KITAB SUCI HOTEL

share on:
Kitab Suci Hotel (Jubi/Mawel)
Kitab Suci Hotel (Jubi/Mawel)

“Sunyi dan sepi,”pikirku. Beberapa orang duduk memikirkan nasib, lalu lalang mencari pasangan di ruang kosong. Saya masih menarik koper roda menuju ruangan tunggu keberangkatan.

Itu saat-saat yang sangat asyik untuk melangkah, Hpku berdering, bergetar getar di kantong celana,  menghentikan langkahku.

“Nomor baru”pikirku sambil menerima panggilan dengan satu keraguan siapa yang menelpon saya.

“Hi…selamat sore,”jawabku lembut.

“Halo Benny. How are you?”tanya suara sopran yang belum saya kenal.

“Kok dia tahu nama saya,”gumamku. Dia tidak peduli kalau saya belum kenal dia.

“Benny kamu pakai taxi ke hotel?”

Tanpa pikir panjang, suara sopran mempengaruhi, menutup logika, naluri menguasai akal respon suarah lembut.

“Hotel mana?”pintaku bertanya.

“Hotel Rafless Getway. saya akan kirim email alamat hotel. Kamu pakai taxi dan segera ke sana,” katanya mengandung desak.

Saya menanti. Dua menit kemudian,  masuklah email ke iPad. Saya memastikan semua petunjuk dan memanggil taxi untuk antar ke hotel, menurut petunjuk surat elektronik.

“Om berapa lama di hotel,”tanya sopir taxi yang mulai keriput. Ia nampak tegar, kurus dan terbiasa mengoda, pandai berbicara dengan orang asing.

“Satu bulan om…”

“Om uang banyak kali…hotel ini sangat mahal. Satu hari 400 dolar Fiji…
Om su bayar sebulan ka…”

“Saya bayar setengah saja…. Nanti, saya akan cari hotel yang murah….”

“Kalau mau yang murah, kita bisa bantu cari,”tuturnya serius.

Orang itu rupanya pandai menggoda. Saya ingin melanjutkan obrolan yang penuh dengan ide materi itu tetapi taxi kuning pekat yang dikendarainya terlanjur menepi.

“Om sudah sampai. Om segera turun. Kalau lama, om bayar lebih mahal dari harga normal,”desaknya.

Pegawai hotel segera membuka pintu taxi. Saya bergerak cepat angkat barang, menghindari jeratan harga, dan menuju loby hotel check in.

“Bula…”sapa Gadis itu. Bula kata bahasa Orang Itaukei, Fiji yang artinya selamat datang.

“Bula Vinaka,”Responku menyampaikan terima kasih banyak atas sambutan yang lembut dan terhormat itu.

Gadis itu melemparkan tersenyum manis nampak mengoda. Saya tersenyum sinis sambil menyadari senyuman itu pura-pura baik, karena saya akan membayar hotel.

Saya menunjukan identitas. Sambil memikirkan hal-hal yang saya tidak pikirkan, gadis yang memiliki bibir mulus, tanpa kerutan, meminta identitas saya, memfotokopinya.

“Semua telah selesai. Kamar nomor 703. Anda lurus dan belok kanan,kalau salah, Anda akan di denda,”tuturnya menuntun.

Saya dengan hati-hati menarik koper roda, memikul tas dan tenteng tas biru berisi ratusan lembar kertas menuju kamar.

Pintu Kayu itu terbuka lebar. Saya masuk, meletakkan barang bawaan. Pertama-tama memeriksa isi kamar, mencari kamera tersembunyi…

“Aman…”pikirku memastikan ruangan itu tanpa kamera tersembunyi yang orang pasang mencari informasi yang waktu-waktu tertentu bisa pakai sebagai bukti tuduhan kalau saya pernah masuk kamar itu.

Saya terus memeriksa setiap lemari, setiap meja, kursi, dan setiap sudut dan benda hingga di balik tempat tidur, di bawah kasur pun menjadi perhatian saya.

