SETAHUN “PAPUA BANGKIT” PENUH KONTROVERSI

share on:
Lukas Enembe dan Isteri (Ist/Google)
Lukas Enembe dan Isteri (Ist/Google)

Suva,9/4(Jubi)—Hari ini, 9 April, orang Papua ingat tentang sejarah pelantikan Gubernur Papua Lukas Enembe dan wakilnya Klemen Tinal dilantik di Stadion Mandala Jayapura 2013 lalu. Lukas Enembe menorehkan kisah orang gunung pertama menjadi Gubernur Papua dan membawa harapan baru melalui kebijakan dan pembangunan.

Lukas Enembe mulai membuktikan harapan baru dengan permintaan pelantikan di lapangan terbuka dan di lapangan itulah Lukas Enembe memberikan harapan proses pembangunan Papua Baru. “Gerakan Peradaban Baru: Bersama Menuju Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera,”judul sambutan Lukas Enembe satu tahun silam.

Judul sambutan itu mengandung harapan Lukas Enembe, adanya satu gerakan ‘bersama’ (Rakyat Papua dan pemerintah) untuk membangun Papua. Kata ‘bersama’ atau ‘komunitas hidup bersama’ memang menjadi habitus hidup ‘baik’ orang Papua di honai dan bevak. Orang Papua bisa duduk bersama (saling mendegarkan) demi kehidupan yang lebih baik dari hari ini.

Namun, satu tahun ini, Lukas Enembe, keluar dari habitusnya, harapannya sendiri dan harapan ‘bersama’ Rakyat Papua bangkit, mandiri dan sejahterah. Lukas malah loncat masuk ke dalam habitus diskomunikasi. Kebijakan sepihak tanpa koordinasi yang sangat nampak melahirkan sejumlah kontroversi.

Pertama, penebangan pohon beringin di depan kantor Gubernur Papua, dok II Jayapura. Penebangan ini melahirkan pro dan kontra. Lukas tidak komunikasi dengan pemerintah kota Jayapura yang sibuk kampanye Hijau Kotaku. Pihak lain mendukung karena pohon itu simbol kerjasama dan penjajahan bersama Indonesia dan PNG terhadap orang Papua.

Kedua, Gubernur Enembe menganti sejumlah pejabat teras gedung putih, dok II Jayapura yang tersandung kasus korupsi dan melantik bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo di sela-sela teriakan rakyatnya yang terkait kasus penyalagunaan bantuan Beras Rakyat Miskin (Raskin) periode 2009/2011 seniali 10 M lebih. Harapan rakyat Papua bersama Lukas mewujudkan pemerintahan yang bersih memang menjadi satu hal yang sangat sulit.

Ketiga, Lukas Enembe merencanakan revisi UU Otonomi Khusus Papua yang disebutnya Otsus Plus. Lukas Enembe mulai mewujudkan rencana itu dengan mengevaluasi Otsus, menyusun draf dan menyerahkannya kepada pemerintah Jakarta untuk mengesahkan. Rencana hingga prosesnya penuh kontroversia antara Lukas Enembe dan rakyat Papua.

Rakyat Papua menolak semua proses yang Lukas Enembe lalui. Rayat Papua pilihan pemerintah yang terlibat dalam evaluasi Otsus Papua No.21 tahun 2001 di hotel Sahid Papua, 25-27Juli 2013 mengatakan pemerintah gagal membangun Papua, kembalikan Otsus ke Jakarta dan meminta Dialog Jakarta-Papua dan setelah itu rakyat Papua ingin bicarakan Otsus Plus Papua.

Sayang sekali, Lukas Enembe tidak mendengar harapan orang Papua. Lukas Enembe meningalkan rakyat Papua dengan membawa draf otsus milik koleganya, Jakarta. Lukas meletakan draf itu ke dalam mulut akademisi Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura. Akademisi yang kapitalis pun menyetujui draf yang nyata kopy paste dari UU pemerintahan Aceh itu tanpa menghiraukan demo mahasiswanya.

Keempat, masih menyakut revisi draf Otsus. Sangat kontroversial lagi, Lukas Enembe bersama akademis Uncen memasukkan Pasal 299 yang mengatur tentang referendum Papua. Pemasukan pasal ini dianggap rakyat Papua sebagai strategi Jakarta melalui Lukas untuk meloloskan draf UU Pemerintahan Papua yang rakyat Papua tolak. “Gubernur jangan menggadaikan kata referendum untuk meloloskan agenda Otonomi Khusus Plus,” tegas Philipus aktivis Gempar kepada jurnalis di Waena, Kota Jayapura,Papua, Selasa (28/1). (http://tabloidjubi.com/2014/01/28/gempar-elit-jangan-gadaikan-isu-refrendum/). Rupanya pasal referendum menjadi obat tidur rakyat Papua yang berteriak Papua merdeka.

