MASYARAKAT TIDAK BOLEH JADI ‘BUDAK’ POLITIK

share on:
Para caleg orang Marind ikut pembekalan

Merauke, Jubi (14/2)-  Drs.Fredy Gebze, penggagas Pusat Kajian dan Pengembangan Orang Marind, menegaskan,  pada pesta demokrasi yang kian dekat ini, masyarakat tidak boleh menjadi budak politik.

“Silakan saja semua calon legislatif yang akan berkompetisi dengan strategi masing-masing, masuk ke kampung-kampung. Tetapi harus dengan cara simpatik dan tidak memaksa rakyat untuk menentukan pilihan. Biarkan mereka dengan menggunakan hati, memilih caleg yang diinginkan dan diharapkan,” pintanya dalam dialog dan pembekalan calon legislatif (caleg) terutama bagi orang Marind,di Aula Noken Sai, Jumat (14/2).

Acara tersebut diikuti puluhan  caleg, dua tokoh  dihadirkan sebagai pembicara yakni Pastor Alo Batmanyanik, MSC serta Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Merauke, Ignasius Ndiken.

Pada kesempatan itu, Pastor Alo Batmanyanik, MSC meminta kepada para caleg agar menggunakan  tiga simbol alam yang ada untuk membuat suatu kekuatan politik diantaranya, Kasuari, Saham serta Musamus.

“Kasuari mempunyai dua kaki yang berdiri kokoh dan kuat menopang perutnya. Sedangkan kepalanya melorot ke depan. Inilah strategi politik yang harus kita gunakan,” jelasnya.

Adapun strategi saham yang digunakan, kata Pastor Alo, harus melihat perkembangan dan situasi sekaligus .setelah itu yang diperhatikan selanjutnya adalah simbol Musamus.

“Ya, simbol alam yang ada, bisa dapat dijadikan sebagai politik. Kita jangan terlalu berpikir tinggi. Ada hal alamiah yang dimiliki orang Marind,” katanya.

Lebih lanjut Pastor Alo menjelaskan, jika para caleg orang Marind tidak memiliki uang  dan kurang berkualitas, maka harus merapatkan barisan dengan forum bentukan tokoh intelektual Muda Marind, seperti yang dibentuk oleh Fredy Gebze.

Menurutnya, di forum seperti itulah orang Marind dikumpulkan sekalian digodok, membaca peta politik yang ada menjelang pemilu legislatif.

“Saya ingin tanya kepada kalian semua orang Marind yang maju caleg, berapa banyak akan memilih kalian jika dibandingkan pendatang? Ingat, kita ini kecil dan bukan mayoritas lagi. Siapa saja boleh maju, tetapi harus bermain dengan sehat. Karena diharapkan adalah caleg orang Marind berkualitas yang  dipilih untuk menjadi anggota dewan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua LMA Kabupaten Merauke, Ignasius Ndiken mengatakan masyarakat mempunyai hak untuk memilih wakil rakyat tanpa ada ada tekanan serta intervensi dari siapapun.

“Kita juga menginginkan dan mengharapkan agar caleg orang Marind yang maju dan terpilih, harus mampu menjalankan  amanah dengan baik, terutama memberikan perhatian besar terhadap masyarakat di kampung-kampung,” katanya. (Jubi/Frans L Kobun)

Editor : Syam Terrajana
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  MASYARAKAT TIDAK BOLEH JADI ‘BUDAK’ POLITIK