BBM MASIH SUSAH, MASYARAKAT DEMO KE KANTOR BUPATI

share on:
Aksi demo masyarakat di Kantor Bupati Jayawijaya terkait mahalnya harga BBM di Wamena. (JUBI/ISLAMI)

Wamena, 20/12 (Jubi) – Masih susahnya memperoleh Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat kelangkaan yang terjadi, masyarakat yang terdiri dari para tukang ojek dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lainnya menggelar demo ke Kantor Bupati Jayawijaya, Jumat (20/12).
Masyarakat yang datang ke kantor Bupati sekitar pukul 09.30 WIT, menuntut kejelasan pemerintah Kabupaten Jayawijaya soal kelangkaan BBM terutama bensin atau premium, di mana hingga hampir dua pekan ini masih kesulitan didapat.

Aksi puluhan masyarakat yang tergabung dalam berbagai element diterima Sekretaris Daerah Jayawijaya, Yohanes Walilo, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan beberapa pejabat di lingkungan pemerintah Kabupaten Jayawijaya.

Dalam penyampaiannya, salah seorang tukang ojek bernama Indra mangatakan, sebagai masyarakat sangat susah mendapatkan bensin, bahkan ketika ada di penjual eceran pula harganya mencapai Rp.50 ribu samai Rp.70 ribu.
“Harga siang Rp.50 ribu sampai Rp.70 ribu, malam lebih gila lagi sampai Rp.100 ribu per liternya. Makanya kami mempertanyakan sejauh mana perhatian dan pengawasan dari pemerintah terhadap penjualan BBM di Jayawijaya,” ujar Indra.

Disisi lain, Theo Hesegem dari Lembaga Swadaya Masyarakat di Wamena menjelaskan, harga BBM di Wamena saat ini sudah sangat mahal dan dirinya menilai ada suatu diskriminasi terhadap pembagian kupon bensin maupun solar oleh Dinas Perindagkop terhadap masyarakat Papua.
“Kami pertanyakan kendalanya dimana sehingga bisa mahal begitu,” tanya Theo Hesegem.

Menyikapi tuntutan masyarakat, Sekda Jayawijaya, Yohanes Walilo, S.Sos, M.Si menjelaskan pemerintah pun turut prihatin dengan kondisi ini, di mana kendalanya kembali lagi pada terbatasnya penerbangan yang mengangkut BBM ke Wamena.
“Jadi, kendalanya masih pada penerbangan untuk angkut BBM ke Wamena, pemerintah juga ada kesepakatan dengan aviasi penerbangan bahwa yang diutamakan adalah BBM subsidi serta BBM industri atau untuk APMS,” terang Sekda Walilo.

Diakui pula, ketergantungan dengan transportasi udara yang merupakan satu-satunya ke wilayah Pegunungan Papua, apalagi kuota yang diberikan Pertamina untuk Kabupaten Jayawijaya sangat terbatas.
“Kuota BBM kita memang terbatas, ditambah lagi dengan kuota terbatas tersebut kabupaten lainya seperti Lanny Jaya, Tolikara, Nduga dan lainya mengambil dari Jayawijaya, sehingga ini juga menjadi kendala,” tegasnya.

Untuk soal harga Sekda juga mengakui bahwa pemerintah telah berupaya untuk menekan harga BBM yang ada sehingga daya beli masyarakat terjangkau.
“Bukan hanya BBM, sekarang saja tiket pesawat juga susah. Meski begitu, pemerintah terus mencari solusi untuk agar kuota BBM dapat ditambah untuk Kabupaten Jayawijaya,” tandasnya. (JUBI/ISLAMI)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  BBM MASIH SUSAH, MASYARAKAT DEMO KE KANTOR BUPATI