PERISTIWA ARFAI 1965 DALAM CERITA MANTAN TAPOL PAPUA, YULIUS INAURY (Bagian IV)

share on:
Yulius Inaury, Aprila Wayar dan Margaretha Singgamui (Jubi/Aprila)
Yulius Inaury, Aprila Wayar dan Margaretha Singgamui (Jubi/IST)

Jayapura, 11/7 (Jubi) – Setelah ditangkap dan dimasukkan ke Penjara Kodim selama seminggu, Yulius Inaury bersama rekan-rekan sesama Tapol Papua dinaikkan ke Kapal Raden Saleh, bertolak ke pulau Nusa Kambangan, sebuah penjara di Cilacap, Jawa Tengah .

“Sampai di Ransiki, ada satu murid asal Ransiki yang melapor pada polisi untuk menangkap saya. Saya dikepung di tengah hutan pada waktu itu. Padahal rencana awalnya, saya akan pulang ke Nabire dari Ransiki,” lanjut Yulius dengan mata menerawang.

Kapal Raden Saleh disiapkan untuk mengangkat Tapol Papua. Bersama kurang lebih 80 Tapol lainnya, mereka diberangkatkan. Tidak ada Permenas Awom dia atas Kapal Raden Salah karena dia berhasil lolos ke hutan. Permenas baru diketahui oleh Yulius dan rekan-rekannya bahwa ia akhirnya berhasil dibujuk oleh Indonesia untuk keluar dari hutan.

“Sampai di Sorong, penumpang Tapol bertambah delapan puluh orang lagi. Jadi kami sekitar seratus enam puluh Tapol yang dibawa ke Jawa dengan Kapal Raden Saleh,” cerita Yulius.

Seorang polisi asal Jawa yang nantinya jadi Bupati Pertama Nabire, Sugiyo yang mengantar Tapol Papua di atas Kapal Raden Saleh itu. Selain Sugiyo, ada 2 CPM dan 2 tentara yang antar Yulius dan kawan-kawan ke Jawa.

“Sampai di Tanjung Priuk kami turun. Ada bus-bus yang siap menjemput kami. Bintang lima ABRI saat itu yang langsung menjemput kami dengan membawa makan siang,” ungkap Yulius.

Kurang lebih satu minggu, Yulius dan kawan-kawan ditahan di Penjara Sukamiskin, Jakarta. Yulius dan kawan-kawan tidak ditahan seperti rencana awal. Tapol Papua dibagi-bagi ke perusahaan-perusahaan untuk dipekerjakan, tidak ditahan di Nusa Kambangan.

Dari informasi yang diterima Yulius, itu adalah upaya mengamankan Pepera yang berlangsung 1969 di Papua. Indonesia khawatir, jangan sampai Yulius dan kawan-kawan membuat kacau Pepera dengan memprovokasi masyarakat.

“Saya dapat pembagian di Perusahaan Perkebunan Karet, Banjar Batulawang di Jawa Barat. Saya ditugaskan di bagian keuangan perusahaan,” tutur Yulius pada tabloidjubi.com di Pulau Mambor, Nabire.

Tiap bulan, Yulius bertugas menyiapkan daftar gaji karyawan yang akan diserahkan ke kasir untuk membayar gaji karyawan. Yulius dibayar upahnya setiap dua minggu.

Kehidupan Yulius selama hampir lima tahun di Jawa ini dijamin oleh satu keluarga Kristen yang orang lapangan di Perkebunan Karet tersebut. Yulius berhasil membawa pulang tabungannya senilai Rp. 10 Juta ke Papua dari hasil keringatnya di Perkebunan Karet tersebut.

“Perintah dari Jakarta kembali datang dari Jakarta. Semua Tahanan Politik Papua, waktu itu Irian Jaya harus segera dipulangkan ke Papua. Kapal Raden Saleh disiapkan untuk bawa kembali semua Tapol Papua,” ujar Yulius lagi.

Rombongan Tapol Papua ini kembali ke Papua sekitar Tahun 1970. Perjalanan Kapal Raden Saleh berakhir di Manokwari tetapi sebelumnya singgah di Fakfak dan Sorong menurunkan Tapol dari dua wilayah tersebut. (Jubi/Aprila)

Editor : CUNDING LEVI
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  PERISTIWA ARFAI 1965 DALAM CERITA MANTAN TAPOL PAPUA, YULIUS INAURY (Bagian IV)