Connect with us

Selepa

RCTI: PENUNDAAN KONSER NOWELA TERKAIT NYAWA ORANG

Published

on

Logo RCTI (Foto: IST)

Logo RCTI (Foto: IST)

Jayapura, 11/5 (Jubi) -Pihak RCTI berdalih penundaan konser mini Nowela Auparay, Grand Finalis Indonesia Idol yang awalnya direncanakan dilakukan di GOR Waringin Kotaraja, Minggu (11/5) sore, adalah menyangkut nyawa orang.

Masalah penundaan mini konser Nowela, adalah terkait kesiapan, terutama keselamatan para penonton. Kita melihat antusiasme begitu besar dari masyarakat karena Nowela adalah Perempuan Papua Pertama yang berada di Indonesian Idol dan bisa sampai ke tahap Grand Final,” tutur bagian Produksi RCTI, Irfan Nugroho kepada wartawan di Kotaraja, Minggu (11/5) sore.

Menurutnya, penundaan ini dimaksudkan agar pihaknya mempersiapkan lebih matang mini konser ini sehingga Masyarakat Papua dapat menikmati Konser Nowela dengan nyaman dan pulang dengan selamat.

Persiapan memang sudah dilakukan, hanya saja, pihaknya belum bisa memprediksi antusiasme masyarakat dan dirinya bersama panitia harus mempersiapkan ulang.

Sebelumnya, Michael juga ada dari Papua pada 2004 dan pada 2014 ini ada lagi dari Papua. Terkait persiapan besok, kami akan berusaha agar bisa berjalan baik. Perubahan jadwal itu sendiri karena hasil keputusan jumat malam kemarin sehingga persiapan itu sangat cepat dan kami harus berfikir cepat juga yang pada akhirnya kita merubah jadwal itu dan kita belum maksimal untuk mini konser hari ini,” ungkap Irfan lagi.

Dengan demikian, RCTI memohon maaf sebesar-besarnya pada warga yang sudah mau datang dan melihat Nowela secara langsung dan pihaknya tidak dapat memaksakan karena menyangkut nyawa manusia dengan persiapan yang sangat singkat. Dirinya juga mewakili keluarga memohon maaf atas pembatalan ini.

Senada dengan hal tersebut, Denis Auparay dari Panitia Penyambutan Nowela juga mewakili manajemen RCTI memohon maaf kepada semua fans Nowela dan yang sudah mendukung lewat sms tidak bisa tampil hari ini karena dia harus beristirahat dan berlatih. Besok dia akan tampil jam tiga sore.

Mohon dukungannya terus agar Nowela dapat menjadi the next Indonesia Idol. Saya bisa pastikan, besok dia akan tampil, tidak ada perubahan. Sebelumnya, dia akan melakukan jumpa pers,” kata Denis kepada wartawan.

Nowela tiba di Jayapura pukul 09.00 WP, tetapi karena waktu ibadah maka arak-arakan baru dilakukan pada pada pukul 11.00. Nowela dijemput langsung oleh Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Albert Yoku.

Nanti malam, setelah latihan menyanyi dan beristirahat, Nowela akan berkunjung ke rumah neneknya di Dok 9 lalu dijamu makan malam oleh Gunernur Provinsi Papua, Lukas Enembe di Gedung Negara. (Jubi/Aprila)

Selepa

Airmood Band Papua di Era 1980 an, Populerkan Musik Reggae di Indonesia

Published

on

Editor : Dominggus A Mampioper

Airmood saat show di Stadion Siliwangi Bandung, 1984-Jubi-IST

Airmood saat show di Stadion Siliwangi Bandung, 1984-Jubi-IST

Jayapura,Jubi-Reggae Night di Ancol mungkin cikal bakal pertama kali musik reggae dipopulerkan di Indonesia sejak 1988-1999 an sebab setiap tiga bulan sekali Airmood, Abresso dan Delta Lima-lima meramaikan musik irama reggae di Ancol Jakarta. Saat itu memang musik reggae masih asing di telinga orang-orang di Indonesia sehingga pengunjung di Ancol saat reggae night hanya disaksikan oleh warga Papua dan simpatisan musik reggae. Begitulah sekelumit kisah perjalanan musik reggae yang dikomandoi Ian Gebze bersama Kasuari Enterprise di Jakarta.

