WARGA KAMPUNG WAGAMBI BUTUH SEMINGGU DAYUNG PERAHU KE TABONJI

share on:
Panen Padi di Kampung Suam Datu, Tabonji. (JUBI/Frans L Kobun)

Merauke, 6/6 (Jubi) – Satu dari sembilan kampung di Distrik Tabonji, Kabupaten Merauke yakni Kampung Wanggambi yang dikenal dengan topografi yang sangat sulit dijangkau. Satu-satunya transportasi yang digunakan masyarakat dengan jumlah penduduk 50 kepala keluarga (KK) itu adalah mendayung perahu secara manual dengan tujuan ke kampung tetangga maupun ibukota distrik.

Kepala Distrik Tabonji, Wilhelmus Harbelubun menjelaskan, masyarakat dari Kampung Wanggambi sangat sulit untuk datang ke ibukota distrik, sebab topografi sangat sulit. Kalaupun mereka datang, harus mendayung perahu sampai satu minggu baru sampai di ibukota Distrik Tabonji.

Memang selama tiga tahun bertugas di Distrik Tabonji, saya belum sempat masuk sampai ke Kampung Wamnggambi. Karena belum ada perahu cepat (speed boat) yang dipersiapkan. Pada awal tahun 2014 lalu baru diberikan dan akan saya tetap mengunjungi warga dalam waktu tidak terlalu lama lagi,” katanya kepada tabloidjubi.com, Jumat (6/6).

Masyarakat dari Kampung Wanggambi, kata Wilhelmus, jarang untuk datang ke ibukota distrik. Kalaupun ada yang datang, hanya utusan dengan tujuan mengambil honor dan lain-lain. Kondisi wilayah tersebut, telah disampaikan secara langsung juga ke Bupati Merauke, Romanus Mbaraka beberapa waktu lalu.

Selama ini saya mempunyai keinginan besar untuk bisa berkunjung ke Kampung Wanggambi sekaligus dapat berdialog secara langsung. Hanya saja, sarana transportasi yang sangat minim dan hampir tidak ada. ,” tandasnya.

Sekretaris Dinas Sosial Merauke, Christiabn Isir mengaku jika dirinya pernah sampai ke Kampung Wanggambi. Hanya saja, daerahnya sangat sulit untuk dijangkau. “Kita harus menghabiskan waktu berhari-hari baru tiba di kampung tersebut,” tuturnya. (Jubi/Frans L Kobun)

Editor : CUNDING LEVI
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  WARGA KAMPUNG WAGAMBI BUTUH SEMINGGU DAYUNG PERAHU KE TABONJI