ORANG PANTAI DAN ORANG GUNUNG DI PAPUA SUDAH LAMA HIDUP RUKUN

share on:
Kabag Operasional Polres Keerom saat mengarahkan aparat gabungan untuk patroli ke empat titik (Jubi/Indrayadi TH)
Kabag Operasional Polres Keerom saat mengarahkan aparat gabungan untuk patroli ke empat titik (Jubi/Indrayadi TH)

Jayapura, 10/9 (Jubi) – Kepala Dinas Sosial dan Pemukiman Papua, Ribka Haluk meminta  masyarakat Pegunungan,  tidak terprovokasi dengan adanya pernyataan Ketua Dewan Adat Kabupaten Keerom, Herman Yoku soal oknum warga yang tak jelas di kabupaten itu, agar meninggalkan daerah itu.

“Saya harap masyarakat Pegunungan Papua tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang dapat membuat konflik sosial di tengah-tengah masyarakat, khususnya Kabupaten Keerom,” kata Ribka Haluk kepada wartawan, di Jayapura, papua, Rabu (10/9).

Menurut Ribka, sebagai warga Negara Indonesia, masyarakat Pegunungan mempunyai hak untuk tinggal dimana saja, dan perlu dingat, selama ini masyarakat Papua dari pesisir pantai hidup bertahun-tahun di daerah gunung,  makan dan hidup bersama masyarakat Pegunungan, banyak banyak pejabat dari pantai yang sukses ketika bertugas di wilayah gunung.

Lanjutnya, sebagai contoh, Bupati Puncak Jaya, Henok Ibo bertahun-tahun bertugas di sana, dan orang gunung tidak pernah usir beliau untuk kembali ke Sentani.

“Jadi, selaku tokoh perempuan Papua dari gunung, saya ingin tegaskan, orang gunung juga bisa tinggal dimana saja, karena itu hak sebagai warga Negara. Saya melihat pernyataan ketua dewan adat keerom keliru, dan bisa membuat konflik sosial di tengah-tengah masyarakat Papua, sebagai orang tua adat, kami harap tidak membuat situasi menjadi ribut, tetapi bagaimana kita mencari solusi untuk menyelesaikan masalah,” tukasnya.

Sebelumnya. Ketua Dewan Adat Keerom (DAK), Herman Yoku mengatakan, saat ini pihaknya sedang membuat surat kesepakatan antara masyarakat asli Keerom dengan seluruh paguyuban yang ada di Kabupaten Keerom soal oknum warga yang tak jelas di kabupaten itu, agar meninggalkan daerah itu. “Sebab mereka selalu melakukan tindakan kriminal yang merugikan warga setempat,” kata Yoku.

Menurut Yoku, surat kesepakatan ini sedang dibuat pada Sabtu (6/9) lalu. “Sehingga pada Minggu (10/9) sudah beredar di masyarakat yang akan saya tandatangani. Juga akan diberikan kepada pemerintah daerah setempat serta pihak keamanan,” tukasnya.

Menurut Yoku, pelaku pembunuhan telah diketahui gerak-geriknya oleh dirinya. Lantaran, pelaku bertetangga dengannya di Jalan Anggrek. “Kami sama-sama satu jalur, dia (pelaku) bukan warga Keerom, muncul baru satu bulan ini. Malam sebelum kejadian pelaku hendak memperkosa salah satu gadis di Jalan Anggrek yang saya juga tinggal,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Keerom, Ajun Komisaris Besar (Pol) Pasero menuturkan, pihaknya terus melakukan patroli ke sejumlah titik yang dianggap rawan. “Anggota kami terus lakukan siaga, selain itu warga juga turut melakukan penjagaan di lokasi mereka masing-masing, ” kata Pasero.

Hingga kini pihaknya juga masih melakukan pendalaman terhadap kasus itu. Menurut Pasero, pelaku dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan. “Kami masih mendalami apakah ini ada unsur lainnya atau tidak,” ujarnya. (Jubi/Alex)

Editor : Syam Terrajana
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  ORANG PANTAI DAN ORANG GUNUNG DI PAPUA SUDAH LAMA HIDUP RUKUN