BENARKAH THOMAS DANDOIS DAN VALENTINE BOURRAT ADALAH MATA-MATA ASING?

share on:
Thomas Charles Dandois dan Marie Valentine Bourrat (IST)
Thomas Charles Dandois dan Marie Valentine Bourrat (IST)

Jayapura, 18/8 (Jubi) – Thomas Charles Dandois dan Marie Valentine Bourrat, dua jurnalis asal Perancis ini, saat ini sedang ditahan di tahanan imigrasi Jayapura. Keduanya ditahan sejak tanggal 6 Agustus atas dugaan melakukan pelanggaran imigrasi dan terlibat dengan kelompok bersenjata di Lanny Jaya.

Siapakah Thomas Charles Dandois dan Marie Valentine Bourrat?

Beberapa hari setelah dunia internasional mengetahui Thomas dan Valentine ditahan oleh pihak Kepolisian Papua, Christophe Deloire, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Reporters Without Borders menyampaikan kepada media internasional bahwa Thomas Dandois adalah seorang jurnalis. Thomas juga merupakan pembuat film dokumenter yang sangat terkenal di Perancis. Thomas punya reputasi sangat baik, dikalangan jurnalis Eropa karena aktivitas jurnalistiknya di berbagai belahan dunia.

“Tak perlu dipertanyakan lagi, Thomas Charles Dandois dan Marie Valentine Bourrat adalah wartawan yang sedang melakukan liputan di Papua. Kedua nya dikenal karena integritas dan kejujuran mereka. Menahan mereka untuk waktu yang lama harus dianggap sebagai pelanggaran kebebasan media. Kami mendesak pihak berwenang untuk segera membebaskan keduanya.” kata Christophe Deloire melalui rilis Reporters Without Borders (RWB) yang diterima Jubi (12/8).

Valentine, menurut  Christophe Deloire  menyandang gelar Master Jurnalistik dari Sciences-Po-Toulouse. Valentine juga diakui secara luas sebagai Jurnalis. Bulan Maret tahun ini Valentine meraih penghargaan dari festival film dokumenter yang terkenal di Perancis, yakni Festival International du Grand Reportage d’Actualité (FIGRA). Sekjen Reporters Without Borders  ini menegaskan Bourrat juga memiliki pengalaman kerja di sejumlah media kredibel, termasuk BBC TV di Inggris dan Arte TV yang memiliki pengaruh kuat di Perancis dan Jerman.

Arte TV, stasiun Televisi yang mempekerjakan Thomas dan Valentine pun menyatakan keberadaan Valentine dan Thomas di Papua adalah penugasan jurnalistik untuk memproduksi Arte Reportage yang digarap Kantor Berita Televisi Memento. Sedangkan Thierry Marro, CEO Kantor Berita Televisi Memento menyatakan Valentine dan Thomas sejak 7 Juni 2014 telah resmi bekerja sebagai jurnalis di Kantor Berita Televisi Memento. Hal ini disampaikan oleh Anne Florence Garnier, Manager Produksi Arte Reportage dalam korespondensi dengan Jubi.

Kolega Thomas dan Valentine lainnya, yakni Philippe Brachet, Editor Kepala Arte Reportage, turut bersuara dan menjamin status jurnalis dari Thomas dan Valentine. Philippe mengatakan Thomas dan Valentine sangat  dihormati para koleganya karena keduanya bekerja secara professional dan selalu mematuhi aturan dan etika sebagai jurnalis.

Keterangan lainnya yang diterima Jubi, berasal dari Fabrice Coat, Presiden dan CEO Agensi Berita Televisi Program 33. Ia menerangkan Valentine Bourrat bekerja sebagai jurnalis agensinya sejak September 2013 hingga Maret 2014, memproduksi program berita televisi Tracks untuk Arte TV. Tracks adalah program televisi mingguan yang ditayangkan oleh Arte TV. Coat menyatakan Bourrat adalah jurnalis yang sangat handal dan menguasai berbagai topik peliputan.

Demikian juga keterangan dari CEO Agensi Berita Televisi Scientifilms, Fabrice Papillon, yang menyatakan Thomas Dondois pernah menginvestigasi wabah Ebola untuk Scientifilms. Dalam kerja jurnalistiknya bersama Scientifilms, menurut Papillon, sebagaimana diterangkan kepada Jubi, Dondois membuat film dokumenter berdurasi 90 menit yang sangat mendalam mengupas wabah Ebola. Film dokumenter itu rencananya akan ditayangkan di Arte TV pada awal September 2014.

Bagaimana Thomas dan Valentine sampai di Papua?

Marie Valentine Bourrat diketahui masuk ke Indonesia melalui Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta, pada tanggal 3 Juli 2014. Valentine memakai passport nomor 09FD72946 (berlaku sampai 15 Juli 2019) dan VISA izin kunjungan  yang berlaku 60 hari sejak hari kedatangannya di Indonesia. Sedangkan Thomas Charles Dandois memasuki  Indonesia tiga minggu kemudian Indonesia melalui Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta, ibukota Republik Indonesia, memakai passport nomor 14CP82311. Passport Thomas berlaku sampai 5 Mei 2020. Ia menggunakan VISA on Arrival (VOA) saat masuk ke Indonesia pada tanggal 28 Juli 2014.

Tanggal 30 Juli 2014, keduanya berangkat dari Jakarta menuju Sorong. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Raja Ampat.  Namun tidak diketahui aktivitas apa yang dilakukan keduanya.

Kemudian, Bourrat dan Dandois berangkat dari Sorong menuju Jayapura pada tanggal 3 Agustus dan tinggal selama dua hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Wamena pada tanggal 5 Agustus. Namun sehari kemudian, keduanya ditangkap oleh anggota Kepolisian Jayawijaya usai bertemu dengan Kepala Suku besar Lani, Areki Wanimbo.

Setelah ditahan oleh pihak Kepolisian Resort Jayawijaya, keduanya kemudian dituduh melakukan pelanggaran imigrasi. Tak lama kemudian, keduanya juga disebutkan melakukan aktivitas sebagai Mata-Mata. Polisi menduga demikian karena menurut Polisi, keduanya berada di lokasi kelompok bersenjata yang dicurigai berkaitan erat dengan konflik bersenjata di Lanny Jaya.

“Jadi sampai kemarin, kita sudah gelar perkara yang kita ambil dua tersangka tersebut tetap kita proses karena ada kecurigaan mereka melakukan mata-mata,” kata Kapolda Papua Irjen Pol Yotje Mende, kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (14/8).

Polisi menyatakan, Thomas dan Valentine bisa sampai ke Papua hingga Wamena atas bantuan seorang wartawan Australia berinisial NC. (Jubi/Victor Mambor)

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  BENARKAH THOMAS DANDOIS DAN VALENTINE BOURRAT ADALAH MATA-MATA ASING?