SMA DUA TIGI MENGGELAR PRAKTEK KOTEKA DAN MOGE

share on:
Kelompok 4 praktek Muatan Lokal (Mulok) di SMP N 1 Tigi, Wakeitei, Kabupaten Deiyai.(Jubi/Ones Madai)
Kelompok 4 praktek Muatan Lokal (Mulok) di SMP N 1 Tigi, Wakeitei, Kabupaten Deiyai.(Jubi/Ones Madai)

Deiyai, 16/3 (Jubi) – Untuk memenuhi nilai mata pelajaran muatan lokal, Sekolah Menengah Atas (SMA) Dua Tigi, menggelar praktek seni dan budaya. Salah satunya adalah mengenakan pakaian adat dari masing-masing suku bangsa.

Pengajar Mata Pelajaran Muatan Lokal, Robert Edowai, mengatakan kegiatan seni dan budaya ini setiap tahun dilakukan oleh siswa-siswi kelas tiga yang sedang menempuh Ujian Akhir Sekolah.
“Jadi, siswa-siswi yang berasal luar Deiyai juga, mereka harus berusaha untuk mengenakan pakaian adatnya,” kata Robert, di halaman SMA N 2 Tigi, Distrik Wakeitei, Kabupaten Deiyai, Papua, Sabtu (15/3).

Pelajar yang lebih dominan, lanjut Robert, adalah siswa yang berasal dari suku MEE, sehingga, kata dia, para pelajar harus mempersiapkan diri untuk menampilkan drama dari sukunya.
“Berbagai macam drama yang siswa akan lakukan jadi tergantung kesiapan siswa itu sendiri,” ujarnya.

Selain itu, menurut Robert, untuk penilaian terkait dengan drama yang dibawakan oleh siswa ialah menyangkut pemahaman adat-istiadat tersebut. “Paling tidak, siswa harus kreasikan adat-istiadat dari dalam dirinya. Sebab, budaya adalah harga diri suku bangsa,” ungkapnya.

Matius Sapan, Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Tigi, menuturkan, pada prinsipnya pihak sekolah sangat mendukung praktek seni dan budaya sebab kata dia, generasi muda harus memahami pentingnya budaya. “Kita ada di Deiyai. Itu artinya, budaya koteka dan moge kita harus lestarikan di kalangan pelajar,” tuturnya.

Menurut Matius, praktek muatan lokal merupakan praktek rutinitas yang akan dilakukan setiap tahun ajaran. “Praktek telah menjadi salah satu ekstra kurikuler di SMA 2 Tigi,” katanya. (Jubi/Hendrik OM)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  SMA DUA TIGI MENGGELAR PRAKTEK KOTEKA DAN MOGE