Grup Band Airmood  muncul di era 1980 an setelah hijrahnya Black Brothers ke luar negeri. Grup musik ini beranggotakan Ian Ch Gebze pada posisi melody and lead guitar, mendiang Akon Merdy Bonay pada bass, Ian Dicky Mamoribo keyboard, mendiang Coca pada drum serta William Rumbewas dan Becheq Muabuay pada vocal.

Sebelum masuk studio rekaman, sekitar 1981 Airmood Band melakukan test masuk ke TVRI untuk mengisi acara dalam Aneka Ria musik, sekaligus promosi grup band. Berbekal peralatan band sederhana dan seadanya Ian Gebze dan kawan-kawan, meminjam alat musik milik anak-anak muda dari Kompleks Bank Indonesia di Pasar Minggu menuju Studio TVRI di Senayan Jakarta.

Sesampai di Studio TVRI, langsung mengikuti test dan kebetulan Christ Pattikawa salah satu artis dan musisi senior Indonesia, siap melakukan menguji kemahiran musik dan vocal. Mulai dari peralatan band sebenarnya tak layak. Beruntung vocalis dan bass Airmood Band Akon Merdi Bonay menjadi salah satu point tertinggi sehingga mereka layak masuk dalam siaran musik TVRI.

“Dengan peralatan sederhana dan saya nilai Airmood Band pantas masuk dalam siaran TVRI,”kata Christ Pattikawa waktu itu. Akhirnya usai rekaman dan beberapa kali Airmood Band tampil dalam acara musik di TVRI.
Meski tak setenar The Black Brother, pengamat musik Denny Sabri dari Majalah Aktuil saat itu menyebut mereka sebagai musisi Papua beraliran musik seperti “Grup musik Kansas.”

Padahal karakter musisi Airmood Band sendiri bisa dilihat Ian Gebze beraliran rock dan sangat berpengaruh dengan gaya musisi Fariz, Akon Bonay lebih dekat dengan Black Musik, reggae, jazz and blues. Sedangkan Ian Dicky Mamoribo senang dengan grup band asal Swedia, Abba. Sementara Chick Muabuay dan Willy cenderung ke slow rock. Tak heran kalau lagu berjudul Unlike Women karya Chick Muabuay sangat kental dengan aliran slow rock.

Group ini mulai masuk rekaman pada 1981 dengan lagu-lagu berjudul Gaya Intermesso, Pasrah Ombak Putih, Tiket Bis Malam. Salah satu syair lagu ciptaan Dicky Mamoribo berjudul Masuk Putih Keluar Hitam sangat kental dengan kritik sosial. Antara lain, karena satu yang korban seribu. Masuk putih keluar hitam. Buat rencana yang keluar bencana.

Volume Pertama, Airmood. Dari kiri Dicky Mamoribo, Ian Ch Gebze dan Akon Mardi Bonay(alm)-Jubi-Ist

Volume Pertama, Airmood. Dari kiri Dicky Mamoribo, Ian Ch Gebze dan Akon Mardi Bonay(alm)-Jubi-Ist

Lagu Masuk Putih Keluar Hitam ini akhirnya menjadi hits pada Volume Kedua Airmood Band pada 1983-1984. “Dalam prestasi bikin reputasi. Buat rencana jadinya bencana. Masuk putih keluar hitam.” Begitulah salah satu lagu yang diciptakan Dicky Mamoribo Group Band Airmood. Ciri khas dari Airmood adalah setiap volume selalu ada lagu berbahasa Inggris. Misalnya pada volume pertama berjudul Unlike Women yang ditulis Beachick Muabuay dan musik Akon Bonay. Juga dalam volume kedua berjudul The Man Come Upon the Town.

Selain masuk dapur rekaman, grup musik Airmood Band juga melakukan show di Jakarta dan juga pernah di Stadion Siliwangi Bandung. Hanya saja mereka belum pernah tampil di Istora Senayan sebagaimana Black Brother di era 1976 dengan lagu Soldier Fortune milik Deep Purple. Chiq Muabuay mengatakan selama show di Jakarta mereka pernah bersama Goodbless dan Ahmad Albar termasuk SAS dari Surabaya.