Saya memastikan kamar aman tetapi saya mendapati beberapa buku. Sebelum lihat isi, saya memastikan buku-buku itu daftar menu hotel 24 jam, seperti yang pernah saya dapati di hotel orang Betawi.

Saya fokus beberapa sudut dan memastikan setiap benda yang ada di atas menjadi kecil di antara dua tempat tidur itu. Saya mendapati dua remote, satu asbak rokok, dan di dalam asbak itu berisi satu kertas warnah merah hitam biru yang tertulis “jangan merokok…”

Saya tidak peduli dengan urusan para perokok itu. Saya tengok ke bawa meja, laci. Saya mendapati satu buku tebal yang saya duga sebelumnya berisi dftar menu hotel hingga menu plus-plus.

“Pasti ini buku menu hotel….tetapi kok tebal sekali…”pikirku sambil meletakkan barang bawaan.

Saya duduk di tempat tidur dekat buku itu. Saya ingin memastikan menu-menu. Saya mengambil dan membalik sampulnya..

“Holy Bible…”aku baca tulisan disampul.

“Play….Kitab suci,”teriakku kaget yang luar biasa aneh. Respon kaget itu hanya saya yang tahu. saya melucu sendiri dengan suara saya yang menggema dalam kamar hotel.

“Beda ya….kalo di Hotel Melayu saya temukan menu Makanan dan plus-plus..malah negeri orang Melanesia saya temukan kitab suci…”

“Kitab suci, kitab suci dan kitab suci,”menggema dalam benakku dalam alunan paduan suara para malaikat yang tidak pernah saya tahu rupa

“Suara kitab suci begitu indah,”pikirku “menghibur saya dalam kesendirian mengalirkan menu-menu Kasih”.

Saya tidak hendak memikiran kita suci yang sangat tebal, yang tidak pernah dan tidak akan mungkin baca dari Kejadian hingga Wahyu tetapi tiba-tiba terlintas Kitab Suci ini hanya berisi satu pesan, yakni “Kasih” mengingat kembali apa yang  pernah saya pelajari sewaktu di seminari.

Ingatan membawa saya melihat wajah hotel sangat begitu telanjang. Wajah hotel menjadi dua. Pertama, hotel menjadi tempat menyalurkan kasih. Pemilik hingga pelayan menyalurkan kebaikan melalui pelayanan kasih dan senyum yang kadang sekedar menggoda tetapi itu sangat melegakan.

Kedua, hotel menjadi tempat tempat seksi dan orang merencanakan kejahatan. Hotel-hotel di seluruh dunia telah menjadi termpat orang merajut Kejahatan, perzinahan, pemerkosaan, pembunuhan hingga merencanakan pencurian harta karun milik bangsa-bangsa pribumi di belahan bumi.

Wajah hotel yang suci sekaligus yang kotor itu menyadarkan saya bahwa kehiduapan ini satu pertarungan antara yang baik dan buruk. Buruk bermusuhan dengan yang baik dan sebaliknya.

Saya menyadari pertarungan itu membuat saya mengerti apa arti  baik dan buruk. Kalau tidak ada pertarungan, saya tidak akan pernah tahu yang namanya yang baik dan buruk.

“Baik atau buruk sama-sama baik adanya tergantung saya menyadari apa yang saya pelajari dari pertarungan ini,”pikirku sambil memegang kitab suci. Saya memeluk kitab suci itu tetapi saya tidak pernah membuka kita suci.

Orang-orang lain masih asyik membaca kitab suci, menginginkan kita suci tetapi nampak pura-pura saja. Pura-pura menampilkan kebaikan dengan membawa kitab suci, rajin panjatkan doa-doa di lorong-lorong kamar hotel demi mencari keuntungan.

“Kalau anda butuh layanan khusus bisa hubunggi kami,”pesan petugas hotel melalui telepon.

“Brengsek, penipu, pura-pura baik. Saya tidak butuh pelayanan anda yang tidak tulus itu,”pintaku lalu menutup telepon dan membaringkan tubuh di kamar hotel itu, mengingat kisah 22 Augustus 2014 di Vitilevu. (Mawel)

Tags:
Editor : Syam Terrajana
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  KITAB SUCI HOTEL