Kelima, Lukas Enembe menandatangi 22 pemekaran wilayah di sela-sela penolakan rakyat. Kalau Jakarta mengesahkan 22 wilayah ini berarti ini menjadi bukti bahwa, Lukas memang tidak peduli dengan ketakutan rakyat akan dominasi orang yang mendatanggi dan marginalisasi. Penyesalan pun akan menjadi satu bagian dari harapan dan nabsu elit Politik Papua.

Kebijakan penuh kontraversial itu sudah berjalan setahun. Lukas Enembe mengevaluasinya dengan satu pengakuan bahwa dirinya belum melakukan satu kebijakan yang berdampak langsung kepada rakyat Papua. “Setahun sudah kepemimpinan saya dan Klemen Tinal di Papua, namun kita belum melakukan sesuatu yang dirasakan dan berdampak oleh masyarakat.,” kata Gubernur Lukas Enembe, di Jayapura, Papua, Senin (7/4).

Lukas Enembe juga mengakui membangun Papua tidak membalik telapak tangan dan sendiri. Pembangunan Papua butuh kerja sama semua pihak dan membutuhkan waktu yang cukup. “Kita tidak bisa membangun Papua dalam Satu Tahun Tahun,”tulis tabloidjubi.com(http://tabloidjubi.com/2014/03/07/gubernur-papua-bangun-papua-bukan-satu-dua-tahun/).

Kita bisa menilai ini satu pernyataan yang harus kita anjunggi jempol kejujuran seorang pemimpin mengakui kesalahannya tetapi ini satu pernyataan Lukas nampak menyerah, tidak mungkin bisa melaksanakan janjinya dalam satu atau dua tahun, dan mungkin juga sampai lima tahun masa jabatan habis. Atau Lukas Enembe masih mau mempin Papua karena merasa tidak cukup lima tahun memimpin untuk membangun Papua. Entalah Lukas Enembe menyerah atau maju.

Kita harap Lukas Enembe tidak menyerah. Kita harap sang Gubernur masih mewujudkan karena masih ada empat tahun. Kita harap Lukas bangkit merangkul rakyat dan meletakan satu pondasi pembangunan Papua yang benar-benar baru. Untuk itu, Lukas Enembe mesti kembali kepada janjinya, habitusnya, orang Papua harus duduk, bicara dan kerja bersama ‘membangkitkan potensi orang Papua’ yang tidur nyenyak.

Pertama, kita perlu membangkitkan potensi Rasio orang Papua. Rasio orang Papua memang masih belum berfungsi baik. Orang Papua masih tergantung pada rasio orang lain. Contoh kecil saja. UU Pemerintah Papua yang Lukas perjuangan itu copy paste UU pemerintah Aceh. Kita masih membangun gedung-gedung model Cina dan Jawa. Kita harus merancang model bangunan gaya Papua.

Kedua, pontensi sense. Orang Papua tidak hanya mengandalkan rasio. Pusat energi orang Papua ada di komunitas bersama. Relasi dengan semua. Orang Papua menyatu dengan alam dan sesama yang kelihatan dan tidak kelihatan. Konsep spiritual Melanesia harus menjadi perhatian.

Ketiga, potensi fisik. Kita harus memfungsikan potensi otot orang Papua yang tidak berfungsi kini. Contoh, kita masih tergantung kepada orang lain dengan Raskin dan barang bangunan yang masuk dari luar Papua. Orang Papua bisa kerja dan makan dari kebunnya sendiri. Menurut Gembala Umat, Sokratez Sofyan Yoman, “Kita harus Minum Air dari Sumur Sendiri.”

Kalau kita masih menggangkan  hidup pada potensi orang lain seperti sekarang, kita belum menjadi tua di negeri sendiri. Kita belum bangkit yang Lukas Enembe kampanyekan, yang manusia Papua harapkan. Papua harus bangkit. Tetapi,  kapan bangkit menjadi mandiri dan sejahterah? Atau kita hanya berteriak mengeluh? Ko stop mengeluh dan kerja to. (Jubi/Mawel)

Editor : Oyos Saroso HN
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  SETAHUN “PAPUA BANGKIT” PENUH KONTROVERSI