Sayangnya Airmood Band memproduksi album mereka hanya dua buah album dan selanjutnya lebih banyak terlibat dengan beberapa musisi asal Papua. Bersama Sandy Betay. Robby Wambrauw dan mendiang Boyce Pattipelohy mereka tergabung dalam grup bernama Abresso dan mereka memproduksi lagu-lagu irama reggae dan daerah Papua. Bahkan Akon, Robby Wambrauw dan Dicky Mamoribo ikut pula mendukung grup Rio Grime dalam aransemen musik rekaman lagu-lagu daerah.

Ian Gebze gitaris Airmood Band membikin perusahaan Kasuari Enterprise merintis pertunjukan Reggae Nite di Ancol sejak 1988-1990 an. Ian Gebze  bekerja sama dengan manajemen Taman Ria Ancol dan sponsor Gudang Garam. Setiap tiga bulan sekali dipentaskan Raggae Night di Ancol. Tampil pula Group Band Delta Lima-lima berisikan grup anak-anak muda Papua di Jakarta juga berirama reggae dan rock. Saat itu musik reggae belum sepopuler sekarang di tanah air termasuk Jakarta.

The Black Company salah satu grup gabungan antara Abresso dan Airmood serta beberapa kali tampil juga di Raggae Nite Ancol. Salah satu cikal bakal bangkitnya musik reggae di Jakarta dan beberapa kali musisi Papua ini show.
Pada 1997 tokoh Papua, Yorris Raweyai memprakarsi klub band asal Papua ini Abresso Band mengisi acara band di Pulau Christmast selama beberapa tahun. Mereka juga mengisi acara misi kebudayaan di Papua New Guinea.

Selanjutnya Grup Airmood Band mulai berkolaborasi dengan musisi Papua dan salah seorang vocalis asal Jamaica bernama Jimmy Ignatio karena bergabung sama anak-anak Papua. Jimmy asal Jamaica ini diberi marga Radongkir jadi kalau show diperkenalkan dengan nama Jimmy Radongkir.

Volume kedua Airmood-Jubi/Ist

Volume kedua Airmood-Jubi/Ist

Abreso sendiri berasal dari bahasa suku Atham/Arfak,Manokwary Papua,yang berarti Salam dalam perjalanan karir group ini ternyata mendapat apresiasi tersendiri baik dari komunitas musik tanah air maupun di hati masyarakat Papua khususnya, karena mampu mewakili seni budaya Papua dalam setiap penampilannya.

Bergabungnya Jimmy Ignatio  Randongkir menambah nuansa lagu berirama raggae semakin marak dan memakai nama Asian Root. Mereka show keliling Pulau Jawa mempopulerkan musik berirama reggae yang saat itu belum begitu populer di telinga orang-orang Indonesia. Saat ini musik reggae sudah tak asing lagi di telinga orang Indonesia. Musik reggae terus bergema seirama lautan Karibia dan Pasifik di Tanah Papua di penjuru Indonesia.(*)

Continue Reading

Selepa

KALAU MENANG, NOWELA JANJI RILIS ALBUM ROHANI UNTUK PAPUA

Published

on

Nowela Dalam Konser Mininya (Jubi/Aprila)

Nowela Dalam Konser Mininya (Jubi/Aprila)

Jayapura, 12/5 (Jubi) – Nowela Elisabeth Auparay, Grand Finalis Indonesia Idol 2014 asal Papua mengatakan ke depan dirinya berencana membuat album rohani yang akan dipersembahkan bagi Rakyat Papua.

“Setelah saya menang nanti, walau ini keinginan pribadi, saya ingin membuat album rohani. Saya berharap demikian. Saya ingin berbagi bagi orang lain, talenta saya ini bisa saya pakai untuk kemuliaan Tuhan dan juga untuk sesama,” ungkap Nowela ,dalam jumpa pers, sesaat sebelum mini konsernya digelar, Senin (12/5) sore.

Pada kesempatan itu, Nowela juga berkisah tentang lika liku hidupnya sebelum menjadi demikian populer lantaran ajang idol itu.

“Awalnya,keluarga besar saya yang mendorong saya untuk mencoba ikut audisi Indonesia Idol,”kata Lia, panggilan akrab Nowela semasa kecil di Wamena.

