UNIKNYA PASAR TRADISIONAL 50-150 RIBU

share on:
Salah satu pengunjung membeli Gurita dengan harga Rp 150 ribu di pasar tujuh jam di jembatan Hanyaan, Entrop, Distrik Jayapura Selatan (Jubi/Indrayadi TH)
Salah satu pengunjung membeli Gurita dengan harga Rp 150 ribu di pasar tujuh jam di jembatan Hanyaan, Entrop, Distrik Jayapura Selatan (Jubi/Indrayadi TH)

Jayapura, 10/9 (Jubi) – Pasar Rp 50 ribu dan Rp 150 ribu, menjadi persinggahan para pengguna jalan raya yang melintasi jembatan kali Hanyaan, Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura. Pasar ini memang beda.

Di pasar tradisonal ini, antara lain menjajakan Bia atau kerang bakau. Pasar ini buka di sore hari sekitar pukul 15.00 waktu Papua dan tutup jika toko atau supermarket juga tutup, yakni pada pukul 22.00 waktu Papua.

Menariknya, harga yang ditawarkan tidak seperti pasar lainnya. Ikan segar yang terpampang di meja jualan mereka ini antara lain ikan batu, julung, mubara, tengiri, garopa, daun tebu atau layur, cumi-cumi, gurita, kepiting dan bia atau kerang bakau.

Kisaran harganya pun sesuai ukuran jenis ikannya. Seperti ikan jenis Gurita berukuran kecil di jual dengan harga Rp 50 ribu, ukuran sedang Rp 100 ribu sedangkan yang ukuran besar dijual dengan harga Rp 150 ribu.

Di sini harganya tidak sama dengan pasar di Hamadi, yang menjual sesuai berdasarkan mudah tidaknya mendapat ikan. Kami menjual ikan tidak mengikuti harga yang ada, karena dari dulu sampai sekarang kami jual sesuai dengan ukuran. Ikan kami ini masih segar-segar, tidak diawetkan dengan es batu,” kata mama Teris Hay dari kampung Tobati yang mulai berjualan sejak tahun 2006.

Mayoritas pedagang di pasar tradisional ini, berdomisili dari di sepanjang kali Hanyaan, ada juga dari kampung Enggros dan Tobati. Pedagang di pasar tradisional itu tidak menentu, tidak semuanya menjual setiap hari. Tapi, dikatakan perempuan berumur 46 ini, mereka saling merangkul demi menjajakan hasil jerih payah mereka dari laut.

Kalau ia hari ini tidak menjual, tempat jualannya digunakan pedagang lain, yang satu kampung dengannya ataupun kampung tetangga di Enggros. Mama jualan di sini tidak menentu kadang seminggu tiga kali, tergantung pencarian mama di laut, kalau dapat banyak yang dijual. Kalau dapat sedikit untuk makanan sehari-hari,” kata mama yang telah memiliki dua cucu itu.

Dari hasil jualan ini, perempuan yang juga Ketua RT 03 RW 01 Tobati itu mengaku bisa menghidupi keluarganya hingga sekarang. “Kami jualan hasil laut di sini untuk keperluan sekolah anak-anak kami, kalau tidak laku ya kami berikan kepada keluarga-keluarga yang sedang lewat pasar ini,” kata mama Hay.

Ia juga mengeluhkan, saat hujan melanda kota Jayapura, dirinya bersama mama-mama lainnya harus berjualan basah kuyup. “Kami hanya bias membuat meja untuk menaruh jualan kami, tidak ada atap. Tenda yang ada ini kebetulan ada masyarakat yang Bantu kami untuk di gunakan,” keluhnya.

Tempat bertemunya penjual dan pembeli ini, tidak hanya menjual hasil laut. Beberapa mama-mama juga juga menjual roti bakar buatan tangan mereka dengan kisaran harga dimulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu. “Biasa saya juga jual kue donat dan ubi goring, harganya seribu rupiah,” ungkap seorang mama yang sedang mengatur jualannya di pinggir jalan itu.

Pasar tradisional selama ini kebanyakan terkesan kumuh, kotor, semberawut, bau dan seterusnya, menimbulkan stigma buruk yang dimiliki pasar itu. Namun, pasar tradisonal yang nantinya akan kunjungi ini, sangat jauh berbeda, kebersihan dan kerapian tetap mereka jaga untuk menarik perhatian pembeli.

Sayangnya, pasar tradisonal tersebut berlokasi persis di samping ruas jalan protokol, tidak jarang para pedagang-pedagang asli Papua ini menjadi korban laka lantas. “Dua bulan lalu ada mobil langsung tabrak dagangan kami semua, tapi tidak ada yang jadi korban. Hanya Dagangan kami sudah pasti tidak bisa di jual,” keluh mama Bonay yang sudah berjualan di lokasi tersebut sejak tahun 1996 hingga saat ini.

Saat ditanya pindah ke tempat yang telah disediakan seperti tradisonal di Ex Peenerangan jalan percetakan. Mama-mama ini dengan tegas tidak akan pindah dari lokasi yang telah menjadi pencarian hidupnya selama ini dan kalau pindah ke Hamadi atau ke Ex Perecetakan, temapt untuk mereka sudah tidak ada.

Kalau di suruh pindah ke sana, siapa yang mau. Saya dari kampung Enggros ke sini saja sudah habiskan Rp 40 ribu untuk naik ojek perahu, belum lagi kalau hasil laut kami banyak, terpaksa sewa mobil lagi. Terus, kalau mau ke pasar percetakan, kami tidak sanggup soal biaya angkutnya,” kata mama yang sehari-hari hidupnya di laut mencari ikan itu.

Ketua RT 04 RW 13 jalan Hanyaan, Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Dance Nuboba, setiap sorenya warga yang mayoritas nelayan ini menjual ikannya di pasar Hanyaan yang biasa disebut pasar 50 dan 150 ribu. Kedepan, ia ingin ada pasar di tepatnya di samping jembatan, khusus mama-mama yang ada di kampungnya ataupun mama-mama yang ada di kampung Tobati dan Enggros.

Yang mama-mama jual itu semua ikan segar, yang kecil Rp 50 ribu ada juga yang sampai Rp 150 ribu. Banyak orang yang beli, ada juaga yang beli kayu ranting-ranting pohon bakau yang sudah kering, biasa orang beli saat ada acara,” kata Dance.

Di pasar itu, kata Dance tidak ada pengelola pasar. Aktivitas itu sudah turun temurun sejak tahun sembilan puluhan lalu. Semoga ke depan pasar itu bias dilirik pemerintah Kota Jayapura. “Kalau kita lihat, tidak ada tanda apa-apa kalau itu di bilang pasar, tapi itu mulai berkembang dan sampai saat ini banyak sebut itu adalah pasar tujuh jam, pasar 50-100, pasar jam tiga sore,” ujarnya. (Jubi/Indrayadi TH)

 

Editor : Syam Terrajana
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  UNIKNYA PASAR TRADISIONAL 50-150 RIBU