DARI FIJI, SEREVI BERNYANYI “BIARKAN BINTANG FAJAR BERKIBAR” UNTUK WEST PAPUA

share on:
Seru Serevi (Jubi/Mawel)
Seru Serevi (Jubi/Mawel)

Suva,8/6 (Jubi)- Siapa itu Seru Serevi, penyanyi asal Fiji yang yang meluncurkan album The Morning Star pada bulan Maret lalu di Suva, Fiji? Pasti semua orang Papua penasaran, saya juga begitu, ingin tahu lebih jauh sosok pria yang menyanyikan lagu berjudul “Biarkanlah Bintang Fajar Berkibar”ini.

Rasa penasaran itu juga yang menuntun saya, ketika suatu hari, seroang rekan, Tuan Drova mengajak saya menumpang mobil Extrada putihnya, menelusuri jalanan negeri Fiji mencari tuan Seru Serevi.

Perjalanan sangat indah dan menyenangkan hati. Jalanan kota bersih, perumahan penduduk berjejer rapi dengan taman yang indah. Kota yang hijau, rasa panas jarang kita rasakan disini. Pepohonan itu menghasilkan angin segar yang bertiup membelai tubuh, rasanya segar dan bugar.

Adoh, kalau Jayapura pasti kita stress melihat pembangunan yang carut marut. Untung, kita ada di Fiji,”tutur Nelson yang ikut dalam rombongan wartawan tabloidjubi.com.

Mobil itu terus melaju menyeberangi sungai Reva. Orang Fiji menyebutnya, Reva River. Dua jembatan panjang menghubungikan daratan kota Suva dan bandara Internasional Nausori.

Ado sungainya bersih e..”tutur Nelson lagi. “Ado kalau di Jayapura, penuh sampah ni…”.

Mobil itu terus melaju melewati Air Internasional Nausori memasuki wilayah pedesaanyang terlihat asli dan bersih, penuh kelimpahan tanaman. Warga desa menanam Keladi dan Singkong. Wajah perkampungan dihiasi dengan kebun.

E kamu lihat tidak. Kebun keladi dan singkong yang luas di sana,”tuturku sambil menunjuk perkebunan warga desa. Teman-temanku heran dan kagum, dengan gaya kehidupan warga negara kecil bekas jajahan Inggris itu.

Oh rupanya keladi, singkong membanjiri pasar Suva setiap Jumat dan Sabtu, menu karbohidrat yang tersedia di rumah makan dan resturan di Suva itu karena masyarakat menanam e…”gumamku mengingat pengalaman menyaksikan kenyataan di Kota Suva.

Rumah-rumah warga kota, dan desa masih terpengaruh dengan gaya Eropa yang dipadukan dengan aksen tradisional. Kalau rawa, tempat biasa tergenang air, dibangunlah rumah itu dengan model panggung tanpa menimbun. Jadinya kalau hujan, air bisa meresap ke dalam tanah dan tidak tergenang dan menyebabkan luapan air sebagaimana yang terjadi di Jayapura.

Keindahan kehidupan warga Negeri Ratu Inoke itu membuat perjalanan satu jam itu tidak terasa. Pengendara mobil, tuan Drova menjelaskan kita sudah memasuki kampung Suva Keci (Suva Balae-Balae).

Kalau di sana Suva besar, di sini Suva Kecil,”tutur Tuan Drova. Kampung itu tempat orang migran dari Suva besar yang kini menjadi ibu kota Negara Fiji.

Waktu kolonial datang. Semua orang pindah ke sana,”tutur Ema Rova, wanita asal kampung itu kepada tabloidjubi.com di Rumah, di Lami Town.

Kita sudah memasuki wilayah kampung tuan Seru Serevi, Ini kampung Nicorovou, kampung saya dan tuan Seru Serevi,” timpal Tuan Drova. Mobil parkir. Rombongan turun satu persatu.

Ah kamu lihat ka tidak. Pace Seru Serevi ada sana itu,”tutur salah satu anggota rombongan kepada tabloidjubi.com.

ah mana ka?…”

Ko lihat tidak, pace tinggi besar,rambut talingkar pajang, pakai kemeja coklat batik motif Fiji dan celana pendek putih abu-abu dan sepatu kulit coklat itu,”

Akhirnya, saya lihat dan mendapati Seru Serevi. Wajahnya persis yang pernah saya lihat di situs Youtube, dia sudah, yang menyanyikan lagu Morning Star.

Saya Seru. Selamat datang di kampung saya, Mari kita jalan sama-sama ke rumah saya,”tuturnya lembut dan sopan menyambut. Kami beriringan, menelusuri lorong-lorong perkampungan. Bunga-bunga indah menghiasi halaman rumah penduduk.

Tuan Seru lantas menunjuk satu bangunan tua, gaya dapur masyarakat di Pedalaman Papua. Yang terlihat termakan usia.

Ini rumah saya waktu kecil. Saya lahir di sana, pada tanggal 27 Juli 1961”tuturnya menjelaskan rumah tempat dirinya pertama kali hadir di bumi .

