226 RIBU HEKTAR HUTAN PAPUA BAKAL “DIKEROYOK” TUJUH PERUSAHAAN NASIONAL

share on:
Hutan Papua dalam Ancaman ( Ist.)
Hutan Papua dalam Ancaman ( Ist.)

Jayapura, 1/5 ( Jubi ) –Hutan Papua seluas 225.944 hektar atau hampir 226 ribu hektar dipastikan bakal tergusur dan beralih fungsi. Sejumlah pihak swasta sedang menanti sinyal dari Pemerintah Provinsi Papua untuk membuka Perkebunan Sawit, Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Usaha Budidaya Pertanian lainnya.

Demikian diungkapkan Peneliti dari Yayasan Lingkungan Hidup Papua, Nafli Lessil kepada tabloidjubi.com, Kamis (1/5).

Nafli menjelaskan, jika dirinya berani memastikan hal itu setelah mempelajari pengumuman Badan Pengelolah Lingkungan Hidup Provinsi Papua di media massa yang meminta kritik dan saran dari masyarakat terhadap rencana pembukaan usaha perkebunan dan pabrik pengolahan kelapa sawit serta rencana pembangunan HTI dan usaha budi daya ubi kayu pada beberapa tempat di Papua.

Mungkin luas hutan yang akan dikonversikan akan terus bertambah lagi, tapi sementara yang saya hitung dari 7 perusahaan yang telah diumumkan ke publik, total hampir mencapai 226.000 hektar luas hutan yang akan dikonversikan,” ungkap Nafli.

Ke-tujuh perusahaan tersebut adalah PT. Berkat Cipta Abadi, PT. Visi Hijau Nusantara, PT.Wahana Agri Karya, PT.Duta Visi Global, PT.China Gate Agriculture, PT.Wanamulia Sukses Sejati Unit III, dan PT. Sariwana Adi Perkasa.

Areal hutan seluas 80.299 hektar di Kabupaten Boven Digoel atau sekitar 3 persen dari luas wilayah Kabupaten Boven Digoel akan dikeroyok oleh 4 perusahaan kelapa sawit, yaitu PT. Berkat Cipta Abadi, PT. Visi Hijau Nusantara, PT.Wahana Agri Karya dan PT.Duta Visi Global.

Selain itu, sekitar 116.695 hektar lahan di Kabupaten Merauke akan dialihfungsikan menjadi HTI dan 20.000 hektar untuk budidaya ubikayu. Sedangkan 8.950 hektar lahan di Kabupaten Nabire akan menjadi kebun kelapa sawit,”tukasnya.

Kondisi ini menurut Nafli sangat mengkuatirkan. Bukan saja ekosistem hutan yang rusak, flora fauna dan eksistensi masyarakat juga akan terganggu.”Memang ada dampak positifnya, tapi menurut saya, dampak negatifnya sangat besar. Jadi Pemerintah Provinsi Papua dan Kabupaten sebaiknya hati-hati dan lebih bijaksana. Ada baiknya intropeksi dan belajar dari kasus-kasus yang terjadi di Sumatera, sebelum terlambat,”tegas Nafli.

Sebelumnya, Juru kampanye Greenpeace untuk Papua, Charles Tawaru mengatakan, pada tahun 2005 – 2009, luas hutan Papua 42 juta hektar (ha). Berselang tiga tahun kemudian yakni 2011 luas hutan Papua hanya tersisa 30,07 juta hektar.

Informasi yang didapat dari pemerintah daerah, setiap tahun rata-rata deforestasi di Papua sebesar 143.680 ha. Sedangkan laju deforestasi untuk Provinsi Papua Barat per tahun rata – rata sebesar 25 persen atau 293 ribu ha.

Angka-angka di atas memperlihatkan tingkat kehilangan tutupan hutan yang cukup besar. Ekspansi industri yang berbasis lahan seperti penebangan hutan, perkebunan, hutan tanaman dan pertambangan adalah penyebab utamanya selain pemekaran wilayah administrasi pemerintahan.

Hampir keseluruhan eksploitasi sumber daya alam Papua khususnya hutan menjadi semakin tidak terkontrol karena akses yang sulit dan fasilitas yang minim dari pemerintah, ini juga diperparah dengan perilaku oknum pemerintah yang tidak bijak. ( Jubi/Albert)

Editor : Syam Terrajana
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  226 RIBU HEKTAR HUTAN PAPUA BAKAL “DIKEROYOK” TUJUH PERUSAHAAN NASIONAL