Terkait kuliahnya yang sempat terputus, Nowela hanya menjawab, semoga bisa melanjutkan lagi.

Masih terkait konser mini Nowela yang berhasil menghadirkan kurang lebih 5.000 fans dan pendukung Nowela ini, Denis Auparay dari Panitia Konser Mini berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu berbagai proses hingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik.

“Kami juga meminta maaf secara luas kepada semua warga Kota Jayapura atas tertundanya konser mini yang awalnya kami jadwalkan kemarin,” tutur Denis di akhir konser mini Nowela. (Jubi/Aprila)

Continue Reading

Selepa

ANDY AYAMISEBA : BLACK BROTHERS BUKAN KELOMPOK MUSISI BIASA

Published

on

Personil Group Band Black Brothers dari ki Benny Betay(bass); David Rumagesan(vocal);Jochi Phu(Keyboard); Amri Kahar(Sax); Stevie Mambor(drum) dan duduk Hengky MS(gitaris and vocalis) saat masih berada di Jakarta.(Jubi/ist)

Personil Group Band Black Brothers dari ki Benny Betay(bass); David Rumagesan(vocal);Jochi Phu(Keyboard); Amri Kahar(Sax); Stevie Mambor(drum) dan duduk Hengky MS(gitaris and vocalis) saat masih berada di Jakarta.(Jubi/ist)

Jayapura, 11/3 (Jubi)- Andy Ayamiseba, manajer Grup Band Black Brothers,  mengatakan Black Brothers bukan sekadar kelompok musisi biasa. Mereka memiliki visi dan misi utama untuk mengangkat martabat bangsanya yang selalu dibilang masih terbelakang.

“Misi dan visi yang kedua untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahterah serta yang ketiga dan maha penting adalah untuk membebaskan bangsanya dari segala bentuk penindasan oleh kaum penjajah,”katanya,melalui akun Facebooknya, belum lama ini.

Menurut Ayamiseba, misi itu bisa dibuktikan dengan karya-karya mereka  melalui syair lagu-lagu nya dan keputusan-keputusan yang diambil untuk meninggalkan ketenaran mereka di tanah airnya Indonesia. Bahkan, kemudian meninggalkan kontrak musik di EMI Holland dan akhirnya hijrah ke Vanuatu untuk menjalankan lobi OPM di kawasan Pasifik Selatan, termasuk PNG.

Para personel BB pun diseleksi berdasarkan potensi-potensi mereka secara individu agar produksi bisa mencapai hasil yang semaksimal mungkin. Jocky Phu, dijuluki si pena emas karena dia adalah penyair besar yang berwatak cinta damai dan keadilan. Kemudian, Hengky (alm) yang memiliki suara emas yang khas Black Brother dan sulit diganti oleh suara lain.

Sijari emas August Rumaropen (alm) dijuluki George Bensonnya Papua dengan watak halus dan rendah hati. Ada juga Benny pada bass dan Stevie si penabuh drum. Keduanya adalah tulang punggung rythm section-nya. Akhirnya David(Dullah) dan Amry yang menciptakan dandanan rythem musik BB. Paduan musik dan vokal mereka yang harmonis sesuai dengan melodi dan syair lagu-lagunya telah menembus nusantara dan Pasifik Selatan. Hal ini  membuat grup musik Black Brother melegenda di Pasifik Selatan, Indonesia,  dan Eropah dengan lagu Jalikoe.

“Saya selaku pendiri dan manajer sekaligus produser eksekutif supergroup ini sulit untuk mendapatkan musisi-musisi alam yang diberkati dengan talenta oleh Tuhan Yang Maha Kuasa seperti mereka. Saya sangat berterima kasih dan bangga karena diberkati dengan kesempatan untuk bekerja dengan group legendaris ini,”tulis Ayamiseba.

Lebih lanjut jelas Ayamiseba Black Brothers adalah suatu persembahan yang berpaduan antarwatak kepribadian talenta, seni, komitmen, dan inspirasi. “Semoga apa yang telah dirintis oleh musisi-musisi alam ini dapat dilanjutkan oleh generasi penerus demi suksesnya misi dan visi mereka,”harap pejuang Papua Merdeka di Vanuatu, Mr Andy Ayamiseba.

