MASYARAKAT DI PULAU KIMAAM MERAUKE BUKAN PERAMU

share on:
Hasil alam masyarakat yang dibawa saat festival ndambu. (JUBI/Frans L Kobun)

Merauke, 26/7 (Jubi) – Menurut salah satu tokoh masyarakat Kimaam, Petrus Yamaka, masyarakat di Pulau Terapung Kimaam yang terdiri dari Distrik Kimaam, Waan, Tabonji serta Ilwayab di Kabupaten Merauke, Papua, bukanlah peramu yang tiap hari menghabiskan waktu dengan masuk keluar hutan mencari makanan atau ke rawa mengambil ikan.

“Tapi umumnya mereka pekerja keras yang tiap harinya di kebun membuka lahan menanam umbi-umbian, pisang, dan aneka tanaman lainnya,” kata Petrus kepada tabloidjubi.com, di Merauke, Papua, Senin (25/8).

Menurut Petrus, jika dibandingkan dengan daerah lain yang mungkin masyarakatnya masih mengharapkan hutan sebagai sumber untuk mendapatkan makanan, namun kalau orang Papua di empat distrik itu, membanting tulang dengan bekerja di kebun.

“Saya berani katakan demikian karena para leluhur telah membuka jalan dan mewariskan kepada masyarakat di kampung-kampung di Pulau Kimaam agar harus bekerja keras memanfaatkan lahan yang ada untuk ditanami berbagai jenis tanaman,” katanya.

Semua orang, kata Petrus, bisa melihat secara langsung bagaimana masyarakat memobilisasi semua potensi alam yang dimiliki sekaligus dipamerkan di muka umum dalam pelaksanaan festival ndambu. “Ini menunjukkan bahwa mereka adalah pekerja keras yang tidak pernah menyia-nyiakan waktu yang ada,” ujarnya.

Diharapkan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke dapat melihat bahwa masyarakat mempunyai suatu semangat yang sangat tinggi untuk memanfaatkan lahan sekaligus menanam berbagai jenis tanaman. “Ya, kalau ada pasar yang pasti dan jelas, tentunya mereka akan lebih termotivasi lagi untuk bekerja,” tutur Petrus.

Anggota DPRD Kabupaten Merauke, Dominikus Ulukyanan mengaku, dirinya sudah puluhan tahun tinggal bersama masyarakat di kampung-kampung di empat distrik tersebut. “Sebelum jadi anggota dewan, saya hidup dengan mereka dan mengetahui pasti bagaimana aktivitas dan atau kegiatan yang dijalankan setiap hari,” katanya.

Masyarakat setempat, lanjut Dominikus, tidak menghabiskan waktu dengan masuk ke hutan. Mereka lebih banyak ke kebun dan membuka lahan sekaligus ditanami umbi-umbian maupun pisang. Sehingga tidak mengherankan jika setiap tahun selalu ada cadangan makanan yang dimiliki. (Jubi/Frans L Kobun)

Editor : CUNDING LEVI
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  MASYARAKAT DI PULAU KIMAAM MERAUKE BUKAN PERAMU