di jalan ini dan eksis dengan mereka. Akhirnya kami terobos kolong jembatan yang sampai saat ini masih digunakan tiga orang,” jelasnya.

Kesya, Martin dan Pdt. Naomi di bawah jembatan Overtom (JUBI/Aprila)

Di tahun pertama, Pendeta Naomi menemukan satu indikator, mengapa mereka mabuk non-stop. Ini ternyata pelarian melupakan rasa lapar. “Itu yang membuat saya miris sekali dan menjadi sign bagi saya memberi tahu cara, bagaimana mendekati mereka,” cerita alumnus SD Inpres Angkasapura, Jayapura ini.  Memang, pada awalnya dirinya memulai dengan men-dropping bahan makanan langsung ke kolong Jembatan Overtoom, tetapi anak-anak dalam komunitas ini belum bisa berbagi. “Kalau saya stock makanan sedikit lebih, berasnya dijual dipakai beli lem aibon atau miras. Saya bingung dan kehilangan ide, bagaimana saya memulai ini,” kata Pendeta Naomi. Perempuan kelahiran Timor, 25 April 1968 ini membutuhkan satu tahun untuk ngeh pada apa yang harus dikerjakan. Ide dapur umum di jantung Kota Jayapura muncul walau banyak teman-teman, sahabat, dan kenalan yang mentertawakan ide itu.

Pada awal tahun 2009, dirinya bertemu Rinny Modouw, adik junior dalam persekutuan doa yang memberi support kepadanya untuk tetap eksis melayani kaum miskin kota dengan memberi sedikit ide awal terbentuknya dapur umum yang ada hingga saat ini.  “Saat itu kami mulai buka dapur umum bagi siapapun yang membutuhkan makan siang, tanpa harus mengeluarkan uang dari penghasilan seharinya untuk membeli makanan,” katanya.

Apalagi, lanjut Pendeta Naomi, “Sabda Tuhan suatu hari pada saya: Anak, kalau kasih makan anjing, jinak to? Itu menjadi titik sentuh yang dalam buat saya saat itu. Saya tak mengerti arah yang dimaksud Tuhan. Saya sadar sebagai hamba bahwa panggilan untuk mereka adalah jiwa,” jelas pelayan umat Tuhan di Internatio­nal Full Gospel Fellowship – Gereja Injil Seutuh Indonesia (IFGF GISI) yang sementara beribadah menggunakan Lantai 3 Gelael Jayapura.

Pada masa-masa awal, Terminal Taxi Kota Jayapura masih belum digusur dan itu merupakan wilayah ‘merah’ atau rawan kejahatan di jantung Kota Jayapura. Menurut pemerintah, maupun orang lain, daerah itu wilayah yang tidak tersentuh, dimana segala jenis kejahatan berlangsung. “Saya mendapat perlakuan yang tidak bersahabat pada mulanya karena mereka anak-anak terminal yang tatapan matanya kosong dan mereka begitu anti pati terhadap orang luar. Mereka menolak keras orang yang berada di luar area terminal. Pemikiran sederhana saya, dapur ini akan menarik mereka yang tidak punya privasi untuk datang dan menikmati makanan dari dapur ini,” cerita Pendeta Naomi.

Tapi menurut Pendeta Naomi, akhirnya semua kekakuan itu luntur saat mereka melihat keteguhan dan kesungguhan hati yang dimilikinya. “Saya akhirnya bagain dari hidup mereka dan saya bisa diterima, dikasihi lebih dari pada keluarga kandung. Saya betul-betul dijaga, dilindungi, diterima dan kadang saya merasa terlalu berlebih, saya disayangi seperti ini sampai hari ini,” jelasnya.

Disela-sela perbincangan, Jubi memberanikan diri meminta Pendeta Naomi melihat situasi real di bawah Jembatan Overtoom. “Ayo kita pergi ke Ampera dulu sekarang, antar makanan ini. Setelah itu baru kita ke Jembatan Overtoom,” ajak alumnus Fakultas Hukum, Universitas Cenderawasih Tahun 1992 ini. Selanjutnya, Jubi, Pendeta Naomi, Kesya dan tiga orang lainnya yang bertugas memasak hari itu di dapur umum mengantarkan makanan ke anak-anak di sekitar Ampera. Kami berjalan kaki mengitari Terminal Taxi lama, lalu menyeberangi Jembatan Overtoom dari sisi jalan turun arah Polimak. Kemudian menyusuri jalan beraspal yang sudah tidak terurus di belakang Ampera.

Awalnya Jubi menyangka akan diajak ke bawah kolong jembatan tetapi ternyata anak-anak Ampera menempati salah satu dari dua rumah berbentuk kerucut yang katanya milik pemerintah Kota Jayapura. Sesampai di rumah itu, nasi bungkus dalam plastik merah besar diberikan kepada salah satu dari tiga orang anak yang sedang bergoler di teras gedung tersebut. Mereka tampak akrab dengan Pendeta Naomi, tetapi hanya satu yang bertahan di depan dan berbincang karena melihat Jubi, yang mungkin masih asing bagi mereka. Perjalanan selanjutnya ke kolong Jembatan Overtoom. Setelah menyeberang dari arah belakang Ampera, Jubi diajak menuruni tangga. Sesampai di bawah, saat mendekati kolong jembatan tempat anak-anak jalanan berada, Pendeta Naomi menahan langkah kaki Majalah Jubi. Ada sedikit rasa penasaran tetapi ditepis saja.

