REVOLUSI MENDIDIK BANYAK ORANG

share on:
Ilustrasi (ist/google)
Ilustrasi (ist/google)

Suva,10/8—Masih di pondok pelarian Revolusi. Revolusi rasa sepi, susah, dan terbaikan terus berlanjut dari satu waktu ke waktu yang lain. Mata terus membantu Kaka Nona menjalani terapi otot saraf yang lumpuh tiap pagi dan sore. Mereka berjalan-jalan sekitar pondok. Entah dalam keadaan perut terisi maupun kosong hingga waktu.

Waktu-waktu yang mereka lalui tidak sia-sia. Mata berhasil bantu Kaka Nona. Kaka Nona sudah tidak jalan terhujung-huyung lagi walaupun beberapa bagian tubuhnya yang masih mati rasa. Ia tidak berkumur kata lagi. Ia mulai mengeja kata-kata dengan baik dan jelas. Komunikasi yang pernah terputus tersambung kembali dan mulai mengalir deras.

Kata-kata yang menginspirasi, menumbuhkan semangat, dan optimisme dalam diri anak-anak yang masih dalam usis pertumbuhan itu.  Pertumbuhan semangat perjuangan bagaikan jamur, angin yang bertipu ke empat penjuru dunia. Baik dalam kesadaran maupun ketidaksadaran yang sulit diprediksi terus berjalan.

“Mata, mereka yang lain ke mana ya?”tutur Kaka Nona. Pertama kali ia mengajukan pertanyaan sejak satu bulan lebih membisu akibat lumpuh setelah makan daun haram akibat kehabisan makanan.

“Ketika Kaka Nona jatuh sakit, mereka telah pergi. Saya tidak tahu, mereka pergi ke mana saja,”jawab Mata dengan sedikit sedih.

Semua kemungkinan dapat menimpa mereka. Mereka bisa diculik. Mereka mengembuskan napas di tengah hutan akibat perut kosong. Bisa juga, mereka tertembak di tangan serdadu kota, saat merea dalam perjalanan kembali ke kota memenuhi kerinduan mereka berjumpa dengan sanak saudara.

“Entalah nasib mereka,”tuturnya.

“Biarkan mereka pergi. Ke mana mereka mau pergi. Kepergian mereka mengurangi jumlah kita. Namun,  itu tidak menguranggi semangat kita. Roh yang kita tumbuhkan dalam kebersamaan masih ada bersama kita. Kita harus bediri atas kepercayaan, sejarah,  dan kebenaran,” kata  Kaka Nona.

Mata kembali merasakan roh optimisme hidup. Roh yang pernah lenyap bersama kelumpuhan Kaka Nona bangkit. Roh itu memberontak dalam dirinya yang masih belia. Ia merasa menjadi lebih hebat dari Kaka Nona.

Roh pemberontakan menari-nari dalam benaknya. Kata si Mata, “Kaka Nona. Kita tidak boleh pasrah. Kita tidak boleh tergantung kepada orang lain. Kita mesti mandiri. Kita harus meninggalkan pondok yang penuh dengan teror dan pengkhianatan ini”.

Mata sudah tidak sabar lagi menyaksikan pengkhiatan yang terus menerus tanpa akhir itu. Kata-kata mereka taburkan, tetapi itu tidak lebih hanyalah hipnosis  dan obralan  kata, jadinya dalam kenyataan ini.

“Sayang. Kita memmbutuhkan prosses. Biarkanlah situasi yang kita hadapi ini membentuk kita menjadi manusia.  Kita tidak boleh lari dari situasi ini. Kalau lari, kita akan kehilangan arah. Kita tidak akan tahu dari mana kita datang, di mana kita ada, dan kemana hendak kita mau pergi melangkah nanti,”ujar Kaka Nona menatap Mata.

“Kalau begitu, kita harus menentukan pilihan sikap supaya proses menjadi jelas dan terarah. Kita tidak boleh terjerat situasi ini,”tutur Mata.

“Iya, kamu sudah sadar itu…tetapi proses menentukan hidup kita yang  memang sulit. Kita butuh kesabaran yang bisa menuntun kita menghadapi isu-isu penyerangan, penyusupan,  dan propaganda politik yang sedang dimainkan serdadu kota melalui kelompok-kelompok partisan yang berkeliran di pondok pelarian ini”.

“Kalau tidak, kita terjebak masuk ke dalam permainan. Kamu lihat saja. Aksi saling memanfaatkan satu terhadap yang lain dalam satu kelompok partisan, suku, daerah dan gologan dan bangsa ini sangat ramai.

“Kamu tahu mereka melakukan itu demi sesuap nasi, sebatang rokok. Mereka mempertahakan kondisi buruk dan menciptakan rentetan sejarah panjang yang buruk, yang mereka teriaki untuk berakhir,”Kaka Nona menjelaskan situasi orang di pondok pelarian.

“Kebutuhan hidup memang mendidik orang yang mengaku diri pemimpin menjadi pengkhianat terhadap sesama, memanfaatkan sesama mencari keutungannya sendiri. Selebihnya menari-nari di atas penderitaan sesama, tulang belulang yang berserakan,  dan darah-darah yang terus mengalir,”tutur Mata.

“Itulah perilaku buruk yang mengaku pemimpin. Saya harap tidak boleh menjadi penghianat terhadap darah ayah – ibu di tangan serdadu kota dalam revolusi ini,”pinta Kaka Nona.

“Kalau begitu, Kaka Nona, mulai hari ini, kita harus menentukan pilihan. Kita memilih menjadi pengkhianat atau pejuang loyalis pondok pelarian,”seru Mata.

“Ingat! Sekali-kali, kita tidak menyakiti diri sendiri, ayah-ibu dan mengkhianati kebenaran hidup dan sejarah yang kita rintis. Sampai kapan pun, kita harus menjadi diri sendiri. Situasi buruk tidak boleh menjebak kita masuk ke dalam pelukan serdadu kota. Kita harus bediri kokoh di atas kebenaran yang kita miliki,”tegas Kaka Nona.

Ketegasan Kaka Nona membuat Mata makin yakin pada apa yang dirasakannya. Kebenaran akan lahir dari sebuah situasi yang sulit itu. Kebaikan pun ada di balik perjuangan yang penuh dengan penderitaan. Situasi buruk itu menjadi petunjuk mencapai kebenaran dan kebaikan yang terbaikan, pikir Mata sambil mengamatai situasi yang sedang terjadi. (MAWEL)

Editor : Oyos Saroso HN
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  REVOLUSI MENDIDIK BANYAK ORANG