GUBERNUR : ADA BAIKNYA PEMILU KEMBALI MEMAKAI SISTEM LAMA

share on:
Gubernur Papua Lukas Enembe bersama stfanya. (Jubi/Levi)
Gubernur Papua Lukas Enembe bersama stfanya. (Jubi/Levi)

Jayapura, 29/4 (Jubi) – Melihat perjalanan proses Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2014 di Provinsi Papua, Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe berpendapat, ada baiknya penyelenggaraannya memakai sistem lama, yakni pimpinan partai yang menentukan siapa kader yang pantas duduk di kursi DPR.

“Sebenarnya dari segi penyelengaraan KPU, baik pusat, provinsi dan daerah sudah bagus, hanya yang menjadi liar adalah di tingkat bawah baik tingkat masyarakat, PPD, maupun PPS,” kata Lukas kepada wartawan, di Kota Jayapura, Papua, Selasa (29/4).

Menurut Lukas, hal ini mungkin terjadi karena sudah terlanjur terkesan DPR akan begini-begini jadi orang secara terang-terangan melakukan pelanggaran. “Seperti yang terjadi di Wamena, ada terdapat tulisan disini ada suara dengan harga sekian,” katanya.

Soal intervensi, Lukas mengaku, dirinya baru menerima pesan singkat (SMS) dari anggota KPUD Yahukimo yang meminta bantuan pesawat agar bisa keluar dari Distrik Seator, mengingat mereka melarikan diri karena mendapat ancaman yang sangat luar biasa.

“Saya baru terima SMS dari KPU Yahukimo mereka minta pesawat. Mereka melarikan diri karena tidak aman, sehingga mereka naik spead boat lari ke Asmat. Mereka melarikan diri karena mendapat ancaman luar biasa. Apalagi sudah ada jatuh korban,” ujarnya.

Dengan melihat beberapa kejadian yang terjadi di kabupaten/kota di Papua, kata Lukas, jelas Pemilu tahun ini tidak terkendali lagi, karena dalam sejarah Pileg, Pilgub maupun Pilpres banyak orang stres. Padahal sebelumnya tidak pernah terjadi.

“Kemarin saya ditanya sama orang Jakarta soal Pemilu, saya menjawab orang Papua sudah terbiasa dengan politik jadi tidak ada masalah. Ternyata setelah saya kembali ke Papua banyak orang yang sudah masuk rumah sakit karena stres. Seperti di temui di RSUD Dok II enam orang, begitu juga RS Dian Harapan,” katanya.

Selain itu, kata Lukas, di Yahukimo dua orang dan Yalimo satu orang. “Ini terjadi dalam sejarah Pemilu di Papua, tidak pernah ada sebelumnya. Orang stres kita baru temukan banyak di Pemilu 2014 ini. Saya piikir kejadian ini hanya bisa terjadi di Jawa saja, ternyata tahun ini di Papua juga banyak,” tukasnya.

Saat ditanya soal stateman KPU yang mengatakan kekacauan Pemilu 2014 ada peran dari kepala-kepala daerah, menurut Lukas, itu intervensi kepentingan semua, bukan hanya KPU saja. Kita tidak bisa salahkan KPU karena penyelenggaraan Pemilu sudah bagus, tapi karena adanya intervensi semua orang makanya jadi ambu radul.

“Dengan ada wacana perubahan Undang-Undang 32 2004 Pemilihan lewat DPR. Jadi kalau ingin masuk dalam periode II harus amankan kursi yang banyak. Disisi lain masyarakat sudah bosan melihat dan tidak mau memberikan suara, tapi tekanan mulai terjadi. Jadi semua ini pemain, akhirnya menjadi ambu radul,” ujarnya.

Solusinya, kata Lukas, kedepan sistem Pemilu harus dirubah. Dimana tidak lagi memakai sistem preofesional terbuka, tapi kembali menggunakan sistem lama dimana pimpinan partai yang menentukan. Karena jika ingin masuk ke DPR masing-masing partai harus mempersiapkan kadernya cukup lama.

“Yang sekarang terjadi, ini orang yang tidak tau dari mana, tidak bisa bicara dan membaca tiba-tiba dipersiapkan untuk masuk ke DPR. Coba kalian lihat di seluruh kabupaten, banyak orang yang tidak tau membaca mau masuk DPR. Mau bikin apa di DPR kalau masuknya kaya begitu. Untuk itu, sistim lama lebih bagus karena berdasarkan kaderisasi yang mantap,” katanya.

Sebelumnya, Pada Senin (28/4) sekitar pukul 16,30 WIT, bertempat di Dekai, Kabupaten Yahukimo, telah terjadi aksi demo damai yang di pimpin oleh Lasarus Giban (Golkar). Dengan tujuan menuju ke Polres untuk sampaikan aspirasi kepada komisioner KPU untuk melakukan pemilu ulang dan batalkan pemilu yang baru di laksanakan dengan alasan tidak mencerminkan demokrasi.

Pada saat massa kelompok dari massa Lasarus Giban (masa pendukung bupati Ones pahabol) tiba di titik nol sambil meneriakkan yel yel Pemilu ulang, tiba-tiba masyarakat Kimiyal pendukung PAN berjumlah sekitar 100 orang dengan bersenjatakan panah dan tombak menghalangi massa yang akan menuju ke Polres dan massa dari kelompok Lasarus Giban yg berusaha melakukan perlawanan membubarkan diri dan melarikan diri karena kalah jumlah.

Dengan adanya kejadian tersebut, anggota Polres dan BKO polda di bawah pimpinan Kapolres Yahukimo AKBP Ade Djaja Subagdja menetralisir situasi untuk mencegah terjadinya konflik dari dua suku.

Dari massa bupati adalah dari suku Yali dan suku Ngalik dengan suku Kimyal. Akhirnya para komisioner KPU di evakuasi ke Polres Yahukimo dan pada malam hari sekitar pukul 19.00 Wit telah di evakuasi ke Asmat. (Jubi/Alex)

Editor : CUNDING LEVI
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  GUBERNUR : ADA BAIKNYA PEMILU KEMBALI MEMAKAI SISTEM LAMA