Menurut Pendeta Naomi, alasan dirinya menahan Majalah Jubi saat hendak masuk ke kolong jembatan, karena terkadang tempat itu juga digunakan untuk berhubungan badan diantara sesama anak jalanan. Sehingga penting baginya memastikan semuanya dalam kondisi aman dan terkendali. Di bawah kolong jembatan yang sedikit lebih gelap, Majalah Jubi bertemu dengan Martin Bay salah satu anak sulung dari pelayanan Pendeta Naomi selama kurang lebih sepuluh tahun bersama anak jalanan.  “Saya di sini sejak umur enam belas tahun dan sekarang sudah empat puluh tahun,” kata Martin.

Menurut Pendeta Naomi, Martin salah satu contoh, buah sulung dari pelayanannya. “Tahun pertama, tiap hari dia mabuk dan tipis harapan saya, dia bisa menjadi laki-laki yang mandiri.  Tapi dua tahun lalu, dia mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi. Sekarang tubuhnya jauh lebih sehat dan sudah satu setengah tahun ter­akhir ini dia tak pernah bolos ke gereja dari belasan tahun tak pernah injak gereja, bahkan dirinya pernah mencuri di gereja,” jelasnya.
Selain Martin, ada seorang perempuan setengah baya dan satu orang lagi perempuan muda sedang tertidur di tingkap-tingkap jembatan dan tidak menyadari kehadiran kami siang itu. Setelah berbincang dan mengambil beberapa gambar, kami memutuskan kembali ke rumah singgah untuk melanjutkan perbincangan. “Ini Maria Kbarek. Dia angkatan pertama yang hisap lem aibon di sini saat masih belum punya anak. Padahal setelah punya anak, anaknya itu bintang kelas di SD walau sempat putus sekolah dua tahun. Saya carikan donatur dan akhirnya dapat seorang bapak yang bersedia. Dia rang­king satu di SMP Advent. Nilai IPA-nya 99,” jelas Pendeta Naomi, memperkenalkan asuhnya yang lain.

Menurutnya, bila tak ada dapur maka matanya tertutup dan tidak akan pernah tahu bahwa ada anak terminal yang ternyata calon bintang dan pemimpin masa depan Papua. “Apa yang dialami Martin, apa yang yang Tuhan berikan untuk Maria, itu memberi kekuatan pada saya bahwa tidak ada satu teknologi canggih apapun yang bisa rubah orang selain Tuhan Yesus,” katanya. “Saya bilang, kalau Martin bisa yang lain juga pasti bisa. Itu yang memberi saya kekuatan untuk tidak menye­rah dalam pelayanan seperti ini,” tambah Pendeta Naomi, kali ini dengan nada sedikit lebih rendah. Baginya, ini pekerjaan adalah istimewa, seperti seorang ibu yang memperhatikan pertumbuhan anak-anaknya. “Tuhan kasih pengertian kepada saya secara mendalam bahwa gereja punya tanggungjawab besar untuk menjawab keprihatinan sosial dimana kita berada. Gereja tertidur dan tidak terlalu peduli dengan keprihatinan sosial di sekitar kita dengan dalih, itu bukan tugas kami, itu urusan pemerintah,” kata hamba Tuhan ini.

Bukan cuma lem aibon dan miras, tetapi anak-anak jalanan di Ampera dan jantung kota di Kota Jayapura ini sekarang sudah mulai mengkonsusmsi dextro. Sejenis obat-obatan yang memabukkan. Ada yang 20-30 butir sekali tenggak. “Jantung mereka yang kecil itu masih bisa berdetak itu suatu kemurahan Tuhan yang luar biasa. Mereka seperti bermain dengan maut tetapi maut seolah tidak menyentuh mereka,” katanya.

“Saat saya bertahan, saya tahu bahwa itu Tuhan yang suruh. Kalau saya fight sampai hari ini, saya tidak berurusan dengan gereja, tidak berurusan dengan orang-orang di luar sana karena kalau saya tidak lakukan ini, ‘Pace Besar’ di atas de strika saya. Itu saja,” tutur Pendeta Naomi  menambahkan. Satu pelajaran berharga yang diterima Pendeta Naomi, selama pelayanan ini adalah tidak ada sekat-sekat antar agama, suku, ras dan antar golongan di lapisan sosial paling bawah ini. Sebab penderitaanlah yang membuat mereka senasib. (Aprila Wayar/Cunding Levi)

Artikel ini telah diterbitkan di Majalah Jubi Edisi I, 2013

Editor : Cunding Levi
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  TIGA JAM BERSAMA PENDETA NAOMI SELAN