MOANA KARKAS, KECEWA TERHADAP REKAN-REKANNYA DI PARLEMEN VANUATU

share on:
Vanuatu negara kecil di Pasifik Selatan dengan jumlah penduduk 247.252 jiwa ini mendukung kemerdekaan Papua Barat, Timor Leste dan Kaledonia Baru(Jubi/ist)
Vanuatu negara kecil di Pasifik Selatan dengan jumlah penduduk 247.252 jiwa ini mendukung kemerdekaan Papua Barat, Timor Leste dan Kaledonia Baru(Jubi/ist)

Jayapura, 22/5 (Jubi)-Mantan PM Vanuatu Moana Karkas mengatakan merasa kecewa terhadap rekan-rekannya di Parlemen Vanuatu yang melakukan mosi tidak percaya terhadap dirinya.

“Jika saya melakukan kesalahan, saya akan mengundurkan diri dari jabatan sebagai Perdana Menteri Vanuatu,” katanya kepada Pacnews yang dikutip tabloidjubi.com Kamis(22/5).

Dia menambahkan saat ini  sedang mempersiapkan mosi tidak percaya terhadap Perdana Menteri baru Jo Natuman.“Kami sedang membangun oposisi yang kuat dengan beberapa pemimpin untuk memastikan bahwa pemerintah akan bertanggung jawab dari tindakan mereka atas nama rakyat Vanuatu,” katanya.

Moana Karkas mengatakan semua itu adalah hak konstitusional setiap anggota parlemen untuk memulai memantau jalannya pemerintah. Hanya saja Karkas belum memberikan konfirmasi berapa banyak anggota parlemen yang hendak mendukungnya terutama menyangkut soal mosi tidak percaya. Jumlah anggota parlemen Vanuatu sebanyak 52 anggota dan yang mendukung mosi tidak percaya saat menggulingkan Moana Karkas adalah 35 anggota Parlemen.

Sementara itu PM Vanuatu Joe Natuman kepada Radio New Zeland(RNZ) mengatakan pekerjaan pertamanya sebagai PM  meninjau ulang rencana kontroversial membangun bandara dengan perusahaan dari Singapura.

Menurut Natuman kebijakan mantan PM Vanuatu telah membuat banyak pengeluaran anggaran pemerintah yang tidak perlu dan dana keluar dengan skema yang cepat.  Joe Natuman telah dipilih oleh DPR sebagai Perdana Menteri baru Vanuatu menggantikan Karkas akibat mosi tidak percaya di Parlemen Vanuatu belum lama ini.

Joe Natuman adalah seorang anggota parlemen dari Tanna, dia merupakan orang pertama dari pulau Tanna yang menjadi perdana menteri . Dia pernah menjadi  sekretaris pribadi pendiri negara Vanuatu , Pastor Walter Lini. Meski menjabat sebagai sekretaris pribadi Pastor Walter Lini, dia tetap menjadi anggota partai perdana menteri pertama Vanuatu sejak didirikan yaitu, Vanua’aku Pati, partai terbesar di negara yang jumlah penduduknya 247. 252 jiwa saja.

Negara Vanuatu terdiri dari 13 pulau besar dan sebanyak 80 pulau-pulau kecil, pulau utama Vanuatu adalah Esprintu Santo(3.846 KM2), Aoba(245KM2),Maewo atau Aurora (350KM2), Malekula(2.499KM2), Ambrym(596KM2), Pantecost(492KM2), Epi dan Efate(914KM2), Eromanggo(974 KM2) dan Pulau Tanna. Pusat pemerintahan Port Villa berada di Pulau Efate.

Perkotaan lainnya di Vanuatu adalah di Pulau Esperinto Santo dengan kotanya adalah Kota Santo. Pulau-pulau lainya adalah wilayah-wilayah perkampungan masyarakat kepulauan Melanesia berbahasa Perancis dan Inggris serta bahasa setempat Bislama.

Pendiri Partai Vanuaku Pati adalah orang-orang nasional Vanuatu yang umumnya adalah pastor-pastor yang belajar di sekolah-sekolah Presbyterian dan Anglikan. Hal ini menyebabkan mereka terbentuk dalam traisi anglophone. Pastor-pastor inilah yang menuntut kemerdekaan Vanuatu dari penjajahan dengan tokoh utamanya Pastor Walter Lini, Perdana Menteri pertama Vanuatu.

Sedangkan kelompok nasionalis Vanuatu lainnya adalah kelompok terdidik Melanesia dalam tradisi francophone tergabung dalam partai politik Union Moderates Party(UMP). Umumnya UMP adalah orang-orang Melanesia berbahasa Perancis sedangkan Vanuaku Paty mayoritas orang-orang Melanesia berbahasa Inggris.

Pemilu pertama di Vanuatu dilakukan pada 21 Desember 1978 untuk memilih 39 wakil rakyat di parlemen. Hasil Vanuaku Paty  menguasai parlemen dengan 26 kursi dan mengangkat Pastor Walter Lini sebagai Ketua Menteri. Selanjutnya pada 30 Juli 1980, Ketua Menteri Walter Lini memproklamirkan kemerdekaan Vanuatu dan menjabat sebagai Perdana Menteri Vanuatu pertama dengan sembilan kementerian yang mayoritas berasal dari Partai Vanuaku Paty.

Sejak kemerdekaan Vanuatu selalu mengambil sikap keras terhadap bentuk kolonialisme di Pasifik Selatan termasuk mendukung kemerdekaan Kanak di Kaledonia Baru, mendukung aktivis Papua Merdeka dan Timor Timur. Sikap keras ini tidak saja kepada pemerintah Perancis dan Indonesia saja tetapi juga kepada Pemerintah Amerika Serikat.

Walau demikian salah seorang mantan PM Vanuatu yang pernah berkunjung ke Indonesia adalah Maxime Carlot Korman. Dia berkunjung ke Indonesia pada akhir Mei 1995 dan berkeinginan untuk membuka kedutaan besar Vanuatu di Indonesia. (Jubi/dominggus a mampioper)

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  MOANA KARKAS, KECEWA TERHADAP REKAN-REKANNYA DI PARLEMEN VANUATU