PENGIRIMAN BIJI KAKAO PAPUA TERUS ALAMI PENURUNAN

share on:
Kepala Dinas Perkebunan Papua, John Nahumury. (Jubi/Alex)
Kepala Dinas Perkebunan Papua, John Nahumury. (Jubi/Alex)

Jayapura, 28/4 (Jubi) – Menurut data yang dimiliki Dinas Perkebunan Provinsi Papua, sejak 2010–2013 pengiriman biji kakao Papua terus mengalami penurunan sekitar 67,5 persen, akibat adanya serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK) dan kurangnya pemahaman pemeliharaan tanaman dari petani. Misalnya pada 2010 lalu sebanyak 4.639.493 kg turun menjadi 2.008.630 kg.

“Bayangkan saja penurunannya sangat drastis sekali. Padahal kita pada 2008 lalu sempat mengalami masa keemasan. Pasalnya pengiriman biji kakao ke luar Papua mencapai 9.031.325 kg. Namun sekarang sangat turun jauh sekali,” kata Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Papua John D Nahumury kepada wartawan, di Jayapura, Papua, Senin (28/4).

Seperti diketahui pengiriman biji kakao asal Papua ini dikirim ke Surabaya dan Makassar. Padahal dari sisi kualitas, Indonesia menempati urutan ketiga produsen terbesar kakao di dunia, setelah Ghana dan Pantai Gading. Sedangkan biji kakao Papua, sudah sejak jaman Belanda sangat terkenal.

“Jadi kita mau kembalikan kejayaan ini. Itu ciri khas kita dan ini termasuk salah satu upaya kita lakukan untuk bagaimana kualitas kakao Papua ini dapat kita tingkatkan,” ujarnya.

Akibat turunnya produksi kakao mengakibatkan permintaan kakao dari luar negeri, tidak bisa dipenuhi. Hal ini dikarenakan Papua belum mampu penuhi. Karena produksi menurun akibat terserang hama penyakit dan pengetahuan pemeliharaan tanaman dari petani sangat minim.

“Orang mau minta kita punya produk. Akan tetapi produk kita sangat minim bagaimana kita bisa penuhi permintaan tersebut,” tukasnya.

Di Papua sendiri, ada beberapa kabupaten yang telah dijadikan sebagai sentra pengembangan kakao seperti Kabupaten Keerom, Sarmi, Yapen, Nabire dan Waropen, dan Jayapura. Namun disamping itu, dirinya juga telah mendapat laporan dari beberapa kawasan sentra pengembangan penyebaran hama Penggerek Buah Kakao (PBK).

“Teman–teman dari provinsi juga melakukan peninjauan ke lapangan yang kami anggap sudah berat. Sehingga harus dilakukan upaya–upaya penanganan dan pengendalian,” jelasnya.

Untuk itu, hal pertama yang akan dilakukan pihaknya dalam jangka pendek adalah penyuluhan kepada masyarakat bagaimana cara berkebun yang baik. Kemudian juga perawatan, seperti pemangkasan, pemupukan termasuk penanggulangan hama penyakit. “Dengan demikian hal ini harus dilakukan secara sungguh–sungguh, konsisten dan kontinyu,” ujarnya.

Ditambahkannya, permintaan akan kakao dari Indonesia cukup tinggi. Dimana saat ini pemerintah pusat sedang berupaya untuk bagaimana Indonesia dapat menjadi produsen kakao nomor satu didunia.

“Kalau hal ini tidak kita lakukan, besok–besok kita akan mengimpor bahan baku dari luar negeri. Beberapa pabrik pengolahan kakao yang sudah didirikan sudah tutup karena pasokan bahan baku sangat terbatas. Sedangkan khusus untuk Papua terus mengalami penurunan, akibat hama penyakit dan juga termasuk pengetahuan pemeliharaan tanaman yang sangat minim,” tambahnya.

Menanggapi hal itu, John Nahumury berpendapat, meningkatkan produksi dan mutu kakao Papua secara berkelanjutan harus dilakukan. Dengan begitu produksi bisa didorong dan harga jual di tingkat petani bisa bagus, sehingga pendapatan petani boleh meningkat. “Untuk itu, ada berbagai regulasi yang akan dilakukan pihaknya,” katanya.

Sebelumnya, Agus Rumansara Direktur Yayasan Pengembangan Pembinaan Wirausaha Papua mengatakan faktor budaya masih mempengaruhi produktsi buah kakao di Papua. Pasalnya masyarakat masih sebatas menanam dan membiarkan kakao tumbuh sendiri.

“Kebiasaan ini masih terjadi karena masyarakat belum secara penuh merawat dan membersihkan tanaman kakao secara rutin. Masih membiarkan kakao tumbuh sendiri tanpa melakukan perlakuan khusus kepada tanaman tersebut,” kata Rumansara. (Jubi/Alex)

Editor : CUNDING LEVI
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  PENGIRIMAN BIJI KAKAO PAPUA TERUS ALAMI PENURUNAN