YANG TERJADI DI PAPUA SEJAK TAHUN 1990 (TAHUN 1995)

share on:
Ilustrasi perbatasan RI-PNG (IST)

Jayapura, 23/12 (Jubi) – Pada tahun 1995 tercatat begitu banyak peristiwa konflik bersenjata antara OPM dan militer Indonesia. Dalam salah satu bentrokan bersenjata ditahun ini, anggota OPM dituduh telah membunuh salah satu sandera mereka dan menawan 200 orang lainnya. Sedangkan pihak militer Indonesia dituduh telah membunuh 16 warga sipil.

Berikut adalah beberapa peristiwa penting tersebut yang terjadi pada tahun 1994.

Januari 1995
Organisasi Papua Merdeka (OPM) menuduh pemerintah PNG memulangkan pengungsi Papua tanpa pengawasan PBB atau Palang Merah Internasional. OPM mengatakan bahwa para pengungsi diserahkan kepada militer Indonesia. Secara berkala, orang-orang dari Papua menyeberang ke PNG untuk melarikan diri dari konflik antara pemerintah Indonesia dan OPM. Di tahun ini, pihak berwenang Indonesia menyatakan bahwa OPM hanya memiliki sekitar 100 pendukung aktif dan tidak lagi menjadi ancaman (BBC , 01/28/95)

April 1995
Laporan Dewan Australia untuk Bantuan Luar Negeri mengatakan bahwa pasukan Indonesia membunuh sekitar 37 orang yang memprotes perluasan Freeport, tambang tembaga dan emas di Irian Jaya. Orang-orang Papua lainnya diduga telah ditangkap, dipukuli dan disiksa secara sewenang-wenang. Rumah-rumah mereka hancur karena dirusak. Insiden ini dilaporkan terjadi antara Juni 1994 dan Februari 1995 (Reuter Textline : Australian Financial Review , 04/06/95)

April 11, 1995
Pemerintah Indonesia menuding Dewan Australia untuk Bantuan Luar Negeri merekayasa laporan tentang 37 orang yang tewas selama protes atas tambang Freeport milik Amerika dilakukan. Seorang pejabat Indonesia menegaskan bahwa ada korban tetapi tidak menyebutkan angka (Reuter Textline : The Age, Melbourne, 04/11/95)

Juli 1995
Pejabat Indonesia menyatakan bahwa anggota OPM terlibat dalam pemerasan dan perampokan di Irian Jaya. Penduduk desa Hoya dilaporkan menjadi korban kegiatan OPM (BBC, 07/21/95)

September 1995
Panglima militer Indonesia mengatakan pemberontak separatis dipersilakan untuk kembali ke Papua. Pernyataan Panglima militer Indonesia ini untuk menanggapi surat terakhir yang ia terima dari anggota OPM terkemuka yang tinggal di Papua New Guinea (Reuters , 09/13/95)

September 22, 1995
Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia mengatakan bahwa tentara bertanggung jawab atas kematian sedikitnya 16 warga sipil di Irian Jaya selama Oktober 1994 dan Juni 1995 (Japan Economic Newswire , 09/22/95)

September 28, 1995
Amnesty International menyerukan pemerintah asing untuk menghentikan dukungan bagi rezim Indonesia, dengan alasan bahwa Jakarta telah gagal untuk mengatasi akar penyebab masalah hak asasi manusia. Amnesty menunjukkan bahwa penggunaan sewenang-wenang hingga represi terjadi tidak hanya di Timor Timur, Aceh, dan Papua, tetapi di seluruh negeri (09/28/94)

Oktober 1995
The South Pacific Forum, sebuah kelompok organisasi non-pemerintah, mencoba mengirim misi pencari fakta ke Papua untuk menyelidiki laporan pelanggaran HAM terhadap orang Papua. Forum ini juga mempertimbangkan untuk menempatkan isu penentuan nasib sendiri Papua Barat pada agendanya. Seorang wakil OPM yang berbasis di Australia mengatakan bahwa langkah berikutnya adalah mengangkat masalah ini di Komisi Hak Asasi Manusia PBB (Inter Press Service , 10/25/95).

November 1995
The Overseas Private Investment Corporation (OPIC), badan pemerintah Amerika, telah membatalkan asuransi Freeport McMoRan, perusahaan yang memiliki tambang tembaga dan emas besar di Papua. Keputusan OPIC dilakukan setelah beberapa laporan mengkonfirmasi adanya kerusakan lingkungan utama dan pembunuhan orang-orang lokal di sekitar lokasi tambang. Salah satu laporan menyatakan bahwa Freeport menyediakan kendaraan dan kantor yang digunakan oleh militer Indonesia untuk menyiksa para pemimpin suku-suku di Timika (Inter Press Service , 11/03/95)

November 12, 1995
Sekelompok OPM menyerang patroli militer dan dilaporkan menyerang sebuah desa di kabupaten Merauke, Irian Jaya. Satu tentara tewas dan lainnya luka-luka (Deutsche Presse Agentur – , 11/22/95)

November 14, 1995
Pemerintah Papua Nugini masih mencari sekitar 35 anggota OPM yang diduga menjarah dan hampir membakar konsulat Indonesia di Vanimo pada akhir Oktober 1995. Pemerintah PNG juga telah menyatakan keprihatinannya tentang pembangunan pangkalan militer Indonesia di dekat perbatasan, mereka bahkan takut terjadi invasi Indonesia terhadap negara mereka (Inter Press Service , 11/14/95)

November 17, 1995
Satu tentara tewas dan satu lainnya terluka dalam bentrokan dengan pemberontak OPM dekat perbatasan PNG (Reuters , 11/17/95)

November 22, 1995
Anggota OPM telah membunuh salah satu sandera dan dilaporkan menyandera sekitar 200 orang lain di Papua. Dua anggota OPM ditangkap oleh pemerintah ketika berusaha untuk membebaskan para sandera, yang dilaporkan sebagai pendatang dari daerah lain di Indonesia (Deutsche Presse Agentur – , 11/22/95)

Desember 1995
Lebih dari 700 orang dari Papua telah menyeberang ke Papua Nugini karena bentrokan antara OPM dan tentara Indonesia. Ini adalah jumlah terbesar pengungsi yang telah melarikan diri ke PNG dalam dekade terakhir (BBC , 12/21/95)

22 Desember 1995
Indonesia dan Papua Nugini telah sepakat untuk membentuk tim penghubung untuk melawan aktivitas OPM di sepanjang perbatasan kedua negara (UPI , 12/22/95)

27 Desember 1995
Pengadilan terhadap tentara Indonesia yang diduga membunuh 16 warga sipil di Papua pada bulan Juli akan dimulai pada akhir Januari (Japan Economic Newswire , 12/27/95). OPM menuntut uang tebusan sebesar lebih dari $ 13.000 dalam pertukaran dua remaja yNG diculik dalam perjalanan mereka ke sekolah di dekat perbatasan PNG pada bulan November. Pemerintah Indonesiamenolak untuk membayar (BBC 12/28/95). (Jubi/Victor Mambor)

Sumber : Minorities at Risk

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  YANG TERJADI DI PAPUA SEJAK TAHUN 1990 (TAHUN 1995)