HERMAN SAUD: SEMUA PEMIMPIN MELAKUKAN KORUPSI

share on:
Seminar dan Lokakarya Mahasiswa Papua (Jubi/Aprila)
Seminar dan Lokakarya Mahasiswa Papua (Jubi/Aprila)

Jayapura, 27/5 (Jubi) – Pdt. Herman Saud, mantan Ketua Sinode GKI di Tanah Papua mengatakan kasus korupsi harus ditindak tegas. Hal ini dikatakan dalam Seminar dan Lokakarya Mahasiswa Papua ‘Membumikan Visi Papua Tanah Damai’: Apa yang bisa kita lakukan di Susteran Maranatha, Waena, Jayapura, Selasa (27/5).

“Orang tidak lagi bebas melakukan apa-apa. Pemilu yang hebat dibuat sedemikian rupa sehingga tidak lagi aman. Seharusnya pemimpin di sini menghormati rakyat dan suara mereka,” ungkap Pdt. Herman Saud kepada wartawan.

Lanjutnya, semua hal ini menciptakan suasana tidak aman yang harus disuarakan. Harus hidup baik dengan orang lain dan jangan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Beberapa waktu waktu lalu, ada banyak penekanan yang melewati batas sehingga pihaknya menyerukan kepada semua orang di Republik Indonesia ini, khususnya orang beragama dan bernegara untuk melakukan dua hal yaitu menghargai apa yang diajarkan agama dan menghargai apa juga yang diajarkan undang-undang.

“Tetapi tidak dilakukan karena setiap orang melakukan sesuatu semaunya, seolah-olah kita bukan hidup di suatu negara. Seperti korupsi, kalau dilaporkan baru diambil tindakan tetapi itu berarti semua pemimpin harus ditangkap karena semua melakukan hal itu,”kata Pdt. Herman lagi.

Menurut mantan orang nomor satu di Sinode GKI Tanah Papua ini, Orde Baru telah membina mental orang untuk menjadi koruptor. Mengapa? Karena pada Pilgub misalnya, semua jaringan mengumpulkan uang untuk bayar sana bayar sini dan hal tersebut tidak bisa disangkal. Kita berharap, pemimpin baru di Indonesia mampu mengubah kebiasaan buruk ini.

Masih dalam Seminar dan Lokakarya Mahasiswa Papua, Fadhal Alhamid, mantan Ketua HMI Papua yang juga hadir sebagai pembicara dalam seminar ini mengatakan, pergeseran sudah banyak terjadi di Masyarakat Adat Papua Saat ini karena bicara dalam konteks budaya Papua, itu menjadi menjadi sangat luas. Berangkat dari suku-suku bangsa yang ada di Papua, banyak Masyarakat Adat yang telah kehilangan jati diri atau tercerabut dari akar-akar kebudayaan.

“Budaya tentang kemandirian misalnya, masyarakat adat sejak berusia sembilan tahun sudah diajarkan untuk tinggal di rumah bujang atau keluar dari rumah orang tuanya, membikin kebun, membangun rumahnya sendiri,” tutur Fadhal kepada wartawan.

Tetapi perkembangan sekarang, lanjut Fadhal, banyak Orang Papua yang tidak lagi mandiri, bergantung pada orang lain seperti Pemda dan lain-lain. Untuk menikah misalnya, membangun rumah dan lain-lain. Dalam konteks pergaulan juga, ada aturan berinteraksi dalam konteks budaya tetapi sudah banyak yang tidak lagi menggunakan budaya-budaya itu. (Jubi/Aprila)

Editor : Victor Mambor
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  HERMAN SAUD: SEMUA PEMIMPIN MELAKUKAN KORUPSI