KAPOLRES BANTAH ADA GEREJA DIBANGUN UNTUK AMBIL HATI RAKYAT

share on:

Kapolres Paniai, AKBP Semmy Ronny TH Abaa (Jubi/Indrayadi TH)
Kapolres Paniai, AKBP Semmy Ronny TH Abaa (Jubi/Indrayadi TH)

Jayapura 20/2 (Jubi) – Kapolres Paniai, AKBP Semmy Ronny TH Abaa, membantah ada gereja yang dibangun untuk mengambil hati rakyatdi Degewo, Distrik Bogobaida, Kabuparen Paniai, Papua. Menurut Kapolres, 26 gereja yang dimaksud Lembaga Pengembangan Masyarakat Adat Suku Walani Mee dan Moni (LPMA SWAMEMO) yang ada di distrik-distrik, berada jauh d luar wilayah Bogobaida.

“Di areal itu sekitar ada 5 sampai 7 gereja yang sudah dibangun. Kalau 26 gereja itu berarti sudah letaknya di kampung-kampung. Selama ini saya memonitor para pengusaha sering membantu masyarakat untuk drop bama (bahan makanan), mengantar masyarakat ke kampung-kampung menggunakan helikopter pengusaha,” kata Semmy, Kamis (20/2).

Semmy juga membantah ada anggotanya yang melakukan intimidasi masyarakat dengan membela perusahaan-perusahaan.

“Tidak betul, cara kerja kami bukan hanya sebagai penegak hukum melainkan kami sebagai pelindung, pelayan, dan pengayom masyarakat. Kami kerja bantu masyarakat. Tidak benar kami mengintimidasi. Kalau pengusaha punya pengamanan, itu bukan dari Polres Paniai. Kami melayani masyarakat agar tidak ada pertikaian di daerah tersebut,” tuturnya.

Sedangkan soal tempat, pendapatan asli daerah (PAD) dan hak ulayat, Kapolres menyatakan semuanya diatur oleh Pemda Paniai. Menurut Semmy, hingga sejauh ini juga belum ada laporan soal informasi tersebut.

“Kami pengamanan, bukan pengamanan tambang. Kami jaga aktivitas masyarakat agar teratur, tertib, dan tidak saling melukai atau merugikan.  Persoalan tambang ini biasa, terjadi bukan saat saya jadi Kapolres. Persoalan semacam ini sudah ada bertahun-tahun yang lalu. Dulu aman karena mereka di atas itu berbagi,” ujarnya.

Sebelumnya,  seperti dilansir media ini, Sabtu (8/2) lalu, Ketua Lembaga Pengembangan Masyarakat Adat Suku Walani Mee dan Moni (LPMA SWAMEMO), Thobias Bagubau, dalam keterangan persnya di Sekretariat Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua Se-Indonesia, Waena, di Jayapura,mengungkapkan bahwa pemilik perusahaan mengambil emas di Sungai Degeuwo dengan cara cara menarik perhatian pemilik hak ulayat dengan memberikan uang hingga membangun gereja.

“Perusahaan milik Haji Ari membangun gereja di Lokasi Baya Biru 1 gereja dan membangun 4 gereja di lokasi 99,” ungkap Thobias, Sabtu (8/2).

Menurut Thobias ada sekitar 30-an perusahaan berebut untuk memburu emas murni di sekitar wilayah Kabupaten Nabire dan Paniai. Menurut Thobias, mereka pun ikut membangun gereja di setiap lokasi tambang emas.

“Pemilik hak ulayat tidak bisa menuntut haknya yang belum dibayarkan. Kalau menuntut, perusahaan tidak segan-segan menghadapi pemilik hak ulayat dengan menggunakan kekuatan keamanan. Kami hitung-hitung, pelanggaran HAM yang terjadi akibat operasi perusahaan ilegal itu sudah 217 kasus,” ujarnya tanpa merincikan kasusnya.

Thobias mengatakan tidak ada satu kasus pun diselesaikan. Pemerintah juga tidak pernah menanggapinya. “Sudah empat kali saya lapor kasus ini ke polisi, belum juga ada tanggapan sampai hari ini,” ujarnya.

Karena itu, pria yang ikut berjuang menuntut dikembalikannya hak milik masyarakat Degeuwo ini mempertanyakan kinerja polisi di Papua. “Apakah polisi di Papua hanya urus masalah demo-demo, kriminal atau lingkungan saja?” tanya Thobias (Jubi/Indrayadi TH)

Editor : Oyos Saroso HN
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  KAPOLRES BANTAH ADA GEREJA DIBANGUN UNTUK AMBIL HATI RAKYAT