Tuan Seru terus menuntun kami menuju satu rumah beton panggung berwarna putih.tepat didepan rumah berukuran besar itu dia berhenti . “Saya dengan kelurga saya tinggal di sini,”tuturnya lalu membawa kami menaiki tanga rumah.

Bula…”tutur Wanita kurus tinggi itu kepada tabloidjubi.com sambil menyorkan tangannya.

Ini isteri saya, namanya Vilimaina, berusia 54 tahun, kami dikaruniai empat anak, dua laki-laki dan dua perempuan, ”tuturnya dengan bangga memperkenalkan isteri tercinta. Wanita itu murah senyum dan ramah membuat para tamu rasa nyaman dan damai.

Rumah tempat tinggal Seru, selayaknya sebagian besar rumah warga Fiji, tidak ada kursi sebagaimana yang kita temukan di Jayapura dan Papua Pada umumnya. Mereka hanya mengalaskan karpet anyaman daun semacam kelapa atau sagu.

Kami duduk melantai selayaknya kita masuk honai di Pedalaman Papua lalu duduk melingkar. Sambil duduk, mata terus kemana-mana mendapati TV 21 inc, rak kaset koleksi, kain-kain motif dari berbagai Negara di Pasifik menghiasi dinding rumah sang musisi senior itu.

Pemandu mulai acara penerimaan tamu menurut orang Fiji. Ia mengambil Cava mentah, yang belum diolah yang kami bawa. Ia meraba-raba itu lalu komat-kami menyampaikan terima kasih dan menjelaskan kedatangan tabloidjubi.com dalam bahasa Fiji kepada Seru.

Akar Cava itu kemudian diserahkan kepada tuan Seru, yang segera diterimaknya sebagai tanda menerima kedatangan kami. Dia berikan Cava itu kepada tabloidjubi.com.

Cava adalah salah satu minuman tradisinal Fiji yang memabukkan kalau di minum lebih dari 15 sloki penuh. Satu seloki yang dimaksud berukuran setengah belahan tempurung kelapa. Orang Fiji minum ini pada perayaan-perayaan keagamaan, perayaan kesukuan dan pada malam hari kemudian merencanakan aktivitas hidup mereka besok dan hari-hari selanjutnya.

Usai acara penerimaan, istri tuan Seru Serevi, dan putrinya, Bee Serevi menyiapkan makanan olahan singkong dari kebun dan menyikan minuman semacam teh dari Fiji.

Sambil menikmati hidangan tuan Seru menjelaskan kisah perjalanannya sebagai seorang Musisi. “Saya kenal musik dari ayah saya. Ayah saya penyanyi radio dengan menggunakan Ukulele. Saya terjun ke dunia musik sejak saya SMP. Sudah 40 tahun saya bernyayi,”tuturnya.

Seru juga bercerita ketika dirinya bertemu group Musik Black Brother dari West Papua. Dua kaset milik Black Brother itu masih disimpannya degan baik. Satu dari dua kaset itu berjudul “Black Brothers Border crossers” artinya “batas kemarahan saudara-saudara hitam”, begitu terjemahan bebasnya.

Sejak perjumpaan dan mendengar kemarahan itu, Seru selalu mengikuti perkembangan West Papua melalui informasi media massa, maupun dari teman-temannya, ketika dia mengunjungi Vanuatu, PNG, Salomon, New Zealand dan Australia.

“Saya selalu mengikuti imformasi dari West Papua, sangat menyedihkan tetapi kita sangat jarang mendengar situasi buruk itu melalui media-media terkemuka di Dunia. BCC, CNN tidak pernah menyiarkan masalah Papua. Kita hanya dapat sedikit. Sementara, setiap hari, kita mendengar berita-berita dari Crimea, Lebanon, Timur Tengah, dan mengapa begitu?”tanya Seru.

Tuan Drova tiba-tiba ikut nimbrung dalam percakapan ini. Ia mencurigai ada tekanan terhadap jurnalis Internasional masuk ke Papua meliput dan memberikan masalah Papua kepada publik dunia. “Kalau begitu, kita bisa tahu sendiri bahwa ada tekanan di sana terhadap jurnalis,”tuturnya menyampaikan dugaannya.

Ketika media internasional membungkam isu kemanusiaan di West Papua, Seru merasa mempunyai tanggungjawab moral menyampaikan informasi mengenai massalah Papua terhadap dunia melalui dunia musiknya.

Menyanyi Morning Star itu satu kewajiban moral saya. Saya hanya bisa menyampaikan tanggungjawab moral saya melalui satu lagu itu bagi saudara-saudariku di West Papua. Saya harap satu lagu itu bermanfaat,”tuturnya. (Jubi/Mawel)


Editor : Syam Terrajana
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  DARI FIJI,  SEREVI BERNYANYI “BIARKAN BINTANG FAJAR BERKIBAR” UNTUK  WEST PAPUA