Grup Black Brother pertama kali tampil di Jayapura memakai nama Iriantos Primitive, menjelang persiapan show ke Papua New Guinea. Saat itu musisi dan artis-artis Papua bergabung dan berlatih serius guna tampil prima merayakan kemerdekaan Papua New Guinea(PNG)dirumah pribadi menejer Black Borthers Andy Ayamiseba. Sayangnya upaya mengembangkan misi kesenian Papua dan show musik ke negara tetangga PNG tak mendapat restu dari pemerintah pusat di Jakarta.

“Black Brothers pada awalnya bernama Iriantos Primitive. Saya bentuk grup ini untuk tur keliling ke PNG dengan grup tarian yang kemudian izinnya ditolak oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Pusat,”katanya kepada tabloidjubi.com via Facebook.com belum lama ini.

Manajer Black Brothers ini mengaku pada usia yang ke 27 tahun, tepatnya pada 1974 sudah memimpin Group Band Black Brothers. “Setahun setelah izin ke PNG ditolak, saya membuat rencana baru untuk memenuhi visi dan misi tersebut lewat Jakarta. Demikianlah sejarah rekaman Black Brothers dimulai,”tulis Andy Ayamiseba.

Putra seorang mantan pejabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR GR) Provinsi Irian Barat, mendiang Dirk Ayamiseba ini tampil sebagai pebisnis dan musisi di era 1960-1970 an. Andy Ayamiseba sudah bergabung dengan Group Band Varunas salah satu group band milik Angkatan Laut yang cukup terkenal saat itu.

Tim musisi kesenian Irian Jaya yang tergabung dalam Iriantos Primitive mempunyai anggota-anggota awalnya terdiri dari alm Mimi Fatahan mahir bermain musik Hawaian, Ricky Chaay vokalis, Corry Rumbino vocalis dan Musa Fakdawer vocalis. “Latihan musik dan tarian mengambil tempat latihan di garasi rumah milik Andy Ayamiseba di Angkasa Indah, Kota Jayapura,”kata Andy Ayamiseba.

“Varunas Band adalah band milik Angkatan Laut Daerah X dan saya sendiri adalah salah satu anggota dari Band Varunas sebagai slide gitarist,Danny Kadmaer (lead gitrais/vocalis);Herman(basist);Ringgo Kadmaer (drummer);Mulyadi (Keyboard/gitaris); brass section adalah anggota-anggota TNI A. Sedangkan penyanyi penyanyi adalah Bass Lanoh;Ricky Chaay; Marcel Siante alias Honda;dan Dolf Raharusun,”kata Andy Ayamiseba.

Group Band Varunas selalu berlatih di kediaman Panglima Daeral X, Commodore Indra Kusnaedi di Nirwana, Angkasa Kota Jayapura.Saat itu ada musisi Nani kadmaer, saudara tertua dari Ringgo, Nani tidak pernah menjadi anggota Grup Band Varunas.

“Sebelumnya Kadmaer bersaudara bergabung dalam Group Band Aneka Ria yang dikenal sebagai Koes Bersudaranya Papua. Dengan vocal harmonis yang luar biasa dari Danny dan Nany,”kenang Andy Ayamiseba saat bermain band di Kota Jayapura.

Bermodal sebagai musisi dan pengusaha yang memiliki usaha di bawah perusahaan bernama PT Bintuni Baru (BB). Manajer Black Brothers ini mulai menancapkan tajinya dalam musik dan lagu di blantika musik Indonesia. Rencana show ke Papua New Guinea bersama Iriantos Primitive tak mendapat ijin membuatnya melanjutkan misi musik ke Jakarta.

Pada 1976 pertama kali Black Brothers tampil di Senayan, sepanggung dengan SAS Group Rock Arthur Kaunang eks personel AKA Group. Show ini mampu membuat seisi stadion histeris dan group musik asal Papua ini berhasil menaklukan Jakarta. “Saat Hengky MS membawakan lagu Soldier of Fortune dari Deep Purple. Kontan seluruh penonton di Senayan histeris dan kagum kalau ada grop musik dari timur Papua,”kata Musa Fakdawer, salah satu musisi Papua yang juga tergabung dalam Iriantos Primitive.(Jubi/dominggus a mampioper)

 

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Zox News Theme. Theme by MVP Themes, powered by WordPress.